Pandemi Covid-19 dan Dualisme Sains

Sudah jelas bahwa sains sangat penting dalam memerangi pandemi covid-19.

Kita perlu tentang bagaimana virus ini menyebar dan tindakan pencegahannya yang efektif. Kita perlu memperkirakan jumlah kasus agar bisa mengatur perencanaan perawatan orang yang sakit. Kita perlu mengetahui struktur molekuler virus untuk merancang tesnya dan pengembangan vaksinnya.

Tidak satu pun dari hal-hal di atas yang dapat dilakukan tanpa pengamatan/observasi yang hati-hati, melakukan percobaan, mengumpulkan bukti, dan penggunaan logika deduktif dan induktif. Itulah bangunan dasar dari sains.

Pada saat yang sama, pandemi menyingkap watak politik dari sains. Covid-19 menunjukkan bagaimana sains dikontrol, dibingkai (framing), dan dieksploitasi dengan cara-cara yang bertentangan dengan kepentingan rakyat dan kesehatan publik.

Lebih dari dua dekade yang lalu, Professor Richard Levins, salah seorang pendiri Science for People (Sains untuk Rakyat), menggambarkan fenomena di atas sebagai bentuk dari dualisme ilmu pengetahuan[1].

Di satu sisi, penyeledikan ilmiah berhasil menyingkap kebenaran dari sebuah realitas yang material, yang tidak bergantung pada ideologi maupun politik. Di sisi lain, praktik sains adalah upaya manusia yang berkelindan di dalam sistem sosial dan politik yang menentukan subjek apa yang diteliti, mengapa diteliti, siapa yang meneliti, dan digunakan untuk apa.

Di luar itu, ideologi dominan dari sistem politik mempengaruhi bagaimana hasil penyelidikan ilmiah dibingkai, dikonseptualisasikan, dan dikomunikasikan. Karena itu, kita tidak bisa melihat sains sebagai sesuatu yang objektif, yang tunduk pada kepentingan publik.

Pengaruh politik pada sains di Amerika benar-benar telah melemahkan respon terhadap pandemi dalam beberapa hal:

Satu, program penelitian kesehatan dan obat-obatan di AS sangat berorientasi pada pengembangan obat dan diagnosis penyakit kronis—sebuah ranah yang paling disukai oleh perusahaan pemburu laba[2].

Meskipun banyak peringatan tentang kerentanan AS terhadap pandemi, bahkan sebelum pandemi covid-19 datang, penelitian tentang pandemi bukanlah prioritas utama dalam penelitian kesehatan dan obat-obatan di AS[3].

Dengan keterbatasan persiapan ilmiah yang dilakukan, dalam dekade terakhir ini tampak minim sekali perhatian yang diberikan pada penelitian tentang bagaimana faktor determinan sosial kesehatan (social determinant) , seperti ras, kemiskinan, atau status sosial-ekonomi, sangat mempengaruhi kontrol dan dampak pandemi di kemudian hari.

Misalnya, pembaruan laporan Pandemic Influenza Plan tahun 2007, yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Manusia (HHS), menyinggung kesiapsiagaan infrastruktur ilmiah untuk menginformasikan praktek kesehatan masyarakat yang sehat, tetapi tidak menyinggung faktor determinan sosial di penelitiannya[4].

Kurangnya perhatian pada faktor determinan sosial dalam penelitian pandemi di AS berlanjut hingga masa-masa awal pandemi ini. Padahal, beberapa makalah yang terbit membahas soal faktor determinan sosial ini[5].

Akibatnya, banyak data yang relevan untuk menganalisa faktor ini tidak dikumpulkan. Sebagai contoh, pada 15 April, 78 persen data covid yang dilaporkan oleh Pusat Pencegahan dan Pengontrolan Wabah (CDC) tidak memisakhkan ras dan etnis. Padahal, itu salah satu faktor kunci untuk memahami pandemi[6].

Dua, ada upaya terang-terangan untuk menyembunyikan atau menyeleksi fakta ilmiah, mengabaikan panel ahli, dan mengecam atau mengancam ilmuwan yang pandangannya menolak status-quo.

Pada 2018, Presiden Donald Trump membubarkan Unit Antisipasi Pandemi di Dewan Keamanan Nasional—dibentuk tahun 2015 oleh Barack Obama[7].

Di awal pandemi, para ilmuwan dan pejabat kesehatan diberitahu bahwa apa pun yang mereka omongkan ke publik harus mendapat persetujuan Wakil Presiden Mike Pence[8].

Baru-baru ini, Dr Rick Bright dicopot dari jabatannya sebagai direktur yang memimpin dari sebuah lembaga federal yang menangani pandemi karena mengoreksi informasi palsu soal covid-19 yang dilontarkan oleh Presiden Trump[9].

Dalam kejadian-kejadian itu, pemerintah menutup informasi kesehatan publik yang penting kepada warga negara.

Ketiga, fakta tentang pandemi dibingkai (framing) untuk melayani kepentingan politik. Virus ini selalu digambarkan sebagai “serangan asing” dan kerap dinamai “virus Cina” untuk memenangkan politik xenophobia, mengalihkan perhatian warga terhadap kegagalan pemerintah mengatasi pandemi, dan pembenaran atas serangan terhadap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[10],[11].

Peran individu dalam menghadapi ditekankan, tetapi kebijakan atau peraturan yang memastikan tempat kerja yang aman diabaikan. Framing ini sering terjadi pada acara konferensi pers, di mana para pejabat pemerintah memutarbalikkan fakta untuk mengamankan agenda mereka. Mereka mengabaikan suara ilmuwan, ahli kesehatan masyarakat, dan aktivis yang mewakili populasi yang terpinggirkan.

Denial dan Psudo-Sains

Kombinasi dari pengabaian, penghambatan, dan distorsi terhadap penyelidikan ilmiah terkait pandemi adalah penyangkalan terhadap fakta ilmiah. Hal yang sama juga terjadi pada isu perubahan iklim[12].

Ada teori konspirasi tentang asal-mula pandemi, menganggap langkah-langkah kesehatan masyarakat (jaga jarak, penggunaan masker, dll) sebagai hal berbahaya dan harus diabaikan, dan resep-resep non-medis.[13]

Teori-teori ini, yang digembar-gemborkan oleh kelompok kanan hingga Presiden AS[14], membingungkan dan memecah-belah masyarakat, sehingga melemahkan kemampuan mereka untuk bersatu menuntut kebijakan kesehatan yang layak untuk menghadapi pandemi.

Kesimpulan

Sains adalah alat terpenting untuk mengendalikan penyebaran dan dampak pandemi covid-19. Tetapi efektivitas alat ini bisa tumpul oleh politisasi ilmu pengetahuan dan kampanye pseudo-sains.

Kita perlu mengingat pesan Professor Levins tentang dualisme sains. Di satu sisi, kita harus memerangi segala upaya menjadi sains hanya untuk melayani politik mereka yang berkuasa. Di sisi lain, kita harus membela dan menyebarluaskan informasi sains yang valid/teruji sebagai senjata menghadapi pandemi.

FRANK ROSENTHAL, pengajar di Purdue University dan salah satu penggiat “Science for People” sejak tahun 1970-an. Bisa dihubungi di: [email protected]

Artikel ini diterjemahkan dari sumber aslinya di: Science for People .


[1] Richard Levins, “Ten Propositions on Science and Antiscience”, Social Text, no. 46/47, Science Wars (Spring – Summer, 1996): 101-11, doi: 10.2307/466847.

[2] David B Resnick, ”Setting Biomedical Research Priorities in the 21st Century”, Virtual Mentor, no. 5 (July, 2003): 211-214, doi: 10.1001/virtualmentor.2003.5.7.msoc1-0307.

[3] Uri Friedman, “We Were Warned”, The Atlantic, March 18, 2020, https://www.theatlantic.com/politics/archive/2020/03/pandemic-coronavirus-united-states-trump-cdc/608215/.

[4] U.S. Department of Health and Human Services, “Pandemic Influenza Plan 2017”, https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/pdf/pan-flu-report-2017v2.pdf.

[5] Saman Khalatbari-Soltani, Robert G. Cumming, Cyrelle Delpierre and Michelle Kelly-Irving, “Importance of collecting data on socioeconomic determinants from the early stage of the COVID-19 outbreak onwards”, Journal of Epidemiology and Community Health, no. 74 (May,2020): 620-623, doi: 10.1136/jech-2020-214297.

[6] Gregorio A. Millet, Austin T. Jones, David Benkesr, Stefan Baral, Lana Mercer, Chris Beyrer, Brian Honemmann et al., “Assessing differential impacts of COVID-19 on black communities”, Annals of Epidemiology, no. 47 (July 2020): 37-44, https://doi.org/10.1016/j.annepidem.2020.05.003.

[7] Lena H. Sun, “Top White House official in charge of pandemic response exits abruptly”, The Washington Post, May 10, 2018, https://www.washingtonpost.com/news/to-your-health/wp/2018/05/10/top-white-house-official-in-charge-of-pandemic-response-exits-abruptly/.

[8] Michaek D. Shear and Maggie Haberman, “Pence Will Control All Coronavirus Messaging from Health Officials“, New York Times, February 27, 2020, https://www.nytimes.com/2020/02/27/us/politics/us-coronavirus-pence.html.

[9] Laurel Wamsley, “Rick Bright, Top Vaccine Scientist Files Whistleblower Complaint”, NPR, May 5, 2020, https://www.npr.org/sections/coronavirus-live-updates/2020/05/05/850960344/rick-bright-former-top-vaccine-scientist-files-whistleblower-complaint.

[10] Brian Bennett, “Why President Trump Wants to Frame COVID-19 as a ‘Foreign Virus’”, Time, March 12, 2020, https://time.com/5801628/donald-trump-coronavirus-foreign/.

[11] Anne Gearan, “Trump Announces Cutoff of New Funding Over World Health Organization Pandemic Response”, Washington Post, April 14, 2020, https://www.washingtonpost.com/politics/trump-announces-cutoff-of-new-funding-for-the-world-health-organization-over-pandemic-response/2020/04/14/f1df101e-7e9f-11ea-a3ee-13e1ae0a3571_story.html.

[12] Dana Nucitelli, “Coronavirus doubters follow climate denial playbook”, Yale Climate Connections, April 14, 2020, https://www.yaleclimateconnections.org/2020/04/coronavirus-doubters-follow-climate-denial-playbook/.

[13] Jon Alsop, “The many coronavirus conspiracy theories:, Columbia Journalism Review, May 15, 2020, https://www.cjr.org/the_media_today/coronavirus_conspiracy_theories_plandemic.php.

[14] “Coronavirus: Outcry after Trump suggests injecting disinfectant as treatment”, BBC News, April 24, 2020, https://www.bbc.com/news/world-us-canada-52407177.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid