Menatap Arah Kepemimpinan Daerah Kabupaten Buol

Pilkada serentak seluruh daerah di Indonesia akan segera dimulai. Tak ketinggalan juga daerah Kabupaten Buol; menjadi peluang kemenangan bagi siapa saja yang memiliki niat berkompetisi di pusaran politik Pilkada sebab saat ini tak ada Incumbent yang dapat memanfaatkan kebijakan atas kepentingan politik. Kabupaten Buol sebagai daerah otonomi yang mempunyai kewenangan mengatur dan mengelola potensi Sumber Daya Alam serta pemerintahan desentralisasi sejak tahun 1999 merupakan sebuah berkah bagi rakyat Buol. Berbagai sejarah telah dicatat oleh para pemimpin sebelumnya meski masih terdapat berbagai masalah yang tertinggal. Olehnya, kita tak boleh terjebak dengan romantisme tetapi optimis menatap ke masa depan yang lebih baik.

Menatap arah kepemimpinan daerah Kabupaten Buol dalam Pilkada tahun 2024, Rakyat akan memilih Nahkoda baru sebagai harapan dan eksekutor atas kemajuan pembangunan serta kesejahteraan yang adil, makmur bagi rakyat Buol. Tentu, harapan besar lahir agar calon pemimpin yang nanti akan ikut berkompetisi adalah figur yang paham betul terhadap problem daerah dan rakyatnya sehingga mudah mengeksekusi solusi dalam mengatasinya.

Pilkada tak sekedar mengejar kekuasaan tetapi bagaimana tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan berani; berdiri di atas kepentingan daerah khususnya rakyat Buol di tengah aturan yang masih sedikit mengikat terhadap pemerintahan setingkat provinsi dan pusat yang tidak memberikan kewenangan penuh pada daerah (Desentralisasi). Bagaimana pemimpin dapat mengatasi hal tersebut jika desakan atau kepentingan di atas lebih diutamakan?

Tentunya, calon pemimpin yang lahir diharapkan dapat mengambil sebuah kebijakan yang mengutamakan kepentingan prioritas, tak kaku oleh aturan. Karena itu daerah Buol butuh pemimpin yang “out of the box” agar dapat memaksimalkan segala potensi sumber daya yang ada. Sumber daya yang masih melimpah ruah merupakan sebuah berkah bagi daerah ini. Karena itu perlu strategi bagaimana cerminan kedaulatan rakyat masih menjadi penentu dan tuan di atas tanahnya sendiri meskipun ancaman dari luar selalu datang mau memanfaatkan kekayaan daerah.

Harapannya, Pilkada kali ini betul-betul pertarungan gagasan programatik yang revolusioner agar daerah bisa melompat lebih jauh ke kemajuan pembangunan dan ekonomi rakyat. Merumuskan masalah menjadi sebuah visi dan misi yang nantinya akan dikampanyekan sehingga dapat dimaknai dan dipahami dengan baik serta membantu mendorong kesadaran politik.

Pilkada tak sekedar momentum penggunaan hak politik lima tahunan tetapi rakyat harus diajak sebagai kontrol kebijakan pemimpin terpilih dalam menjalankan program serta visi-misinya. Begitulah seharusya politik partisipatif dalam roda pemerintahan: melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusan.

Lewa – Jubir DPK PRIMA Buol

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid