Relawan Prabowo: Hati-Hati Jebakan Betmen Bank Dunia

Medan, Berdikari Online – Bank Dunia memberikan catatan kritis soal program makan bergizi gratis pada siswa yang akan dijalankan Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Gibran.

Menurut Bank Dunia, program makan gratis di sekolah tidak efektif mengatasi stunting. Pasalnya, stunting hanya dapat dicegah dalam periode 1.000 hari dari awal kandungan. Meski begitu, program ini disebut bisa mengantisipasi gejala anemia pada anak.

“Makanan di sekolah mungkin berdampak pada keragaman pola makan dan anemia pada anak-anak yang bersekolah, meskipun hal ini bergantung pada komoditas spesifik yang ditawarkan,” tulis laporan terbaru Bank Dunia yang bertajuk Indonesia Economic Prospect edisi Juni 2024.

Relawan Prabowo-Gibran Muhammad Ikhyar Velayati mengingatkan pemerintahan Prabowo-Gibran agar hati-hati dengan masukan, kritikan maupun tekanan yang dilakukan lembaga Bank Dunia terkait program prioritas makan bergizi gratis bagi siswa-siswi yang akan dijalankan mulai tahun 2025.

“Hati-hati masukan dan kritikan dari Bank Dunia ini, jangan sampai kita masuk dalam jebakan Betmen, begitu kita (Indonesia) ikut saran mereka, justru Bank Dunia yang untung sementara ekonomi lokal malah buntung,” ungkap Ketua Umum Relawan Persatuan Nasional Muhammad Ikhyar Velayati di Medan, Sabtu (29/6/2024).

Kritikan Bank Dunia tersebut menurut Aktivis 98 ini, tidak tulus dan bertujuan untuk kepentingan mereka semata, tanpa memikirkan kepentingan ekonomi nasional.

“Program makan bergizi gratis bagi siswa ini dijalankan bukan semata mata agar terjadi peningkatan kwalitas kesehatan generasi muda Indonesia, tetapi sekaligus diharapkan memberi efek rambatan bagi banyak sektor usaha, mulai dari sayuran, daging, beras, transportasi dan lainnya, dan tentu saja ini akan menghidupkan bisnis UMKM serta perbaikan sistem distribusi dan logistik barang Indonesia, ini yang membuat kecewa Bank Dunia serta investor asing,” tegas Ikhyar.

Ikhyar mengatakan Bank Dunia ingin agar Indonesia tidak memonopoli pembiayaan dan melibatkan perusahaan asing terlibat dalam implementasi program ini sesuai dengan prinsip neoliberalisme yang dianut oleh Bank Dunia.

“Sebenarnya sederhana maunya Bank Dunia, mereka ingin dilibatkan dalam pembiayaan dan memasok kebutuhan logistik (import) untuk program ini, selain tergambar keuntungannya besar, program ini juga berkelanjutan selama 5 tahun, tapi mereka tidak bisa terlibat karena sedari awal Presiden Prabowo secara tegas mengatakan mengatakan bahwa dana maupun logistik nantinya berasal dari APBN dan sektor UMKM,” tutur Ikhyar.

Ikhyar menambahkan,”Dari pengalaman kita dan banyak negara, kerjasama dengan Bank Dunia justru membuat banyak negara bangkrut serta kembali didikte oleh negara maju, khususnya Amerika yang punya pengaruh besar di Bank Dunia,” kata Ikhyar.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa anggaran makan bergizi gratis sebesar Rp 71 triliun untuk tahun 2025, akan masuk ke pencadangan dalam anggaran Bendahara Umum Negara (BUN). Menurut Sri Mulyani alasan program tersebut dimasukkan dalam dana cadangan BUN lantaran belum memiliki deskripsi alokasi anggaran.

“Untuk desain program, penjelasannya, dan bagaimana eksekusinya itu tim dari tempat Pak Prabowo menjelaskan. Bagaimana kalau itu belum masuk postur? ya kita cadangkan, bisa saja di dalam BUN,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers terkait Kondisi Fundamental Ekonomi Terkini dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, Senin (24/6).

(Amir) 

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid