Kisah Sukses Kuba Memproduksi Vaksin Covid-19 Sendiri

Kuba, negeri kecil di kepulauan Karibia, kembali membuat takjub dunia. Kerap dicap negeri miskin, bahkan diembargo selama lebih dari enam dekade, Kuba menjadi negara kecil pertama yang sukses memproduksi vaksin covid-19.

Akhir Maret lalu, vaksin Sobrena 02 memasuki uji klinis tahap ke-3. Vaksin yang diproduksi oleh Finlay Institute akan diuji coba pada 44.000 relawan. Kalau hasilnya baik, maka vaksin ini akan dibagikan gratis pada rakyat Kuba pada Agustus mendatang.

Selain Sobrena 02, Kuba juga punya 4 kandidat vaksin covid-19 lainnya: Sobrena 01, Sobrena plus, Abdala, dan Mambisa. Abdala juga akan menyusul memasuki uji klinis fase 3. Tiga lainnya, Soberana 01, Soberana Plus, dan Mambisa, masih menjalani uji klinis pertama.

“Kami sangat optimis,” kata Direktur Finlay Institute, Vicente Verez-Bencomo, seperti dikutip majalah medis paling bergengsi di dunia, pada 1 April lalu.

Nama-nama vaksin buatan Kuba ini punya makna tersendiri. Sobrena, dari bahasa Spanyol, berarti: kedaulatan. Abdala diambil dari judul buku drama patriotik karya revolusioner Kuba, Jose Marti. Sedangkan Mambisa diambil dari pejuang Kuba menentang kolonialis Spanyol.

Kalau vaksin-vaksin itu berhasil melalui uji klinis dengan hasil yang baik dan aman, maka sekali lagi Kuba akan menunjukkan kedaulatannya dalam urusan vaksin.

“Agar kami berdaulat, kami harus membuat vaksin sendiri. Butuh sembilan bulan untuk mewujudkan ide itu hingga memasuki uji klinis fase tiga sekarang,” kata Vincente Verez.

Perjuangan Panjang

Sebelum revolusi 1959, Kuba hanya punya 6000-an dokter. Itu pun, ketika terjadi revolusi, separuh dari jumlah itu memilih meninggalkan Kuba. Sudah begitu, setahun setelah revolusi, Kuba diembargo oleh Amerika Serikat.

Di sisi lain, revolusi punya mimpi besar untuk memberbaiki derajat kesehatan rakyat Kuba. Kesehatan menjadi salah satu program kunci dari revolusi. 

Gebrakan pun dimulai. Tahun 1960-an, Kuba menasionalisasi semua perusahaan farmasi, baik domestik maupun milik modal asing. Juga menasionalisasi berbagai fasilitas dan pelayanan kesehatan.

Setahun kemudian, Kuba juga menasionalisasi semua lembaga pendidikan kesehatan di negerinya. Tak terkecuali lembaga pendidikan kedokteran dan kesehatan.

Dengan begitu, pintu-pintu lembaga pendidikan terbuka bagi seluruh anak-anak Kuba. Di masa-masa yang sama, di seantero negeri, kaum terpelajar dimobilisasi untuk memberantas buta-huruf.

Pemajuan pendidikan berdampak signifikan pada pemajuan kesehatan Kuba. Selain meningkatkan jumlah tenaga kesehatan, revolusi pendidikan sukses mendongkrak sumber daya manusia Kuba.

Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Tahun 1965, sebuah pusat penelitian milik negara, National Center for Scientific Research (CNIC), didirikan. Sejak itu, Kuba mulai menggencarkan penelitian di bidang kesehatan.

Tak cukup, seperti dicatat Helen Yaffe, seorang pengajar di Universitas Glasgow yang banyak meneliti dan menulis soal Kuba, ilmuwan Kuba dikirim untuk belajar di berbagai belahan dunia. 

Tahun 1980-an, ketika bioteknologi mulai berkembang di dunia, Kuba tak mau ketinggalan. Bermula dari sebuah laboratorium kecil di Havana, Kuba mulai merancang pengembangan bioteknologi.

Usaha itu berbuah hasil. Tahun 1986, Kuba mendirikan sebuah pusat pengembangan bioteknologi: Genetic Engineering and Biotechnology Center (CIGB). Dari sinilah Kuba mulai memproduksi interferon (alfa dan beta), vaksin hepatitis B, streptokinase, dan erythropoietin.

Sejak itu, sebagian besar obat-obatan dan vaksin di Kuba diproduksi sendiri. Bukan diimpor dari luar negeri. Ketersediaanya bisa diakses oleh seluruh rakyat Kuba dengan harga murah, bahkan gratis.

Di tahun 1990-an, ketika Kuba bertatap muka dengan masa-sama sulit setelah runtuhnya Uni Soviet, usaha memajukan dunia kesehatan Kuba tak berhenti. Termasuk pengembangan bioteknologi.

Anggaran negara sangat terbatas. Agar bisa bertahan, Kuba mengencangkan ikat pinggang. Belanja militer dan persenjataan dipangkas. Gaji pejabat dan aparatus negara dipangkas. Anggaran yang sedikit itu difokuskan pada pendidikan dan kesehatan. Lebih gila lagi, Kuba membelanjakan 1,2 persen dari PDB-nya hanya untuk memajukan riset dan teknologi.

Hasilnya luar biasa. Tahun 1991, di masa-masa yang sulit, Kuba berhasil mendirikan Finlay Institute, salah satu lembaga riset yang hari ini memproduksi vaksin covid-19.

Tahun 1992, Kuba punya Centro de Inmunología Molecular atau Pusat Imunologi Molekuker, sebuah institute bioteknologi yang khusus menangani pengobatan kanker. Salah satu hasilnya: vaksin CimaVax-EGF, untuk mengobati kanker paru-paru.

Tahun 2005, Kuba punya El Centro de Neurociencias de Cuba atau Pusat Neurosains Kuba (CNERO), yang tujuan utamanya mengembangkan neurosains di Kuba. Sebetulnya, cikal bakalnya sudah ada sejak 1969.

Dan puncaknya, di tahun 2012, untuk menyatukan berbagai lembaga riset dan perusahaan farmasi dalam memajukan bioteknologi Kuba, didirikanlah semacam holding company bernama BioCubaFarma.

Jadi, keberhasilan Kuba menjadi satu-satunya negara kecil dan miskin yang berhasil menciptakan vaksin covid-19 tidak muncul tiba-tiba. Tidak lahir mimpi basah nasionalisme di tengah siang bolong seperti kisah vaksin Nusantara di negeri Antah Berantah.

Prestasi itu lahir dari kerja besar sebuah negara kecil, miskin, dan sedang diembargo, dengan memajukan pendidikan dan kesehatannya, dengan memobilisasi sebagian besar anggaran untuk memajukan sains dan teknologi, demi sebuah cita-cita mulia: menyehatkan bangsa menggunakan produksi bangsa sendiri.

RAYMOND SAMUEL

Sumber foto: The Economist

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid