Kisah Sekolah Islam yang Melahirkan Kaum Radikal dan Progressif

Awal abad ke-20, Sumatera Barat sudah menjadi fajar bagi pendidikan Islam modern. Di sana berdiri sekolah Islam yang sudah mengadopsi model pendidikan modern. Namanya: Thawalib School.

Menurut Audrey Kahin, dalam bukunya Dari Pemberontakan Ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, perguruan Thawalib merupakan penerus dari perguruan agama tradisional bernama Surau Djembatan Besi.

Saat itu, di Sumatera Barat, sedang berkembang gerakan islam-reformis, yang berusaha memperbaharui ajaran Islam dari pengaruh tradisi masa lampau. Mereka juga sering disebut “Kaum Muda”.

Ada dua tokoh islam reformis yang cukup menonjol, yaitu, Haji Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul). Keduanya berusaha mendorong pembaruan Islam lewat jalur pendidikan atau sekolah.

Haji Abdullah dan Haji Rasul sama-sama menjadi pengajar di Surau Jembatan Besi. Selain mengajarkan pembaruan lewat sekolah, Haji Abdullah juga menyebarkan gagasan lewat majalah Al-Munir.

Lama kelamaan, semakin banyak orang yang belajar di Surau Jembatan Besi. Pengajar-pengajarnya juga bertambah banyak. Salah satu pengajar baru di surau itu bernama Zainuddin Labay El Junusy.

Saat itu, demam berorganisasi sedang mekar-mekarnya di seantero Nusantara, termasuk di Sumatera Barat. Dalam semangat itu, pada 1911, para pengajar dan murid surau Jembatan Besi mendirikan perkumpulan bernama Sumatera Thuwailib.

Seiring waktu yang berjalan, sistem pengajaran di surau Jembatan Besi juga berkembang. Model sekolah mulai terbentuk: ada kelas, kitab atau bahan pelajaran mulai diatur dan berjenjang, dan ada guru di setiap kelas.

Makin lama, para penuntut ilmu di surau juga makin banyak. Di saat bersamaan, sekitar tahun 1917-1918, Haji Rasul baru saja pulang dari mengunjungi Haji Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Perguruan ini resmi mendirikan gedung baru, dengan kelas-kelas yang berisi bangku dan meja. Inilah mengapa perguruan Thawalib menjadi sekolah islam pertama dengan konsep yang modern.

Satu tokoh yang menarik dari perguruan Thawalib ini adalah Zainuddin Labai el-Junisiah. Dia seorang guru berpikiran maju dan terbuka. Dia mulai mengajar di Surau Djembatan Besi sekitar tahun 1913.

Meskipun bukan jebolan Mekah ataupun Kairo, Zainuddin Labai sangat dihormati di Surau Djembatan Besi maupun di Thawalib. Ia lahir di Padang Panjang tahun 1890. Pernah mengenyam sekolah dasar pemerintah, tetapi dikeluarkan lantaran terus bersilang pendapat dengan guru-gurunya. Dia kemudian berguru pada ayahnya.

Di masa mudanya, Zainuddin sempat jadi Parewa–sebutan bagi anak muda yang melanglang buana, berpetualang, dan biasanya punya kemampuan ilmu silat. Meski begitu, keyakinan beragamanya sangat kuat. 

Tak hanya itu, Zainuddin juga banyak dipengaruhi oleh ajaran nasionalis Turki, Mustafa Kamal Attaturk. Dia-lah yang menerjemahkan biografi Kamal Attaturk dan menyebarkannya di kalangan anak muda Sumatera Barat.

Selain mengajar di Thawalib, Zainuddin juga mendirikan Sekolah Diniyah atau Diniyah School . Sekolah ini menekankan pendidikannya pada pelajaran umum, seperti menulis, membaca, matematika, ilmu falak, ilmu bumi, kesehatan, ilmu tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain. 

Zainuddin berpikiran radikal. Ia menolak subsidi dari Asisten Residen Belanda untuk sekolahnya. Tak hanya itu, ia tidak melarang murid-muridnya menghirup pemikiran radikal. Termasuk ajaran marxisme dan komunisme. Saat itu ajaran Karl Marx disebut “Ilmu Kuminih”.

Tahun 1918, Zainuddin mendirikan majalah Islam, Munirul Manar, yang dikelola oleh murid-muridnya. Kantor redaksi Jurnal ini menjadi tempat diskusi para pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah. Di sanalah para pelajar membaca koran dan memperluas jangkauan pengetahuannya. Kadang-kadang juga digelar acara “debating club”, yang menyedot minat para pelajar Thawalib dan Diniyah yang haus pengetahuan.

Tak hanya itu, pelajar Thawalib dan Diniyah juga mendirikan Koperasi. Selain menjual alat-alat belajar, Koperasi itu juga punya kantin yang disebut “Kantin Merah” atau juga sering disebut “Bofet Merah”. 

Djamaludin Tamin, salah seorang guru di Thawalib, mengisahkan kantin merah itu dalam buku stensilan “Sedjarah PKI”: Di Padang Pandjang, sebuah kota ketjil di Sumatera Tengah tempat berkumpul dan pusatnja pesantren Agama/Mahasiswa Ilmu Gaib dari seluruh Sumatera, sudah sedjak awal tahun 1920 di sanapun sudah mulai menjebut2 tentang Sosialisme-Komunisme Sarikat Merah, walaupun pada permulaannja makanja Padang Pandjang menjadi pusat kaum merah, menjadi kota merah di Sumatera, hanjalah mendirikan BOPET MERAH sebagai tjabangnja Koperasi kaum Merah di sana, jakni lima enam bulan sebelumnja lahir PKI di Semarang tahun 1920.

Tahun 1920-an, seiring dengan makin berkembangnya ajaran marxisme, murid-murid Thawalib pun banyak yang terpapar pemikiran dari tanah Barat itu. Diantara mereka adalah Haji Datuk Batuah dan Djamaluddin Tamin.

Pada tahun 1920-an, Haji Datuk Batuah ditugasi oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan sekolah-sekolah Thawalib di Aceh. Tak disangka, di sana diaa bertemu dengan Natar Zainuddin, seorang propagandis VSTP, serikat buruh berhaluan kiri yang berpusat di Semarang. Keduanya lantas berkawan akrab.

Tahun 1923, keduanya berangkat ke tanah Jawa. Kebetulan bertepatan dengan penyelenggaran Kongres PKI/SI Merah di Bandung, Jawa Barat. Datuk Batuah dan Natar jadi peserta kongres itu.

Di Kongres itulah Datuk Batuah berkenalan dengan seorang haji berhaluan kiri dari Surakarta, Haji Misbach. Di kongres itu, Misbach menyampaikan pidato panjang lebar tentang kesesuaian antara ajaran islam dan komunisme. Menurut Misbach, prinsip komunisme, yakni anti-penindasan, juga menjadi prinsip di dalam ajaran Islam.

Singkat cerita, pidato Haji Misbach itu sangat memikat Datuk Batuah. Begitu kembali ke Padang Panjang, ia menyebarkan pemahaman Misbach itu ke murid-muridnya di Thawalib. Tak hanya itu, ia menerbitkan koran bernama “Pemandangan Islam”. Tak pelak lagi, ilmu kuminih makin menyebar luas di kalangan murid-murid Thawalib.

Pada tanggal 20 November 1923, berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota). Dengan Haji Datuk Batuah sebagai propagandisnya, PKI Padang Panjang berkembang pesat. Saat itu Padang Panjang dikenal sebagai “Kota Merah”.

Pengaruh komunisme di Thawalib bukan tanpa reaksi. Guru-guru besar di Thawalib, seperti Haji Rasul, sangat menentang marxisme dan komunisme. Namun, ia tak berdaya membendung pengaruh marxisme di kalangan pengajar dan murid-murid Thawalib.

Namun, kiprah Datuk Batuah di Padang Panjang tidak panjang.  Pada 11 November 1923, Belanda mengirim satu detasemen Polisi untuk menangkap Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Keduanya dituduh berkomplot dengan penghulu Adat guna menyiapkan pemberontakan terhadap penguasa kolonial. Sehari kemudian, aktivis PKI Padang Panjang juga mulai ditangkapi. Djamaluddin Tamin, yang memprotes penangkapan itu di Pemandangan Islam, juga turut ditangkap sebulan kemudian.

“Para siswa Sumatera Thawalib menyalahkan Haji Rasul karena penangkapan guru-guru muda mereka,” tulis Kahin dalam Dari Pemberontakan Ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998.

Seturut kemudian, Bufet Merah juga terkena larangan untuk buka, lantaran dianggap tempat menyebarkan faham komunisme.

Bersamaan dengan pertarungan ideologis di tubuh perguruan Thawalib, sebuah gempa bumi besar berkekuatan 7.6 skala richter mengguncang kota Padang Panjang. Gempa yang menelan korban 300-jiwa itu juga meruntukan banyak bangunan sekolah Thawalib.

Di tahun-tahun itu, Haji Rasul kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Perguruan Thawalib dilanjutkan oleh Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim.

Hingga 1930-an, sekolah ini terus menghasilkan murid-murid yang progressif. Mereka mendirikan sebuah organisasi berhaluan nasionalis-Islam bernama Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Namun, karena pendiriannya yang anti-kolonial, PERMI juga bubar di tahun 1937.

MAHESA DANU

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid