Percobaan Kudeta ala Trumpisme di Brazil

Ribuan pendukung Jair Bolsonaro, mantan Presiden Brazil (2019-2022) yang kalah di Pemilu bulan Oktober lalu, menyerbu Istana Kepresidenan Brazil Palácio do Planalto, di kota Brazilia, Minggu (8/1/2023).

Para perusuh, yang sebagian besar mengenakan warna kuning dan hijau, juga menyerbu gedung Kongres dan kantor Mahkamah Agung Brazil.

“Apa yang kita saksikan adalah serangan teroris. Tiga gedung itu telah diserbu oleh teroris yang mau melakukan kudeta,” kata pembaca berita GloboNews, Erick Bang, seperti dikutip Guardian, Minggu (8/1).

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan massa penyerbu merangsek ke kantor Presiden nyaris tanpa upaya penghadangan oleh aparat keamanan. Bahkan ada video yang menunjukkan polisi berkuda hanya ikut berswa-foto dengan perusuh.

Di dalam kantor Presiden, massa perusuh merusak banyak furnitur istana, menghancurkan kaca, dan melakukan penjarahan. Hal serupa juga terjadi di gedung Kongres dan Mahkamah Agung.

Penyerbuan itu terjadi hanya seminggu setelah pelantikan Lula da Silva sebagai Presiden Brazil. Lula, seorang aktivis gerakan buruh dan pendiri Partai Buruh (PT), memenangkan pemilu presiden Brazil pada Oktober 2022 lalu.

Serangan Teroris Fasis

Saat penyerbuan terjadi, Presiden Lula sedang tidak berada di tempat. Dia sedang berada di Araraquara, São Paulo, untuk melihat warga yang terdampak bencana di wilayah itu.

“Para penjahat, yang bisa kita sebut nazi fanatik, fanatik fasis, telah melakukan apa yang belum pernah dilakukan dalam sejarah negara kita,” kata Lula saat merespon kejadian itu.

Dia berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal kepada para perusuh, termasuk para pihak di belakang layar yang mendanai aksi kerusuhan itu.

“Mereka semua akan dihukum. Dan kita akan mencari tahu siapa penyandang dana dari para perusuh ini,” kata Lula, seperti dikutip Financial Times, Senin (9/1/2023).

Presiden Lula juga menyayangkan kurangnya standar pengamanan sehingga para perusuh bisa terlihat bebas untuk melakukan aksi vandalisme.

Ia pun mengumumkan pelibatan aparat keamanan federal untuk membantu pengamanan ibukota hingga 31 Januari 2023.

Playbook Trumpisme

Penyerbuan Istana Kepresidenan, gedung Kongres, dan Mahkamah Agung di Brazil mengingatkan kita pada kejadian yang mirip pada 6 Januari 2021: penyerbuan gedung Kapitol di AS oleh massa pendukung Donald Trump.

Untuk diketahui, selain berkawan erat, Trump dan Bolsonaro punya kemiripan secara politik. Bolsonaro adalah bekas tentara yang berjiwa nasionalis chauvinis, demagog, dan bermulut seksis (suka merendahkan perempuan).

Jair Bolsonaro sendiri sudah mengeluarkan pernyataan yang intinya menolak dikaitkan dengan aksi pendukungnya, meskipun twitnya menyatakan mendukung aksi demonstasi sebagai hal yang dijamin oleh Undang-Undang dan sah dalam negara demokratis.

“Saya menolak tuduhan, yang tanpa bukti, dialamatkan ke saya oleh kepala pemerintahan di Brazil sekarang ini,” katanya.

Bolsonaro, yang pindah ke Florida, Amerika Serikat, sejak 30 Desember lalu, tidak mau menerima hasil pemilu putaran kedua pada 30 Oktober 2022 lalu.

Dalam pemilu itu, Lula menang tipis sebesar 60,3 juta suara (50.90 persen), sedangkan Bolsonaro mendapat 58,2 juta suara (49,10 persen). Selisihnya sangat tipis: hanya 2,1 juta suara atau 1,8 persen.

Sejak itulah Bolsonaro terus meniupkan isu kecurangan pemilu ke tempurung kepala para pendukungnya, yang memang terkenal fanatik dan gampang mengunyah informasi palsu.

Dia menuding mesin suara eletronik (e-voting), yang mulai dipergunakan sejak pemilu 1996, banyak yang bermasalah dan tidak terbuka. Dia pun menyerukan audit terhadap hasil pemungutan suara.

Tetapi penyelenggara pemilu dan Mahkamah Pemilu Brazil membantah tuduhan itu. Bahkan, pada 9 November 2022, angkatan bersenjata Brazil turut angkat suara. Dalam laporan setebal 63 halaman, Kementerian Pertahanan mengklaim tidak menemukan pencernaan.

Namun, bagi sayap kanan fasis, soalnya bukan soal isu itu akurat atau tidak, tapi soal bagaimana isu itu bisa dipercaya. Dan fanatisme, ditambah dengan teori konspirasi, sangat mudah mengunyah tuduhan itu.

Bolsonaro pun mulai menggalang kekuatan untuk mendeligitimasi hasil pemilu. Hari pengumuman pemilu, 30 Oktober 2022, dia langsung mengirim massa pendukungnya ke basis dan markas militer. Ia dan pendukungnya mengajak militer untuk mencegah Lula dilantik sebagai Presiden.

Sehari setelah pemilu, pendukung Bolsonaro menggunakan truk untuk memblokir jalan-jalan. Bolsonaro juga menggerakkan pendukungnya ke jalan-jalan.

Pada 13 Desember 2022, pendukung militan Bolsonaro menyerbu kantor polisi federal di Brazilia. Mereka juga membakar bus dan mobil di jalan untuk memancing kerusuhan massal.

Pada 26 Desember 2022, seorang pendukung Bolsonaro ditangkap polisi. Ia berusaha meledakkan sebuah bom berdaya ledak tinggi, yang dipasang di mobil tangki pembawa bahan bakar, untuk diledakkan di dekat bandara.

George Washington de Oliveira Sousa, perencana serangan bom itu, berharap ledakan bom di dekat bandara akan memicu kekacauan, sehingga bisa menjadi dalih untuk memanggil militer untuk mengambilalih keadaan.

Bahaya Bolsonarismo

Bolsonaro sudah kalah di Pemilu, dan perlawanannya mungkin tak akan berhasil menganulir hasil pemilu, namun arus sosial yang pernah melambungkannya tidak akan langsung lenyap.

Fenomena yang sama kita temukan di AS. Meski sudah kalah di Pemilu, bahkan upaya kudetanya gagal, tetapi arus politik Trumpisme tidak surut. Dia terus mengganggu pemerintahan terpilih hingga sekarang.

Kita tahu, bolsonarismo melambung pada pemilu 2018, ketika popularitas partai buruh sedang ambruk akibat isu korupsi dan krisis ekonomi kala itu. Saat itu, Bolsonaro berkampanye untuk memerangi korupsi.

Dia memanfaatkan ketidakpercayaan rakyat Brazil terhadap institusi politik, sembari menawarkan konservatisme, dalam hal ini agama dan penguatan nilai-nilai keluarga, sebagai jalan keluarnya.

Tidak jarang, Bolsonaro mengajak rakyat Brazil menengok ke belakang ke masa kelam Brazil: kediktatoran militer (1964-1985). Dia berhasil menyatukan pendukungnya dari tentara, sipil, dan agamawan di bawah sentimen anti-komunis.

Jangan lupa, hampir separuh pemilih Brazil adalah pemilih Bolsonaro. Setidaknya orang-orang itu terpengaruh preferensi politiknya oleh Bolsonarismo. Dalam situasi politik Brazil yang sangat terpolarisasi, sikap politik kedua kubu cenderung mengeras dan sulit bergeser dalam waktu yang singkat.

Jangan lupa juga, partainya Bolsonaro dan aliansinya masih mendominasi Kongres dan Senat. Sejumlah negara bagian juga masih di bawah kendali Bolsonarismo.

Tarcisio de Freitas, yang terlibat aksi motor-motoran bersama Bolsonaro, adalah gubernur Sao Paulo, negara bagian terbesar dan terpadat penduduknya di Brazil.

Ibaneis Rocha, gubernur Brasilia, ibukota Brazil, juga pendukung Bolsonaro. Pasca penyerbuan dua hari lalu dia diberhentikan sementara selama 90 hari karena diduga terlibat atau memfasilitasi aksi tersebut.

Boleh jadi, untuk sementara Bolsonaro kalah, apalagi hampir semua pemimpin dunia mengutuk aksi pendukungnya, tetapi arus sosial dan politik yang menjadi basis politiknya masih tetap ada dan cukup kuat. Dan ini akan menjadi tantangan bagi pemerintahan progresif Lula da Silva selama 4 tahun ke depan.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid