Narasoma dan Keberlanjutan Politik Non-Modern

Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti

—Ronggawarsita

 

Narasoma, konon, adalah seorang ksatria yang rupawan. Ia adalah pangeran dari kerajaan Mandaraka. Ketika tengah dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya, Prabu Mandratpati, Narasoma jatuh hati pada seorang anak pandita yang berwujud denawa, Begawan Bagaspati.

Kisah Narasoma adalah salah satu kisah tentang bagaimana politik tak luput pula dari upaya-upaya penyingkiran, atau hal-hal yang sekiranya berpotensi untuk menjadi batu sandungan—meskipun tak ada jaminan bahwa anggapan itu benar adanya.

Dalam kisah, Narasoma dikatakan malu atas kondisi yang dihidupi oleh sang calon mertua, Begawan Bagaspati, yang merupakan seorang raksasa yang buruk rupa. Apa kata dunia ketika kelak Narasoma menjadi seorang raja dengan bermertuakan seorang raksasa?

Dalam banyak kisah politik modern, dimana nyaris semuanya menyandarkan pada modernisme, sejak dalam pikiran pun ada hal-hal yang sudah ditetapkan untuk dilenyapkan. Dalam ideologi komunisme hal itu adalah golongan borjuasi dan hal-hal yang dianggap akan menghalangi atau menyurutkan semangat revolusi. Dalam ideologi nazi hal itu adalah Yahudi. Dalam ideologi khilafah hal itu adalah demokrasi dan liberalisme.

Postmodernisme, dengan banyak tumbangnya rezim yang berideologikan ideologi tertentu, kemudian menawarkan hal-hal yang, dalam konteks esai ini, memalukan tersebut. Taruhlah gerakan pembebasan Zapatista di Chiapas, Meksiko, yang oleh Zigmundt Bauman dikategorikan sebagai gerakan “marxis postmodern” karena sudah tak lagi berlakunya pakem-pakem gerakan pembebasan Marxian klasik.

Kita tentu masih ingat saat Jokowi, pada 2014, naik ke ranah kekuasaan yang lebih tinggi dengan citra diri yang jauh dari citra-citra diri yang dibangun oleh modernisme: “utun,” “ndeso,” “plonga-plongo,” “leadership yang lemah,” dst. Modernisme, sebagaimana banyak ideologi yang dilahirkan dari rahimnya, identik dengan pembangunan citra diri ideal yang dipandang “unggul,” kalau tak seluhur ras Aryan ala Hitler adalah sedingin Stalin.

Sebangaimana el-Sub, sang juru bicara Zapatista, Jokowi pun saat itu muncul dengan citra diri yang mendekonstruksi dan mendefigurisasi citra-citra diri ideal tersebut. Ia memang tak segarang Soekarno, tak sekarismatik Soeharto, tak secerdas Habibie, tak sealim GD, dan tak seningrat Megawati ataupun SBY. Namun fakta kehidupan, dengan segala citra dirinya itu, Jokowi menjadi yang terpilih.

Seingat saya, waktu itu terbelahlah dua golongan yang sama-sama memicingkan mata pada Jokowi, golongan yang sama sekali yakin pada dirinya dan golongan yang sama sekali meragukannya yang terbukti sampai detik ini, menanglah keyakinan golongan yang pertama. Bukankah, dengan sedikit hitungan bulan, sama sekali tak ada ganjalan yang sama sekali pada kekuasaan Jokowi, seberat atau secanggih apapun upaya untuk menjegalnya—terlepas dari apakah pemerintahan Jokowi itu baik atau buruk?

Namun, meskipun Bagaspati pada kasus Narasoma, yang kelak bergelar Prabu Salya, adalah yang menjadi simpul kemaluan seandainya meraih kekuasaan, tetap sang pandita denawa itu mewariskan bagian dari dirinya yang sejatinya adalah yang menjadi kekuatan sang anak Prabu Mandratpati itu: Candhabirawa.

Narasoma atau Prabu Salya jelas telah menjadi seorang pribadi yang tak jujur. Ia tak menyukai kondisi mertuanya yang adalah seorang denawa, namun ternyata ia menyimpan diam-diam bagian dari diri Bagaspati yang merupakan kekuatannya. Maka, dalam kisah, kelak Narasoma akan dapat dikalahkan hanya oleh seorang ksatria yang dikenal tak banyak marah dan pemaaf. Candhabirawa yang berwatak “suradira,” konon, hanya dapat dikalahkan oleh “pangastuti.”

 

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Gambar : Wayang diambil dari idnzero

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid