LMND Diskusikan Pendidikan Ideal Menuju Indonesia Emas 2045

Yogyakarta, Berdikari Online – Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Kabupaten Sleman melaksanakan Diskusi Publik dengan tema “Membangun Pendidikan Ideal Menuju Indonesia Emas 2045” Selasa, 04 Juni 2024 di Bento Kopi Jamal.

Diskusi Publik ini dibuka dengan sambutan Muhammad Destin Alfajrin selaku pelaksana tugas (Plt) Ketua EK LMND SLEMAN. Dalam sambutannya, Destin menyampaikan Diskusi Publik ini sebagai upaya sadar bersama dalam melihat peran penting pendidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pada sore ini, kita berkumpul bersama untuk berdiskusi mengenai pentingnya pendidikan. Sesuai dengan tema “Membangun pendidikan yang ideal: Menuju Indonesia Emas 2045”, tentunya kita harus sadar akan pendidikan dapat membuat kita mengerti tentang hal-hal di sekitar kita, potensi masa depan, serta sejarah masa lampau,” ujar Destin.

“Pendidikan hari ini membentuk karakter generasi yang apatis dan cenderung individualis. Mereka lebih memikirkan feedback: apa yang menguntungkan bagi mereka dan tidak memikirkan hal lain. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pendidikan mengenai sikap sosial terhadap sesama,” tambah Destin.

Diskusi yang dihadiri pengurus EK LMND Sleman, mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa kampus, dan masyarakat umum ini menghadirkan narasumber di antaranya: Panji Kumillah dari Aliansi Pendidikan Gratis (Apatis) dan Evanthio Yudishtira dari Plt Sekretaris Eksekutif Wilayah LMND Daerah Istimewa Yogyakarta, serta moderator Feri dari Eksekutif Komisariat LMND Universitas Teknologi Yogyakarta.

Panji dalam diskusi tersebut menjelaskan, pendidikan pada perguruan tinggi mendapatkan subsidi, tapi tidak semua perguruan tinggi karena ada perguruan tinggi yang diperuntukkan untuk mencari keuntungan.

“Problem pendidikan hari ini tentu disebabkan paradigma liberalisasi yang dipraktekkan negara ini di mana pendidikan tidak diperuntukan sesuai dengan amanat Undang-Undang 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan pendidikan digunakan hanya untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini juga menjadi alasan demokrasi Indonesia semakin mundur karena prioritas pemerintah di sektor pendidikan kecil atau tidak serius. Selama pendidikan Indonesia hanya bisa diakses kecil, maka demokrasi Indonesia semakin terbelakang,” terang Panji.

Pembicara lain Evan menyatakan idealnya pendidikan haruslah bisa memanusiakan manusia. Namun yang terjadi pendidikan model gaya bank yang membuat kesadaran palsu. Kepatuhan yang terbangun kepada dosen atau guru adalah kepatuhan akan ketakutan bukan kepatuhan yang sadar.

“Ki Hajar telah mengonsepsikan: pendidikan kita sangatlah memanusiakan manusia. Kemerdekaan individu dalam proses belajar diarahkan pada minat dan bakat peserta didik. Tetapi sebaliknya Merdeka Belajar hari ini dimanfaatkan Pemerintah dan Lembaga Pendidikan sebagai ladang pembentukan tenaga kerja. Cipta, karsa, rasa tidak pernah utuh diupayakan ke masyarakat,” tandas evan.

Menurut Evan, upaya untuk membangun pendidikan yang ideal menuju Indonesia emas 2045 adalah wacana yang harus direalisasikan karena dengan inilah Indonesia Emas yang kita inginkan bisa terwujud.

(Wale Mukadar)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid