Senyap! AS Bangun Pusat Komando di Darwin Australia

Australian Broadcasting Corporation (ABC) mengungkap kelanjutan rencana militer Amerika Serikat (AS) membangun pusat komando di kota Darwin, utara Australia. Pembangunan “Fasilitas Operasi Skuadron” ini disebutkan terjadi secara diam-diam karena tidak pernah dipublikasikan oleh pemerintahan Partai Buruh dan tidak pernah dibahas oleh parlemen Australia. ABC justru mendapatkan informasi ini dari dokumen anggaran AS.

Dalam dokumen tender tersebut dinyatakan bahwa fasilitas militer ini digunakan untuk perawatan, perencanaan misi, intelejen dan briefing pasukan, dengan anggaran sebesar 26 juta dolar AS.

Sebuah analisis menyebutkan bahwa informasi tentang pemanfaatan fasilitas tersebut telah mencakup hampir keseluruhan aktivitas militer yang dibutuhkan, termasuk untuk melancarkan operasi melawan negara lain. Ini mengindikasikan peran sentral Australia dalam operasi militer yang lebih agresif secara langsung terhadap Tiongkok.

Darwin, kota yang relatif dekat dengan beberapa pulau terluar Indonesia di Provinsi Maluku dan NTT, menjadi pusat kehadiran militer AS di Asia Pasifik. Menurut ABC, AS telah menganggarkan 630 juta dolar anggaran militer di Australia utara selama dua sampai tiga tahun terakhir.   

Di tahun 2011, pemerintahan Gillard dari Partai Buruh membuka “jalan ke Asia”, termasuk membangun fasilitas militer untuk perang melawan Tiongkok yang dianggap sebagai ancaman terhadap hegemoni imperialisme AS. Sampai tahap itu telah dibangun basis marinir AS dengan jumlah 2.500 pasukan.

Dokumen tersebut juga mengungkap AS juga membangun sebuah pelataran pesawat di Darwin senilai 258 juta dolar AS. Selain itu juga dianggarkan 270 juta dolar AS untuk membangun 11 tanki raksasa untuk penyimpanan bahan bakar dekat pelabuhan utama Darwin.

AS juga berencana membangun fasilitas permanen di Tidal, terletak di selatan Darwin, untuk mendukung beroperasi sedikitnya enam pesawat pembom B-52 yang dapat membawa senjata nuklir.

Di medan Indo-Pasifik peperangan lautan akan menjadi pusat konflik dengan dukungan angkatan udara dan rudal. Skenario tersebut menempatkan Australia sebagai “jangkar selatan”, atau menjadi pusat bagi penempatan infrastruktur serta persenjataan AS dan sekutu.

Pembangunan kekuatan militer AS di Australia ini telah diumumkan sebagai bagian dari implementasi pakta pertahanan AUKUS yang beranggotakan Inggris, AS, dan Australia. Keberadaan AUKUS diprotes oleh sejumlah negara tetangga yang menggap Australia telah mengambil sikap sepihak dalam menggiring kawasan ke dalam ancaman keamanan dan persaingan persenjataan.

(Dom)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid