Kobarkan Kembali Api Kartini

Setengah abad lalu, ketika hari kelahiran Kartini diusulkan untuk diperingati, para pengusulnya berkeinginan besar agar pikiran dan perjuangan Kartini tetap berkobar sepanjang masa.

Mereka ingin, setiap 21 April itu menjadi momentum untuk menyalakan api pemikiran dan perjuangan Kartini. Sebab, sedikit-banyaknya, api pemikiran dan perjuangan Kartini banyak yang relevan dengan zaman sekarang.

Api Kartini

Dunia pemikiran Kartini sebetulnya sangat luas. Begitu juga perjuangannya.

Meski berumur agak singkat, tapi dunia pemikiran Kartini menggeluti banyak hal. Dari bicara kesetaraan gender, pendidikan, sastra, teknik batik, jurnalisme, hingga dunia sains dan teknologi.

Secara garis besar, api pemikiran dan perjuangan Kartini bisa diringkas sebagai berikut.

Api pertama Kartini adalah ide dan cita-citanya tentang kesetaraan. Bukan saja kesetaraan berbasis gender, tetapi kesetaraan yang lebih luas: kesetaraan manusia.

Memang tak terpungkiri, Kartini punya perhatian besar terhadap kesetaraan gender. Statusnya sebagai anak keturunan ningrat tak membuatnya lepas dan kebal dari belenggu patriarki.

Ia sendiri merasakan, pada usia 12 tahun, harus ditaruh dalam kotak pingitan. Tak bisa keluar ke mana-mana sebelum ada laki-laki pilihan orang tuanya yang berada di sisinya sebagai suaminya. Tak bisa bergaul bebas, apalagi mengenyam pendidikan sepuasnya.

Itu juga yang membuat Kartini mulai memikirkan perlunya melakukan perubahan. Dalam usia belia, dia sudah memimpikan kebebasan, kemerdekaan, dan berdiri sendiri. Kendati saat itu kata “emansipasi” belum terdengar di telinganya (Surat kepada Estella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899). 

Bagi Kartini, adat istiadat lama (yang patriarkis), dari pingit, perjodohan, hingga poligami, telah membelenggu kaum perempuan. Perempuan tak bisa merasakan kebebasan dan kemerdekaan seperti yang dinikmati laki-laki. Dan karena itu, tidak bisa menikmati menikmati pendidikan dan berkiprah di masyarakat.

Karena itu, Kartini menerjemahkan kesetaraan sebagai kondisi dan kesempatan yang sama yang harusnya dinikmati oleh perempuan dan laki-laki. Sehingga perempuan bisa bebas, merdeka, dan mandiri.

Namun, Kartini tak hanya bicara kesetaraan gender, tetapi juga kesetaraan yang lebih luas. Karena itu, dia juga menggugat feodalisme, yang membuat manusia tidak setara hanya karena asal-usul darahnya.

Kartini menyebut feodalisme sebagai penyakit yang menyebabkan hilangnya kesetia-kawanan, merendahkan martabat manusia, dan menghalangi kemajuan masyarakat

“Pada pikiran saya, tak ada yang lebih gila dan lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut keturunan bangsawan itu,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Estella H Zeehandelaar, 18 Agustus 1899.

Selain itu, Kartini juga menentang kolonialisme, yang telah membeda-bedakan manusia antara bangsa penjajah yang unggul dan bangsa terjajah yang hina-dina.

“Sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan’. Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan Hindia yang miskin,” tulisnya.

Api Kartini yang kedua adalah kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan kemajuan. Kartini selalu menganggap penguasaan ilmu, termasuk dari barat, sebagai kunci untuk mengejar kemajuan.

Karena itu, Kartini selalu mengapresiasi tinggi-tinggi setiap bumiputera yang maju dalam pendidikan. Misalnya, ketika Abdul Rivai, seorang lulusan STOVIA, bisa melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Kartini memujinya tinggi-tinggi.

Begitu juga ketika Agus Salim, seorang pemuda dari Sumatera, terbentur niatnya untuk sekolah dokter di negeri Belanda karena faktor biaya, Kartini langsung turun tangan. Ia meminta kepada Mr JH Abendanon, Menteri Pendidikan Hindia-Belanda kala itu, agar mengalihkan beasiswanya kepada Agus Salim.

“Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150 sebulan,” tulis Kartini dalam suratnya.

Kartini meletakkan pendidikan sebagai kunci emansipasi. Dengan pendidikan, seseorang bukan saja bisa mengejar kemajuan, tetapi jiwa dan pikirannya juga turut merdeka. 

“Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiyakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya,” tulis Kartini kepada E.H. Zeehandelaar, 12 Januari 1900.

Api Kartini yang ketiga adalah keberpihakan kepada rakyat banyak. Meski terlahir dari turunan ningrat, hidup di tengah lingkungan istana yang megah, tetapi pikiran dan keberpihakan Kartini tetap kepada rakyat jelata.

Kartini selalu tergugah ketika melihat kemiskinan dan kesengsaraan rakyat jelata. Dia juga tergetar marah ketika melihat ketidakadilan dan penindasan terhadap rakyat jelata itu.

“Di sekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara. Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang menderita di sekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh. Lebih keras lagi dari suara mengerang dan mengeluh, terdengar bunyi mendesing dan menderau dalam telinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja! Berjuanglah membebaskan diri,” tulis Kartini kepada Nyonya R.M. Abendanon – Mandri, 18 April 1902.

Situasi Hari Ini

Hari ini, seabad lebih setelah meninggalnya Kartini, kita berhadap-hadapan dengan situasi yang belum beranjak jauh dari zaman Kartini.

Sekarang ini, kita masih berhadapan dengan ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan itu masih nyata dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dari rumah tangga, ruang publik, hingga tempat kerja.

Berdasarkan Gender Gap Report 2020 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum, jurang kesetaraan gender di Indonesia berada di peringkat 85 dari 153 negara. Masih di bawah Filipina dan Singapura.

Akibat ketidaksetaraan itu, selain berhadapan dengan diskriminasi, perempuan juga masih rentan sebagai korban kekerasan. Pada 2020 lalu, masih ada 299.911 kasus kekerasan yang menimpa perempuan Indonesia (Catahu Komnas Perempuan).

Belum lagi, Indonesia hari ini sedang mengalami pasang konservatisme. Ide-ide yang ingin mengembalikan perempuan ke dalam rumah makin menguat. Bahkan promosi untuk poligami sangat gencar.

Selain ketidaksetaraan gender, Indonesia juga berhadap-hadapan dengan ketidaksetaraan ekonomi yang menganga sangat lebar. Kekayaan dan sumber daya dikuasai oleh segelintir orang.

Seperti banyak diungkap oleh sejumlah lembaga (Credit Suisse, Oxfam, dan TNP2K), 1 persen orang terkaya menguasai hampir separuh kekayaan dan sumber daya nasional. Sementara 10 persen terkaya menguasai 75,3 persen kekayaan nasional.

Ketidaksetaraan ekonomi bukan sekedar perbedaan kekayaan dan aset, tetapi juga perbedaan kondisi dan kesempatan di berbagai bidang, terutama politik, hukum, dan sosial-budaya.

Ketika Kartini meletakkan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai kunci kemajuan, Indonesia hari ini justru tercecer dalam urusan sumber daya manusia. Sebanyak 59 persen tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SMP ke bawah. Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia masih 34,8 persen. Jauh di bawah Malaysia (50 persen) dan Singapura (78 persen). Lebih miris lagi: masih ada 4 persen atau 10,8 juta rakyat Indonesia yang buta huruf.

Nyalakan Api Kartini

Memperingati hari Kartini, mari mengingat pesan Sukarno: ambil apinya, bukan abunya!

Mari menyalakan kembali api Kartini. Dengan memperjuangkan kesetaraan gender di segala bidang kehidupan. Tak bisa ditunda lagi, negara ini harus punya UU yang melindungi perempuan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi.

Sudah saatnya meletakkan pendidikan sebagai kunci kemajuan. Bukan saja memajukan perempuan, tetapi memajukan bangsa ini. Untuk itu, pendidikan yang berkualitas harus bisa diakses oleh semua warga negara tanpa diskriminasi dan rintangan biaya.

Agar “tugas manusia menjadi manusia”, kutipan dari Multatuli yang disukai Kartini, maka negara perlu memastikan pemenuhan hak-hak dasar rakyat, terutama pangan, air bersih, sandang, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Agar mereka bisa hidup bermartabat.

Selamat Hari Kartini.

RINI HARTONO, Ibu dari seorang anak perempuan, yang suka menulis dan tertarik dengan sejarah, sosial dan budaya, ekonomi dan politik, serta isu kesetaraan gender

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid