Nyalakan Kembali Api KAA 1955!

Pada tahun 1955, tepatnya tanggal 18-24 April, di Bandung, berlangsung pertemuan anti-kolonialisme paling bersejarah: Konferensi Asia-Afrika (KAA).

Saat itu Republik ini baru berusia 10 tahun. Namun, dengan segala keterbatasannya, negeri muda ini telah berhasil menghelat sebuah pertemuan besar dan bersejarah. Pertemuan itu dihadiri oleh delegasi dari 29 negara, yang mewakili 1,4 milyar atau separuh penduduk bumi saat itu.

Api KAA 1955

KAA 1955 menggaung ke seantero dunia. Hanya sepuluh tahun pasca konferensi itu, ada 41 bangsa di Asia dan Afrika yang berhasil meraih kemerdekaannya. 

Negara-negara imperialis dan bekas kolonialis dibuat ketar-ketir. Tentu saja, hal tersebut terjadi karena KAA 1955 punya api semangat yang berkobar kuat. Tidak hanya menyulut semangat bangsa-bangsa kala itu, tetapi juga berbagai generasi umat manusia sesudahnya.

Api pertama, KAA 1955 telah menyatukan hampir semua bangsa-bangsa di Asia-Afrika, yang beragam etnis, warna kulit, dan aliran politik, ke dalam –meminjam istilah Sukarno–sebuah ‘gabungan tenaga yang hebat’ untuk menentang kolonialisme dan imperialisme. 

KAA 1955 telah mengambil prinsip ‘persatuan dalam kemacam-ragaman’, dengan menempatkan cita-cita kemerdekaan nasional, kebebasan, dan perdamaian dunia sebagai sebagai bahan perekatnya. Inilah yang membuat negara –negara yang berseberangan, seperti antara negara penganut ateisme dengan negara berbasis agama, ataupun negara komunis dengan negara-negara anti-komunis, bisa bersatu.

KAA 1955 telah menunjukkan kepada dunia, bahwa perbedaan ideologi, pandangan soal agama, dan sistim politik, bukanlah tembok penghalang bagi terjadinya persatuan, kerjasama, dan perdamaian. 

Persis dengan pesan Sukarno di pidato pembukaannya: “carilah dalam perbincangan yang bersifat persaudaraan dan bebas, jalan dan cara yang dapat menjamin kemungkinan bagi masing-masing untuk menjalani hidupnya, dan biarkan orang lain menjalani hidupnya, dengan caranya sendiri, dalam harmoni dan suasana damai.”

Api kedua, KAA 1955 menyatakan penentangan yang kuat terhadap kolonialisme dan imperialisme. Tidak hanya itu, seluruh delegasi KAA 1955 juga bersepakat untuk menempatkan kolonialisme sebagai musuh bersama sekaligus kejahatan kemanusiaan yang mesti diberantas di muka bumi ini.

Yang menarik, melalui pidato berjudul Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru saat pembukaan KAA 1955, Sukarno menunjukkan kepada seluruh peserta konferensi mengenai bentuk kolonialisme modern yang terus berupaya memperbudak negara-negara dunia ketiga, termasuk di Asia dan Afrika.

“Kolonialisme juga punya pakaian modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat,” kata Sukarno. 

Menurut dia, kolonialisme modern, atau sering disebut neo-kolonialisme, adalah ‘musuh yang licin’. Sebab, kolonialisme modern ini bisa merangsek masuk ke negeri-negeri bekas jajahan melalui cara-cara yang halus dan terkesan normal, seperti kerjasama ekonomi, investasi asing, pemberian pinjaman, bantuan teknik, penyebaran pemikiran, penetrasi budaya, dan lain-lain.

Api ketiga, perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme tidak bisa dilakukan dengan sendiri-sendiri. Bahwa perjuangan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme tidak bisa dikurung dalam batas-batas nasional. Sebaliknya, perjuangan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme haruslah merupakan penggabungan kekuatan (samenbundeling krachten) seluruh bangsa-bangsa terjajah, negara-negara sosialis, dan rakyat di negeri-negeri imperialis.

Situasi Saat Ini

Tidak sedikit orang yang berkesimpulan, KAA 1955 sudah tidak relevan lagi. Sebab, menurut mereka, kolonialisme secara fisik (kolonialisme klasik) sudah tidak ada lagi. Tidak relevan lagi koar-koar tentang bahaya kolonialisme. Lagi pula, nasionalisme sebagai gagasan sekaligus gerakan politik mulai ketinggalan zaman.

Tak mengherankan, selain perayaan seremonial dan nostalgia sejarah belaka, momentum perayaan KAA 1955 seringkali hanya dimanfaatkan untuk kepentingan kerjasama bisnis, perdagangan, dan investasi. 

Padahal, jika melihat keadaan sekarang, api semangat KAA 1955 justru relevan dikobarkan kembali. Berbagai konflik dan pergolakan kembali mengemuka di sejumlah negara Asia dan Afrika. Konflik di semenanjung Korea belum selesai. Laut Cina Selatan juga masih ajang perselisihan dan perebutan. Ada junta militer yang menginjak-injak demokrasi dan kemanusiaan, seperti Myanmar. Negara-negara di Afrika juga masih tercabik-cabik oleh perang antar-etnis maupun antar faksi-faksi politik. Belum lagi, kehadiran kelompok fundamentalis garis keras, seperti ISIS, Al-Qaeda, dan sejenisnya, yang menebar teror di sejumlah negara Asia dan Afrika.

Isu penindasan nasional juga masih relevan. Sampai hari ini, Palestina masih dibawah penindasan brutal kolonialisme Israel. Ada perang yang bergolak di Yaman. Selain itu, AS dan beberapa negara Eropa tak henti-hentinya mengangkangi kedaulatan negara-negara di Asia-Afrika, seperti Suriah, Libya, dan lain-lain.

Dengan demikian, prinsip-prinsip yang termaktub dalam “Dasasila Bandung”, seperti penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa, tidak melakukan intervensi atau campur-tangan dalam urusan internal negeri lain, tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain, tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara, dan penyelesaian setiap perselisihan internasional dengan jalan damai, menjadi sangat relevan untuk digaungkan kembali.

Selain itu, hampir sebagian besar negara Asia-Afrika, masih berhadapan dengan persoalan kemiskinan, SDM yang rendah, ketimpangan ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagian lagi, negeri Asia-Afrika yang kaya sumber daya alam, justru mengalami “kutukan sumber daya” atau resources curse. Sebagian negara Asia dan Afrika masih sering diintai kemiskinan dan kelaparan.

Hampir semua negara-negara Asia-Afrika, termasuk Indonesia, masih melakoni posisi yang sama seperti saat mereka terjajah dalam pembagian kerja kapitalisme global, yakni menjadi penyedia bahan baku, tenaga kerja murah, pasar bagi produksi negara-negara maju, dan tempat penanaman modal asing.

Memang, secara politik bangsa-bangsa Asia dan Afrika sudah merdeka, punya pemerintahan sendiri. Tapi, secara ekonomi dan sosial-budaya, rasanya belum. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika, kecuali Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, masih menderita ketergantungan pada negara-negara kapitalis maju, terutama dalam urusan modal dan teknologi.

Peluang untuk Berkembang Maju

Negara-negara Asia dan Afrika punya potensi untuk berkembang maju. Hidup adil dan makmur.

Sebagian besar negara-negara Asia dan Afrika kaya sumber daya alam. Hampir sebagian besar bahan baku yang menggerakkan industri-industri di negara maju di Amerika dan Eropa berasal dari Asia dan Afrika.

Negara-negara Asia dan Afrika juga punya limpahan populasi yang besar. Selain sebagai potensi tenaga produktif yang besar, juga harusnya menjadi potensi kekuatan pasar yang besar. Dengan begitu, negara-negara Asia dan Afrika bisa berdikari.

Negara-negara Asia Afrika hanya butuh kerjasama yang solid, di atas prinsip kesetaraan dan solidaritas, untuk mengubah potensi-potensi itu menjadi sesuatu yang konkret untuk kemajuan bersama.

Untuk itu, Asia-Afrika perlu belajar dari pengalaman Amerika latin beberapa tahun silam. Sebagai misal, untuk mengurangi ketergantungan terhadap IMF dan Bank Dunia, maupun kreditor-kreditor dari negara kapitalis maju, Amerika latin pernah punya Banco del Sur atau Bank Selatan.

Negara-negara Asia dan Afrika juga butuh badan kerjasama yang lebih konkret. Tempat mereka bertukar pikiran, pengalaman, dukungan, dan solidaritas. Juga tempat berbagai pengetahuan dan teknologi.

Negara-negara Asia dan Afrika juga perlu menciptakan pasar bersama, yang berpijak di atas prinsip perdagangan yang adil (fair trade) dan solidaritas.

Terakhir, negara-negara Asia-Afrika perlu memperluas rangkulannya ke negara-negara Amerika latin. Bagaimanapun, Asia-Afrika dan Amerika latin itu senasib: sebagai bangsa-bangsa bekas jajahan, sebagai bangsa-bangsa yang dipandang sebagai “dunia ketiga”.

Gagasan membangun konsolidasi tiga benua (tricontinental), seperti yang pernah digagas Kuba dan sejumlah negara di tahun 1960-an, rasanya perlu dihidupkan kembali. Kita butuh: Konferensi Asia, Afrika, dan Amerika Latin (KAA).

BAGASKARA WICAKSONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid