Konflik Agraria: 36 Petani Karawang Ditangkap dan Terancam Kriminalisasi

Konflik agraria tidak henti-hentinya menyuguhkan cerita pilu. Kali ini datang dari kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang hanya berjarak sekitar 70-an kilometer dari Ibukota Jakarta.

Kejadiannya bermula Senin (10/10) pagi. Alat berat milik PT Pertiwi Lestari, dengan dikawal oleh aparat Brimob dan security perusahaan, memasuki lahan perkebunan petani di dusun Cisadang, desa Wanajaya, kecamatan Teluk Jambe barat.

Melihat situasi itu, ratusan petani yang mayoritas ibu-ibu berusaha menghalau alat berat tersebut. Mereka berteriak histeris meminta agar pengrusakan tanaman milik petani dihentikan.

Namun, teriakan itu tidak diindahkan oleh pihak perusahaan. Aksi saling dorong pun tidak terhindarkan. Seorang ibu berusia 39 tahun, Ernawati, mengalami luka di lengan dan paha kiri. Dia menjadi korban pemukulan oleh Humas PT Pertiwi Lestari bernama Mariadi.

Tindakan brutal PT Pertiwi Lestari berlanjut besoknya, Selasa (11/10). Kali ini alat berat yang dikawal oleh ratusan orang perusahaan kembali mengobrak-abrik lahan perkebunan petani.

Bentrokan pecah saat alat berat berusaha menumbangkan pohong nangka yang nyaris menimpa rumah seorang petani. Melihat kejadian itu, petani pun berhamburan ke arah alat berat. Seorang petani bernama Enjam ditangkap dan dipukuli oleh pihak perusahaan.

Situasi itu membuat petani marah. Mereka mengejar orang-orang perusahaan. Karena kalah jumlah, orang-orang perusahaan pun lari tunggang langgang. Banyak orang perusahaan yang terjatuh dan membentur batu.

Aparat Brimob, yang mengawal perusahaan, melepaskan tembakan beberapa kali untuk membubarkan massa.

Usai kejadian, 200-an petani berkumpul di posko perjuangan. Namun, tak lama kemudian, ratusan polisi datang ke tempat mereka dan melakukan penangkapan.

Sebanyak 45 petani akhirnya ditangkap oleh Polisi dan dibawa paksa ke Markas Polres Karawang. Sebagian ditangkap di posko perjuangan, sebagian lagi dijemput paksa dirumah.

Dari 45 orang itu, 9 orang diantaranya yang masih di bawah umur akhirnya dibebaskan. Sementara 36 orang sisanya masih ditahan di Mapores dengan alasan masih dimintai keterangan.

Presiden harus turun tangan

Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN) Ahmad Rifai menyesalkan tindakan sepihak PT Pertiwi Lestari yang berusaha menyerobot lahan perkebunan milik petani.

“Kita masih mengusahakan penyelesaian konflik agraria ini jalan dialog, tetapi PT Pertiwi Lestari memaksakan kehendak dengan kekerasan,” jelasnya kepada berdikarionline.com, Rabu (12/10).

Menurut Rifai, pihaknya akan menyampaikan kasus ini ke Satgas Agraria yang dibentuk oleh Kantor Staf Presiden (KSP) untuk turun tangan menghentikan tindakan kekerasan oleh aparat keamanan dan PT Pertiwi Lestari.

“Kami meminta Satgas untuk memerintahkan Polres Karawang untuk segera membebaskan 36 petani yang masih ditahan,” tegasnya.

Dia juga meminta pihak terkait, seperti Pemkab Karawang, BPN Jabar, PT Pertiwi Lestari dan petani, untuk menyelesaikan persoalan konflik agraria ini dengan jalan musyawarah.

Risal Kurnia

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid