Menghadirkan “Publik” Lewat Seni

Berkunjung ke sebuah pameran bertajuk ICAD XI Publik, mengingatkanku pada falsafah Tri Hita Karana. Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi.

Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap hubungan memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya. Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari daripada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai.

Hubungan manusia dengan Sang Pencipta juga dapat kita temukan dalam falsafah Manunggaling Kawulo Gusti. Falsafah ini dapat dimaknai sebagai suatu pencapaian dari lelaku sufi, sebuah fase spiritual yang tentunya menarik untuk kita pelajari dan kita capai. Manunggaling Kawula Gusti yang dikenal sebagai ajaran Syekh Siti Jenar, bukan diartikan sebagai bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dengan kembali kepada Tuhannya berarti manusia telah bersatu dengan Tuhannya.

Sebuah falsafah Jawa Sangkan Paraning Dumadi berisi ujaran Kawruhana sejatining urip/ urip ana jroning alam donya/ bebasane mampir ngombe/ umpama manuk mabur/ lunga saka kurungan neki/ pundi pencokan benjang/ awja kongsi kaleru/ umpama lunga sesanja/ njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/ mulih mula mulanya. Yang berarti: Ketahuilah sejatinya hidup/ Hidup di dalam alam dunia/ Ibarat perumpamaan mampir minum/ Ibarat burung terbang/ Pergi dari kurungannya/ Dimana hinggapnya besok/ Jangan sampai keliru/ Umpama orang pergi bertandang/ Saling bertandang, yang pasti bakal pulang/ Pulang ke asal mulanya.

Pameran yang digelar di lobby Grand Kemang Hotel, Jakarta, tersebut seperti mengingatkan Keberadaan kita sebagai mahluk manusia, baik sebagai individu maupun kolektif, serta hubungannya dengan alam dan Tuhan. Seni menjadi medium bagi kreativitas manusia dalam pencarian hubungan tersebut. Pandemi Covid-19 dapat menjadi ruang refleksi eksistensi mahluk ciptaan dengan penciptanya serta bagaimana ikhtiar dan usaha manusia dan berbagai mahluk dalam mempertahankan hidup, serta saling terhubung.

Mengutip dari sang kurator, Hafiz Rancajale, kita diuji untuk mengatasi persoalan yang sangat kompleks yang bukan hanya bersandar pada persoalan kreatif atau membuat benda-benda estetik. Namun sebagai manusia kreatif semestinya kita menemukan inovasi, ide-ide baru dan spekulasi kreatif dalam mengatasi persoalan kemanusiaan hari ini. Tema Publik berangkat dari ide dan keinginan untuk melihat penonton dan kepenontonan publik serta ruang publik dan kepublikan dunia seni kontemporer dan desain di Indonesia. Melihat lagi peran dan kontribusinya dalam melewati berbagai persoalan akibat pandemi. Hajatan ini diharapkan dapat memberikan kemungkinan-kemungkinan yang aplikatif ataupun sebuah imajinasi tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan di masa depan melalui seni dan desain.

Beberapa karya tampil dengan menghadirkan seni desain kontemporer yang diaplikasikqn dengan kombinasi berbagai bentuk instalasi dan performance. Nindityo Adi Purnomo memajang karyanya dengan judul “Mono Human Being” dengan bahan kayu mahogani dan rotan membentuk siluet tubuh manusia ditempel di dinding. Karya ini merupakam terjemahan bebas atas paparan Benedict Anderson pada “Kuasa Kata” tentang kosmologi yang tidak terlalu memisahkan antara dunia nyata di bumi (terrestrial) dengan dunia atas (transcendental). Suatu bentuk Ketuhanan yang menyatu dengan dunia. Masuknya agama-agama Samawi makin menegaskan batas-batas terrestrial dan transcendental.

“Mother V dan Mother IV”, sebuah instalasi berbasis dua lukisan dengan bahan mix media skala besar yang dipasang sebagai perkamen melayang, karya Naomi Samara. A tale of two headed goddess and a broken hearted man. Naomi menciptakan fiksi yang menginterpretasi ulang kisah penciptaan dan penciptaan kembali. Menghadirkan rusaknya equilibrium antara kehidupan dan kematian yang berangkat dari duka yang personal dan diakhiri dengan mayoritas puitik atas hidup dan mati kolektif.

Aditya Fachrizal Hafiz menempatkan karya visualnya pada layar televisi di dinding. “RAM (Random Access Memories)”. Sebuah metode cut-up, montage atau collage yang diyakini akan tetap menjadi hal yang demokratis dalam melahirkan praktek artistik, karena metode tersebut fleksibel untuk diterapkan dalam berbagai medium.

Blah dapat berarti basa basi dan omong kosong. “The Museum of Blah Blah Blah” milik Wendy Methodos menghadirkan beberapa karya drawing dengan identitas visual figur-figur manusia disortif atau mutan. Komposisi Methodos juga meliputi teks-teks yang memuat kritik sosial terhadap situasi kontemporer mulai dari konflik identitas, Gaya hidup late capitalism, praktik Oligarki dan ekses orde baru di Indonesia. Perpaduan antara mutan dan teks menjadi gambaran satir yang mengungkap kegelisahan warga dalam arus perputaran kapural global.

Sebuah performance art interaktif mengajak penonton turut meluapkan kemarahan Ibu bumi atas kerusakan ekologis akibat perilaku manusia. Kita tentunya ingat beberapa kasus konflik Agraria yang menghiasi media massa. Sebutlah Wadas, Rembang, pembangunan bandara, jalan tol dan banyak lagi. Peristiwa alam seperti gempa, kebakaran hutan dan banjir datang silih berganti. Arahmaiani menghadirkan “Amarah Ibu Bumi” melalui tulisan di dinding sepanjang kurang lebih 7 m dan mengajak penonton melemparkan gumpalan tanah liat diatas tulisan alam dan gambar hati. Betapa alam yang kita diami ini dirusak oleh tangan-tangan manusia. Dalam skala besar, perusahaan tambang, kelapa sawit dan pembangunan infrastruktur menjadi penyumbang utama dalam pengrusakan ini.

Pameran masih akan berlangsung selama sebulan. Pengunjung dapat menikmati berbagai karya para perupa sambil berinteraksi dan berefleksi. Ruang publik adalah media interaksi antar individu manusia dan mahluk ciptaan lainnya. Persoalan ekologis menjadi bagian dari ruang publik ini. Mari berkontemplasi dalam karya dan mari jaga bumi tempat tinggal kita. Semoga semua mahluk berbahagia. Love God, love people, love nature with passion.

ERNAWATI

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid