Sekolah-Sekolah Alternatif Zaman Hindia-Belanda

Sejak 1870, demi mengakomodasi kepentingan kaum liberal dan kapitalis swasta di negerinya, kolonialisme Belanda memulai jalan baru di Hindia-Belanda: liberalisasi. 

Sejak itu, ekonomi Hindia-Belanda berkembang pesat. Ada kebutuhan tenaga kerja baru. Situasi inilah yang mendorong Belanda untuk mendirikan sekolah di Hindia-Belanda. Puncaknya: politik etis, pada 1901.

Seiring dengan perkembangan ekonomi dan birokrasi yang semakin kompleks, pemerintah Hindia Belanda sangat membutuhkan tenaga kerja terampil dan semakin banyak birokrat (ambtenaar). 

Hingga awal abad ke-20, sekolah-sekolah mulai menjamur di Hindia-Belanda. Namun, selain penyelenggaraan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan birokrat, ada penyakit lain yang menggerogoti pendidikan Hindia-Belanda kala itu: diskriminasi.

Semisal, ada perbedaan jalur sekolah bagi Eropa totok dan bumiputera. Semua anak Belanda dan Eropa lainnya bersekolah Europeesche Lagere School (ELS), sedangkan bumiputera hanya bisa memasuki Hollandsche Inlandsche School (HIS).

Oiya, sebagai antitesa terhadap orientasi pendidikan pemerintah Hindia-Belanda yang kolonialistik dan diskriminatif, ada banyak berdiri sekolah-sekolah yang didirikan oleh bumiputera. Tak sedikit juga yang menawarkan model pendidikan alternatif.

Namun, tumbuh suburnya sekolah swasta dan alternatif itu mengusik pemerintah Hindia-Belanda. Hingga, pada 1932, pemerintah Hindia-Belanda membuat aturan baru: Wildeschoolen Ordonantie atau Ordonansi Sekolah Liar.  

Lewat aturan itu, semua sekolah wajib mendapat izin dan terdaftar oleh pemerintah. Sekolah yang tak mendapat izin tak akan mendapat bantuan, bahkan bisa dicabut izinnya jika dianggap melanggar hukum.

Berikut ini adalah sekolah-sekolah alternatif di zaman Hindia-Belanda.

Taman Siswa

Perguruan Taman Siswa atau Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa merupakan sekolah alternatif yang didirikan oleh  Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922, di Yogyakarta.

Taman Siswa bersifat inklusif. Anak didiknya diajarkan untuk saling menghargai, setara, berdikari, dan berpikir merdeka. Taman Siswa menekankan nilai demokrasi, kemanusiaan, dan nasionalisme. 

Dalam pembelajaran, salah satu metode yang diperkenalkan oleh Taman Siswa adalah sistem among. Metode ini menekankan persuasi dan kemerdekaan berpikir, bukan paksaan dan dikte. Tugas guru atau pamong adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan anak mengembangkan potensi atau kodratnya.

INS Kayutanam

Indonesisch-Nederlandsche School (INS) Kayutanam merupakan sekolah alternatif yang didirikan oleh Mohammad Sjafei di Kayutanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 31 Oktober 1926.

Mohammad Sjafei dikenal sebagai tokoh pendidikan dan aktivis Insulinde. INS Kayutanam menekankan praktek yang berguna bagi rakyat. Menurut Sjafei, pendidikan yang mengedepankan keterampilan akan membentuk karakter mandiri dan merdeka siswa. Mereka tak perlu menggantungkan hidupnya pada pihak atau orang lain.

Semboyan sekolah ini: “Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat dan yang saya perbuat saya tahu.”

Ksatrian Instituut

Ksatrian Instituut merupakan sekolah alternatif yang didirikan oleh Ernest Douwes Dekker atau  Danudirja Setiabudi pada bulan November 1924 di Bandung, Jawa Barat.

Ksatriaan Instituut bersifat inklusif dan menekankan pembentukan karakter peserta didik. Sekolah ini juga menekankan rasa percaya diri dan kemanusiaan. Sekolah ini menerbitkan majalah murid dan orang tua, De Ksatria.

Sekolah Ra’jat

Serikat Islam School, disingkat SI School, merupakan sekolah alternatif yang didirikan oleh Tan Malaka di Semarang, pada 21 Juni 1921. Sekolah ini juga sering disebut Sekolah Ra’jat.

Sekolah ini tidak mencari keuntungan. Misinya untuk menanamkan rasa mardika (merdeka), berdemokrasi, dan mencintai rakyat biasa (kaum kromo). Murid-murid SI School diajak menyaksikan rapat-rapat umum (vergadering) agar tahu nasib rakyat jelata.

Dalam menyusun kurikulum SI School, Tan Malaka berpegang pada tiga prinsip. Pertama, memberi pengetahuan dan keterampilan (berhitung, menulis, ilmu bumi, dll) agar siswa punya modal menghadapi dunia kerja. Kedua, pendidikan bergaul, berorganisasi, dan berdemokrasi untuk pengembangan diri dan kepercayaan diri. Ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah (kerakyatan).

Sumatera Thawalib

Sumatera Thawalib bermula gerakan islam-reformis yang dimotori oleh ulama, seperti  Haji Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), dan Zainuddin Labay El Yunusy.

Bermula dari Surau Jembatan Besi, Sumatera Thawalib menyelenggarakan pendidikan modern: ada ruang kelas, bangku, meja, dan kurikulum. Pada 1920-an, sekolah ini melahirkan aktivis-aktivis radikal penentang kolonialisme, seperti Djamaluddin Tamin, Datuk Batuah, dan Rasuna Said.

Muhammadiyah

Pada 1911, Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan sekolah alternatif bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Sekolah ini kemudian diubah menjadi al-Qism al-Arqa (Qismul Arqa) pada 1918, lalu menjadi Pondok Muhammadiyah pada 1921.

Persyarikatan Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, memayungi sekolah-sekolah yang dibangun oleh Muhammadiyah. Dari 1913 hingga 1918, Muhammadiyah mendirikan 5 sekolah, termasuk sekolah menengah dan guru.

Sakola Istri

Sakola Istri, kelak berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri, didirikan oleh Dewi Sartika pada 16 Januari 1904, di Bandung, Jawa Barat.

Sekolah ini memperjuangkan keadilan gender dalam pendidikan. Sekolah ini memberi pengetahuan membaca, menulis, berhitung, membatik, dan lain-lain. Sekolah ini tidak membedakan antara anak bangsawan dan rakyat jelata.

Waktu pertama kali dibuka, sekolah ini hanya punya 20 murid dan tiga orang pengajar. Namun, setahun kemudian, jumlah siswa meningkat berkali-kali lipat. Pada 1910, bangunan sekolah diperluas untuk menampung tambahan siswa.

RINI MARDIKA

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid