Nasib Kesucian dan Keluhuran di Tangan Sang Exorbitant

Dalam khazanah pewayangan Jawa istilah “sabrang” atau seberang selalu mengacu pada wilayah dan golongan di luar Jawa yang secara moral dipandang buruk. Moral di sini tak semata mengacu pada etiket, namun juga mengacu pada kekurangtepatan dalam melaksanakan apa yang dipandang sebagai kebenaran—bener ning kurang pener.

Tamsil yang bagus tentang moral itu adalah kebenaran-kebenaran agamis yang ketika dilaksanakan justru membuahkan keburukan atau bahkan kejahatan: radikalisme dan terorisme keagamaan. Memang benar bahwa praksis kejawen seperti “caos dhahar” atau memberi sesajian pada pohon yang rindang bukanlah perilaku yang pernah diteladankan oleh Nabi Muhammad. Namun, meskipun bukanlah pengikut dan mengikuti sang nabi, menjadi tak tepat ketika kejawen itu kemudian diberangus, atau setidaknya dipandang remeh.

Kekurang-pener-an atau ketaktepatan itu bukan hanya karena terlalu “suci”—untuk tak menyebutnya sebagai goblok—dalam memegang dan melakukan kebenaran-kebenaran agamis. Namun, juga pada ketakmampuan otak dalam menimbang hikmah atau kearifan-kearifan di balik segala sesuatu, apabila “praktik pemujaan pohon-pohon rindang” ala kejawen itu disyirikkan—dengan segala konsekuensinya—orang kemudian akan menghadapi problem-problem ekologis seperti banjir, perubahan iklim, dan pemanasan global.

Pada pengertian itulah asosiasi keburukan moral pada istilah “sabrang” dalam khazanah pewayangan Jawa mendapatkan kejelasannya. Ada satu serpihan kisah pewayangan yang menunjukkan tentang kecacatan moral orang sabrang dalam tertib kosmos Jawa: lahirnya Wisanggeni.

Dewa Srani adalah salah satu ksatria sabrang yang ganteng memesona dan telah membina sebuah hubungan yang aneh dengan sang ratu entitas-entitas rusak: Durga. Secara jelas mereka, Durga dan Dewa Srani, adalah ibu dan anak-anakannya. Namun, secara samar, sebagaimana tabiat Durga pada anak-anakannya, mereka juga bermitra dalam hasrat seksual.

Dalam lakon itu, Dewa Srani menginginkan Bathari Dresanala, anak Bathara Brahma, untuk menjadi isterinya dan ia menyambat sang ratu entitas-entitas rusak untuk mewujudkan keinginannya itu. Seperti biasa, Durga pun menggoda sang penguasa Triloka, Bathara Guru, untuk memaksa Bathara Brahma menyerahkan si Dresanala yang waktu itu tengah mengandung anak Arjuna.

Konspirasi pun terjadi, Arjuna tak perlu dihiraukan, karena ia hanyalah seorang ksatria yang berkasta Bumi, bukanlah anak para dewa. Para dewa kayangan yang identik dengan kesucian dan para entitas rusak, anak-anakan Durga, yang identik dengan kebusukan, berencana untuk mengaborsi bayi Dresanala dan Arjuna.

Sejak dalam guwa garba sang ibu ternyata bayi itu sudah “subversif.” Bukan semata ketika sang ksatria sabrang menghasrati sang ibu, namun perpaduan antara ksatria dan hapsari adalah sebuah konfigurasi yang berpotensi menggoncang segala tertib kosmos. Lazimnya, dalam konfigurasi umum, para bambang akan berpadu dengan para endang (anak-anak brahmana), para dewa atau hapsara akan berpadu dengan para dewi atau hapsari. Dan bayi yang dikandung oleh Dresanala itu tengah berada di ruang ambang yang secara politis dan kebudayaan tak akan mampu dirangkum oleh segala tertib, baik tertib para ksatria maupun tertib para dewa.

Dalam bahasa Derrida, bayi malang itu merupakan sebentuk makhluk “exorbitant” yang berpotensi mengancam segala prediksi, takaran, penghakiman, dan segala tertib. Jadi, ketika bayi itu mampu dilahirkan, dapat dibayangkan akan seperti apa dan bagaimana keadaan jagat ini berlaku.

Sang Hyang Wenang, dewa tertinggi yang mampu digambarkan wayang, dan Semar ternyata memiliki kebijakannya sendiri. Jangankan untuk digugurkan secara paksa, untuk dibunuh pun ketika lahir bayi itu justru menyesap energi pembunuhan itu menjadi kesaktiannya. Dan atas instruksi Semar, bayi itu kemudian mengobrak-abrik kayangan dan menghajar para dewa yang sudah tak jejeg dalam memerankan kedewaannya. Ternyata, di balik segala kesan suci dan luhur para dewa senantiasa berbayang oleh kebusukan Durga. Itulah yang tersirat dari kelahiran sosok sang “exorbitant”: Wisanggeni.

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Foto : Illustrasi mengangkat tangan

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid