Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang

Imajinasi tentu saja merupakan hal yang pokok dalam sebuah kebudayaan. Dalam kisah pewayangan setidaknya kepokokan imajinasi itu dihadirkan oleh sang penguasa Triloka: Bathara Guru yang juga bergelar sebagai Sang Hyang Jagat Pratingkah. Apa yang dikenal dalam jagat pewayangan sebagai peristiwa “Gara-gara,” di samping disebabkan oleh saking kuatnya seorang ksatria dalam bertapa, tersebab pula oleh imajinasi sang penguasa Triloka yang kerap tergoda oleh pesona dan kenangan sang ratu wani wirang: Bathari Durga.

Dalam kebudayaan Jawa secara keseluruhan sering orang yang dianggap suci memiliki imajinasi yang dapat terwujud. Imajinasi di sini disebut pula sebagai cipta yang mana kekuatannya yang sanggup menjadi tumus atau menjadi nyata disebut sebagai “kemayan.” Bahkan dalam revolusi ‘68 di Prancis imajinasi itu adalah sebentuk kebaruan dalam proses pengetahuan manusia yang selama ini dipinggirkan oleh rasionalitas.

Atau seandainya merujuk pada Nietzsche yang berkehendak membangun sebuah tatanan dimana Tuhan telah mati dan manusia mesti bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri, orang akan menemukan sebuah daya yang selama ini dimampatkan oleh peradaban modern: daya dionisian yang lekat dengan imajinasi.

Perlu waktu yang tak sedikit untuk mengadakan sebuah perubahan. Dan siapa pun paham bahwa untuk mengadakan perubahan dibutuhkan imajinasi yang perlu ratusan tahun untuk mapan dan punya daya yang menggerakkan. Kebudayaan Jawa tentu saja adalah sebentuk kebudayaan yang sedemikian majunya ketika kebudayaan itu dimengerti sebagai sesuatu yang beranjak dari yang kasar menuju halus, berbentuk menuju tanpa bentuk, dan berupa menuju nirupa, dimana yang substansial akan melebihi yang formal (rumus derajat kebudayaan dalam kebudayaan Jawa sendiri).

Percaturan ideologis yang dapat terjadi tentu saja didasarkan pula pada kemapanan imajinasi dari suatu ideologi yang menggerakkan di belakangnya. Dari sejarah kita paham bahwa kekalahan islamisme (Islam sebagai ideologi politik yang tak berbeda dengan ideologi-ideologi lainnya) ataupun komunisme di nusantara bukan disebabkan oleh jumlah massa pengekornya, militansi para kader partainya, ataupun kapital yang mengitarinya. Namun kemenangan percaturan itu banyak didasarkan pada kemapanan sebuah imajinasi yang menggerakkan di belakangnya. Pada titik inilah sering dikatakan bahwa ideologi itu memang tak selalu rasional.

Imajinasi bangsa Indonesia secara keseluruhan memang tak terlalu karib dengan imajinasi Timur Tengah yang menggerakkan islamisme ataupun imajinasi Rusia (Eropa) serta China yang menggerakkan komunisme. Maka sebagaimana yang sudah kita pahami, kedua bentuk ideologi itu tak pernah memenangkan percaturan ideologis di nusantara.

Pada akhir-akhir ini ada yang gelisah tentang percaturan kandidat-kandidat presiden yang sama sekali tak memampangkan strategi kebudayaan yang cukup memuaskan dalam visi-misinya. Persoalannya saya kira sederhana saja, pembangunan imajinasi yang terkuat itulah yang nantinya akan memenangkan kandidat yang ada. Tolak-ukur kekuatan sebuah imajinasi tentu saja adalah terletak pada seberapa lama ia hidup, bergerak, dan menggerakkan. Maka, dalam hal ini, akan terasa berat ketika ada yang menggemakan sebuah perubahan yang radikal dimana ia sama sekali tak berupaya mengubah pula sebuah bangunan imajinasi yang secara pasti menggerakkan segala sesuatunya. Dan, seperti yang sudah saya utarakan, mengubah bangunan imajinasi tak semudah mengubah preferensi politik orang-orang yang lapar.

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Foto : Illustrasi permainan catur (Reuters)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid