Membaca “Menghadang Kubilai Khan” Membangunkan Persatuan Nasional

Ziarah Sejarah Sosial

Novel Menghadang Kubilai Khan (MKK) menarasikan pergolakan politik di Kerajaan Singhasari. Raja Sri Kertanegara mempersiapkan perlawanan terhadap kekuasaan imperialistik Kerajaan Mongol, yang berhasil menguasai Tiongkok dan mendirikan Dinasti Yuan. Jayakatwang Raja Kediri menikam dari belakang, memberontak. Sri Kertanegara terbunuh, Singhasari dikalahkan oleh Kediri. Selanjutnya, Jayakatwang berhasil dikalahkan Raden Wijaya penerus Sri Kertanegara.

Melalui novel yang ditulis oleh AJ Susmana, diterbitkan oleh PT. Berdikari Nusantara Makmur April 2021 ini, pembaca bisa menziarahi masa lalu Jawadwipa dan Nusantara, serta melakukan refleksi sejarah. Harapannya bisa merumuskan pemikiran dan prakarsa baru untuk membangun Nusantara.

MKK adalah novel sejarah. Apakah novel sejarah itu? Apakah dia 100 prosen faktual sejarah, atau apakah dia bisa seratus prosen fiksi? Novel Sejarah atau kerap disebut Roman Sejarah, adalah karya fiksi yang dituliskan berdasarkan acuan sejarah suatu bangsa, masyarakat, komunitas, kelompok manusia, atau mungkin bahkan sejarah suatu keluarga. Karena fiksi yang dituliskan berdasar acuan sejarah, maka ia adalah oplosan antara fiksi dan fakta sejarah. Kadar kefiksiannya adalah hak imajinasi subjektif penulis. Kebebasan (relatif) pengarang untuk berimajinasi tidak ada pihak yang mengganggu-gugat. Disebut relatif karena, imajinasi juga tidak bisa bebas sebebas-bebasnya. Karya fiksi dalam batas tertentu masih tunduk pada kaidah kesastraan yang umum. Dalam pengertian sastra sebagai insitusi sosial, salah satu  situs hegemoni, dalam teori sastra Gramscian, wujud strukturisasi sejarah sosial. Karya fiksi tidak bisa keluar dari kelaziman pengertian sastra dalam kurun waktu dan sejarah sosial masyarakatnya.

Imajinasi sebagai buah dari kinerja kesadaran kognitif dan afektif pengarang, dalam batas pengertian tertentu, merupakan hasil konstruksi sejarah sosial masyarakatnya juga. Sementara itu, fakta yang dimaksud, adalah fakta sejarah yang sudah dipilih atau disortir oleh penulis dan mendapatkan pemaknaan subjektif penulis. Sebagai bahan mentah, fakta sejarah inilah yang kemudian dipilin, dianyam dan ditenun sedemikian rupa dengan fiksi  menjadi novel sejarah.

Refleksi dan Imperatif Budaya

Novel MKK menarasikan sejarah Singhasari sampai pra Majapahit, dengan sudut pandang subjektif penulis. Novel ini diproduksi secara komersial oleh penerbit yang katakanlah memiliki pandangan politik tertentu. Khalayak pembaca yang mau disasar adalah masyarakat Indonesia kontemporer, yang bahkan mungkin merasa tidak punya hubungan langsung dengan kurun sejarah tersebut. Ada jarak waktu dan diperantarai oleh penafsiran berdasarkan perspektif penulis yang berkarya di Indonesia abad 21. Ada penafsiran berdasarkan kode budaya, ada resepsi penulis dan pandangan dunia (Du monde) berdasar ideologi pengarangnya. Artinya memang bukan sekedar menarasikan secara netral.

Sudut pandang dunia pengarang terhadap sejarah Jawadwipa di dalam MKK ini sangat menarik untuk diperdebatkan. Penulis mengedepankan pemaknaan perjuangan kelas: rakyat kelas sudra melawan Wangsa Isyana yang bangsawan;  kekuasaan elitis-eksklusif versus wacana kerakyatan-inklusif. Pandangan dunia semacam ini memberi pemaknaan sejarah dengan konteks nyata pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Ken Arok.

Bersamaan dengan itu, penulis mencoba  memutus mitos kutukan “Keris Empu Gandring”, yang bias ideologi residu budaya bangsawan Wangsa Isyana. Mitos ini diproduksi lewat sejarah lisan,  yang disebarluaskan dalam sastra lisan di masyarakat Jawadwipa tempo doloe. Celakanya, mitos ini terus direproduksi dalam  masyarakat Jawa modern (juga:  Indonesia kontemporer). Mitos ini di satu sisi menarasikan ancaman halus terhadap sesiapapun yang berusaha untuk memperjuangkan keadilan melawan kekuasaan mapan, karena mengakibatkan terjadinya pembantaian rakyat sebagai tumbal atas kutukan Empu Gandring.

Mitos ini pun bisa dijadikan pembenaran oleh penguasa lama atau baru manakala terjadi pembunuhan massal/genosida terhadap lawan politik setiap kali terjadi transisi kekuasaan di tanah Jawadwipa kuno dan sejarah politik Indonesia modern. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer, salah satu survivor tragedi kemanusiaan 1965, sepertinya “tanpa menyadarinya” memberikan peneguhan atas “Kutukan Empu Gandring”, walau dalam satu tarikan nafas yang sama, meratapinya secara emosional mitos ini, saat menarasikan pergolakan tanah Jawadwipa masa Singgasari dalam novel Arok Dedes (AD). Pola kudeta ini, yang oleh Pramoedya dan kalangan luas masyarakat awam, secara  implisit juga disejajarkan dengan terjadinya transisi kekuasaan dari Sukarno ke rejim penggantinya.

Menariknya, novel yang ditulis oleh pengarang, cum pejuang budaya Jaringan Kesenian dan Kebudayaan Rakyat (JAKER) dan aktivis Partai Rakyat Demokratik PRD  (juga ikut mendirikan Partai Rakyat Adil Makmur- PRIMA)— berusaha memutus mitos tersebut.

Jika mau diperbandingkan  dengan novel AD, sikap penulis MKK lebih jelas. Dia melihat pemberontakan Arok sebagai pemberontakan rakyat, dalam paradigma perjuangan kelas. Sementara itu Pramoedya dalam AD lebih menarasikan silang sengkarut konspirasi yang menyertai terjadinya perebutan kekuasaan Arok terhadap Adipati Tumapel – Kerajaan Kediri.

Selain itu, MKK juga mencoba memutus penafsiran negatif, perang habis-habisan antar saudara dalam Bharatayudha – Mahabharata karya Walmiki, yang dijadikan pembenar untuk mempertahankan kekuasaan dan menghabisi  lawan politik. MKK mengingatkan, bahwa Mahabharata disadur oleh Empu Sedah dan Panuluh,  menjadi (Hikayat) Kakawin Bharatayuda, atas perintah Jayabaya Raja Kediri, cenderung untuk meligitimasi kekuasaan Raja Jayabaya dan para Ksatria Wangsa Isyana. Hikayat Mahabharata dijadikan alat untuk glorifikasi perang saudara, dengan bumbu perang suci melawan kekuatan yang dianggap jahat. Inilah yang kerap dijadikan pembenar oleh penguasa, juga kelompok oposisi, untuk menumpas lawannya ketika konflik politik terjadi.

Novel ini mengusung pandangan berbeda. Tanah Jawadwipa sudah waktunya menuliskan sejarah baru  dan melepaskan diri dari tafsiran yang keliru tersebut yang memanfatkan tafsiran sepihak ajaran luhur yang terkandung dalam Mahabharata  untuk legitimasi kekuasaan. Begitu imperatif yang ingin disampaikan penulis melalui novel MKK.

Refleksi penting MKK, yakni: memberikan pandangan historis soal bangkitnya kesadaran membangun Persatuan Nasional, seperti yang diusung oleh pelanjut Wangsa Rajasa. Hal ini dipertentangkan dengan Wangsa Isyana yang mementingkan permurnian wangsa, hanya boleh ada satu raja yang benar dan satu kerajaan berkuasa penuh di  Jawadwipa. Olehnya, perang pemurnian dan perebutan kekuasaan agar hanya ada satu matahari, menjadi lebih penting ketimbang membangun persatuan, pimpinan yang kolektif kolegial,  dan membangun jaringan dengan kerajaan lain di Nusantara.

Persatuan Nasional Wangsa Rajasa dipertentangkan dengan “persatean nasional” yang dilakukan oleh Wangsa  Isyana hingga Raja Jayakatwang. Sri Kertanegara pelanjut Wisnu Wardana, sebagai representasi Wangsa Rajasa, mengedepankan Persatuan Nusantara, untuk bangkit menghadang dan melawan Kubilai Khan (baca: kolonialisme dan imperialisme). Tujuan tertingginya membangun dunia, terciptanya hubungan internasional antar bangsa yang multipolar, adil, saling menghormati perbedaan peradaban, serta saling menguntungkan. Alih-alih melanggengkan hubungan unipolar yang hegemonik gaya Kubilai Khan, yang  dominatif dan eksploitatif.

Novel MKK layak dijadikan cermin, untuk mengaca dan mendandani diri kebangsaan kita. Pasca Orde Lama di dalam khasanah pemikiran berbangsa boleh dikatakan steril dari polemik gagasan nation and state characters buildings. Dalam kekosongan ini, di masa pasca reformasi, munculnya MKK sebagai imperatif budaya yang penting. Harapannya pesan novel ini akan menjadi canang bagi bergulirnya kembali polemik nation and state characters buildings. Paling tidak akan menandai kembali semangat untuk mencari akar peradaban leluhur dan upaya para pendahulu dalam membangun peradaban bangsa dan dunia yang lebih baik.

Novel ini menarik untuk dijadikan pemantik, untuk menghidupkan lagi dan memberi ruh pergolakan pemikiran mencari akar peradaban dan membangun peradaban seribu tahun Dipantara ke depan. Kalau novel ini diletakkan dalam konteks ini, akan memiliki relevansi sebagai unsur jantan sejarah pemikiran yang akan melakukan penetrasi pemikiran baru.

Menimbang Kadar Sastra MKK

Novel MKK sekalipun menyampaikan tema besar, namun disajikan dengan sudut pandang penceritaan yang kenyal dan tidak membosankan. Melalui perpindahan sudut pandang penceritaan, plot novel dibangun sebagai tulang pungung cerita. Dari situ narasi mengalir, membangun karakter  berkisah yang membuat pembaca penasaran hingga akhirnya. Alumnus Filsafat UGM ini begitu cakap  mengembangkan teknik bercerita dengan memainkan bayangan pembaca (foreshowdowing) akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Horizon harapan pembaca diolah demikian kuat. Pengetahuan penulis akan Babad, Kidung dan kisah-kisah sejarah di masa lalu merupakan bahan baku perceritaan, tulang kerangka kisah, dipilin halus otot  imajinasi pengarang dan dimatangkan dengan urat sikap subjektif pengarang. Menurut saya, inilah kekuatan novel MMK.  Sidang pembaca akan dibuat tidak bosan mengikuti kisah MKK hingga akhir. Di sini pula letak kekuatan pembangunan struktur alur kisah MKK.

Gugahan reflektif yang bisa dipetik dari MKK yakni munculnya semangat baru membangun Nusantara yang lebih baik di masa mendatang. Sebagai sesama anak bangsa  agar tidak gampang untuk diadudomba dan bertikaipangkai saling menghancurkan, meski berbeda pandangan politik dan ideologinya. Sebaliknya, menyatukan tekad membangun persatuan Dipantara dan untuk mengambil peranan sebagai salah satu kekuatan dunia, guna membangun percaturan politik nasional dan global yang multipolar, adil dan setara.

Yogyakarta, April-September 2023

Petradipantara K

Penulis dan Pekerja Budaya, aktif di Lingkar Studi Filsafat Pembebasan.

Email: patria_nusatama@yahoo. Com

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid