Mengingat Nirwan Ahmad Arsuka

Sebelumnya, di senja hari, di teras belakang sambil ngopi-ngopi dan ngrokok-ngrokok, sesudah rapat rutin BerdikariOnline.com mingguan, tepatnya tiap hari Rabu Jam 14:.. dengan beberapa teman Partai sekaligus yang mengawal redaksi BerdikariOnline.com kami membicarakan, tepatnya aku menanyakan: apakah ada trauma di masa depan?

Kataku: akhir-akhir ini entah mengapa dan kadang tiba-tiba nongol bayangan maut yang mendekat. Aku sering takut pada kematian. Tidak tahu apa yang terjadi sesudah kematian. Gelap. Kegelapan. Seorang teman menjawab. Agama, yang sampai sekarang bisa memberi jawaban. Seorang yang beriman, berdosa atau tidak.. tetap yakin sesudah kematiannya akan mendapatkan tempat. Setidaknya ada jawaban. Aku ceritakan juga: di kalangan umat Katolik, umumnya menyanyikan lagu Ndherek Dewi Maria bahkan dibisikkan pada yang sekarat. Mungkin biar tenang. Seorang, teman yang bukan Katolik menjawab.. seperti dininabobokan.

Tapi kesimpulan kami dari obrolan senja itu: tidak ada trauma masa depan. Yang ada, kecemasan kalau untuk masa depan. Sementara Trauma, hanya untuk masa lalu dan kebanyakan trauma masa lalu di sini selain pemerkosaan, kehidupan masa lalu yang penuh hinaan dan derita, sering juga dihubungkan dengan pelanggaran HAM yang bisa mempengaruhi kemenangan seorang calon presiden.

Sesudah obrolan trauma dan kecemasan ini selesai, seorang teman dari jajaran redaksi juga mengirim pesan screenshot via wa..yang isinya memuat pertanyaan tentang “apa yang kamu takutin di masa depan?” nyambung juga dengan obrolan senja itu. Jawaban dalam screenshot itu yang tentu bikin..(terserah masing-masing ya) akun Twitter Pena @aksara_meraki) menjawab: “Takut jatuh cinta sama yang kntlnya kecil”.

Selasa itu, 1 Agustus 2023, aku mengirimkan Opini Nirwan Ahmad Arsuka yang dimuat Kompas juga pada tanggal 1 Agustus, ke wa group Diskusi Kebudayaan. Judulnya: Hilirisasi Budaya, Gelombang Nusa. Sebelumnya, aku kirim ke Nirwan Editorial BerdikariOnline.com yang berjudul Pertambangan, Industrialisasi Nasional dan Hilirisasi. Nirwan membalas dengan artikel fresh di Kompas itu. Aku baca dengan detail dan kubalas dengan komentar: Apik. Makanya kuforwardkan ke WAG diskusi kebudayaan. Di sana, ada Hegel Terome. Forward-an Hilirisasi Budaya Nirwan ini memang bertujuan untuk memancing Hegel Terome menulis juga. Karena itu kutambahi komentar Hilirisasi Budaya Nirwan Ahmad Arsuka, Gempur Deru; ditunggu versi SMID Hegel Terome…

Tapi pagi ini, Senin, 7 Agustus, terdengar kabar Nirwan Ahmad Arsuka meninggal dunia. Mataku berkaca-kaca. Ada duka yang dalam walau aku tak begitu dalam mengenal Nirwan Ahmad Arsuka. Tapi jelas selalu ada saat untuk berjumpa dan mengobrol, termasuk melalui chat WA. Dalam ingatanku, Nirwan selalu aktif membalas broadcast wa yang kukirim. Kepergiannya, siapa yang bisa menduga, membawaku mengingat dan menuliskan tentang dirinya yang kupikir berkarakter.

Dia kuliah di UGM, Universitas Gajah Mada di bidang yang mengerikan terdengar: Nuklir tetapi memilih menjadi Penyair. Waktu aku masuk Filsafat UGM 1991, nama Nirwan Ahmad Arsuka sudah cukup berkibar-kibar di kalangan mahasiswa aktivis. Dia memilih dan membangun gerbongnya sendiri: Gempur Deru. Aku sudah lupa kepanjangannya di antara pertarungan dua organisasi mahasiswa pecahan FKMY, Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta. Karena Lingkungan (Kita Si Mulut Besar, puisi Wiji Thukul), aku tidak bergabung di Group Nirwan tapi di SMY, Tegak Lima, SMID, JAKER dan PRD. Lama tak jumpa Nirwan. Kalau ketemu tak juga ngobrol banyak. Justru pertemuan di Jakarta jauh sesudah Soeharto mundur bisa ngobrol banyak. Mungkin sekat-sekat yang dibangun semasa gerakan mahasiswa dianggap sudah tidak berguna. Seperti sekarang, aktivis Tegak Lima (Komite Penegak Hak-Hak Politik Mahasiswa) embrio SMID yang selalu berseteru dengan group Anies Baswedan, bisa menjadi Garda Depan pendukung Anies. Juga yang berseteru membelah gerakan mahasiswa Yogyakarta SMY dan DMPY bisa bersatu dalam satu Partai penguasa.

Nirwan, malam itu saya lupa, sesudah acara di Salihara menawarkan pertemuan sambil makan Bakmi Jogja dekat Terminal Pasar Minggu. Aku bersama Tejo Priyono Ketua JAKER. Nirwan berkata banyak.. bukan tentang masa lalu (yang hanya dimiliki trauma) tetapi tentang masa depan yang selalu ada ketakutan dan kecemasan. Ia minta kepada kami 10 puisi-puisi JAKER yang bisa dia ulas setelah Wiji Thukul tak ada.

Di hari lain, kami bertemu di Goethe House. Dia menjadi pembicara membahas novel Putu Oka Sukanta. Dia bilang karya Bung Putu lemah secara sastra..Di akhir acara dia bertanya padaku: ” Betul nggak, Bung?” seakan minta konfirmasi dariku juga soal satrawi Bung Putu.

Lain hari, ketika namanya sudah melekat dengan Pustaka Bergerak, dia datang juga ke Percik Indonesia ketika John Tobing, pencipta Lagu Darah Juang mengisi acara. Aku duduk di sampingnya ketika John mulai menyanyikan himne Darah Juang, dengan petikan gitarnya yang menggugah. Di tengah lagu yang mengharu bersama kawan-kawan, John Tobing memintaku membaca puisi. Nirwan Ahmad Arsuka yang memegang kumpulan puisi pertamaku Kota Ini Ada di Tubuhmu, menyodorkan puisiku yang berjudul Pada Kawan Yang Mati, buat Iqbal Firmansyah. Aku pun membacakan puisi itu. JAKER kemudian juga menyumbangkan buku-buku terbitannya untuk Pustaka Bergerak yang diampu Nirwan.

Nirwan juga hadir ketika aku menjadi narasumber diskusi Kertanagara via zoom yang diselenggarakan Paguyuban Darah Juang (PDJ). Diskusi itu membahas strategi menghadang invasi asing sebagaimana kekuatan Tiongkok sekarang yang seakan meraja di Laut China Selatan. Bahan diskusi Kertanagara itu memang menjadi basis Novel yang kutulis “Menghadang Kubilai Khan”. Nirwan mengatakan alasan kuat serbuan Kubilai Khan ke Nusantara adalah ekonomi dan Singasari waktu itu makmur, bukan karena penghinaan seperti tutur tradisi.

***

Senja itu, di obrolan yang lain, teman-teman mahasiswa dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi berencana mengadakan Seminar tentang Hilirisasi. Ketua Umum LMND, Samsudin Saman, meminta dariku usulan nama dari kebudayaan. Awalnya aku merekomendasikan Nirwan Ahmad Arsuka. Tapi tiba-tiba berubah dalam benakku: Jangan Nirwan, Hegel Terome saja, Dewan Pakar Partai Rakyat Adil Makmur – PRIMA. Nanti dikasih tahu Hegel, kalau penanggap aktifnya Nirwan Arsuka. Seandainya aku yakin Nirwan, mungkin aku akan cepat menghubungi nya dan tahu kondisinya.

Ketika pagi ini, aku tahu dia meninggal. Aku mencoba menelponnya. Profil Picturenya bertuliskan Mea Culpa.

Mea Culpa, Seakan baru kemarin kontak soal hilirisasi, Dia kirim opininya di Kompas soal Hilirisasi Budaya, Aku minta stok artikel dia kalau ada untuk BerdikariOnline.com. Aku bilang, sekarang aku Pemrednya, dia bilang Ok Ok. Aku jarang bertanya tentang kabar kesehatan. Mea Culpa Mea Culpa Mea Culpa, RIP Bung Nirwan.

(AJ Susmana)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid