Kisah Sukses Kerala Menghadapi Covid-19

Sementara India dengan 1,3 milyar penduduknya masih berjibaku mengatasi pandemi Covid-19, satu dari 28 Negara bagiannya justru bisa berdiri dengan kepala tegak.

Kerala, negeri bagian di India bagian barat daya, telah berhasil meratakan kurva (flattening the curve) penyebaran covid-19. Kisah sukses ini yang disebut-sebut oleh banyak orang sebagai “model Kerala”.

Kerala adalah negara bagian pertama yang melaporkan adanya kasus covid-19 pada seorang mahasiswa kedokteran yang baru pulang dari Wuhan, Tiongkok, pada akhir Januari 2020.

Ketika Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan penguncian totoal (lockdown) secara nasional, pada 24 Maret 2020, Kerala memiliki kasus terbanyak di seluruh India.

Akan tetapi, hari ini, Kerala menjadi peringkat terendah terkait jumlah kasus covid-19 yang terkonfirmasi, sekaligus pemilik jumlah terbanyak kasus yang sembuh. Selain itu, tingkat kematian akibat covid-19 hanya 0,53 persen, merupakan yang terendah di India.

Kerala terbukti sukses mencegah penyebaran virus yang telah menyebabkan banyak malapetaka di berbagai tempat lain di India.

Keberhasilan “model Kerala” benar-benar mengagumkan. Otoritas kesehatan publik benar-benar memprioritaskan deteksi dini lewat tes yang massif, penelusuran kontak yang meluas, dan karantina 28 hari bagi yang terinfeksi (tempat lain di India mengikuti standar WHO: 14 hari).

Sebelum covid-19 masuk ke India, pada 18 Januari, Kerala sudah mengeluarkan peringatan dini. Mereka melakukan penapisan massal di semua terminal kedatangan empat bandara internasionalnya. Mereka punya indikasi covid-19 langsung dikirim ke rumah sakit dan dikarantina.

Pada 4 Februari 2020, Kerala mengumumkan wabah korona sebagai bencana kesehatan di tingkat Negara bagian (WHO mengumkan virus korona sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020). Segera setelah itu, sekolah dan pertemuan publik langsung dibatasi.

Pada awal Maret 2020, Kerala sudah melakukan penguncian wilayah (lockdown). Pemerintah pusat India baru menyusul seminggu kemudian. Sementara Kerala telah memobilisasi 30 ribu tenaga kesehatannya. Dan ribuan orang sudah ditempatkan dalam karantina.

Sebetulnya, Kerala terbilang memang bersiap menghadapi pandemi ini. Diantara semua negara bagian di India, Kerala mengalokasikan belanja kesehatan tertinggi untuk perbaikan infrastuktur kesehatannya. Juga membangun dan mendanai layanan kesehatan berbasis desa. Juga memiliki sistem sosial yang mendorong kerjasama dan partisipasi publik.

Tak hanya itu, Kerala juga memiliki tingkat melek huruf tertinggi di India (97 persen). Selain itu, Kerala juga punya kebanggaan yang lain: jumlah kelahiran terkendali (terhindar dari over-populasi), angka harapan hidup yang lebih tinggi, pemberdayaan perempuan, dan program sosial untuk kelompok rentan dan terpinggirkan.

Tidak ada orang mengemis maupun kelaparan di Kerala (sesuatu yang umum di India). Kerala juga membuka akses kesehatan gratis kepada warganya untuk mendapatkan perawatan dan informasi kesehatan. Semua warga dihargai haknya dan dianggap setara. Tak ada yang menjadi subjek persekusi, sebagaimana lazimnya di tempat lain di India.

Sepanjang krisis ini, warga Kerala yang memang lebih terdidik dan terbukti lebih bertanggung-jawab, lebih patuh pada pembatasan sosial, lebih patuh dan bekerjasama dengan otoritas, dan mencari pengobatan secepatnya jika membutuhkan.

Memang, kelembagaan dan budaya politik itu tidak jatuh muncul begitu saja. Kerala membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan infrastruktur yang mendukung pembangunan sosial, yang membuatnya terdepan dari seluruh negara bagian di India dalam berbagai indikator.

Disamping sistem kesejahteraan yang berbasis hak warga, Kerala juga punya masyarakat sipil yang kuat dan aktif. Media yang bebas dan independen. Juga sistem politik yang kompetitif (tidak monolitik).

Bentuk nyata dari demokrasi sosial tampak dari kontribusi koalisi komunis maupun Kongres yang silih berganti berkuasa dari waktu ke waktu.  Para pengamat asing bilang, negara sosial yang kuat tercermin dari tingkat kepercayaan rakyat yang tinggi terhadap institusi politik dan wakil-wakil rakyat.

Sebagai hasilnya, Kerala bisa menerapkan pembatasan sosial yang lebih humanis dan dipatuhi, ketimbang negara-negara bagian lain di India. Ketika ada warga Kerala yang dikarantina di rumah, maka Polisi akan segera datang untuk mengantarkan kebutuhannya.

Ketika sekolah ditutup (dialihkan ke belajar di rumah), orang tua miskin bisa meminta sekolah tetap menyediakan makanan siang yang sehat dan bergizi untuk anak didiknya di rumah. Sebelum pemerintah pusat menerapkan penguncian total (lockdown), Kerala telah mengumumkan paket bantuan sosial bagi warganya.

Sementara itu, Kudumbashree, sebuah gerakan rakyat akar rumput dan kelompok perempuan, telah membantu Negara dengan memproduksi 2 juta masker dan 5000 liter hand-sanitizer di bulan pertama penguncian wilayah.

Sekitar 1200 dapur umum yang berdiri guna memberi makan kepada yang kurang mampu dan pengangguran. Kudumbashree juga menyediakan 300 ribu makanan per hari.

Selama pandemi, Kerala juga intensif memberi mengedukasi publik soal resiko kesehatan covid-19, bagaimana mencegahnya, dan melawan kabar bohong (hoax).

Tidak seperti negara bagian lain, respon Kerala bertumpu pada partisipasi warganya. Bukan pada penegak hukum (tak ada adegan cambuk-cambukan di Kerala). Ketika buruh migran resah (orang luar yang bekerja di Kerala), mereka diberi akomodasi dan makanan gratis. Instruksi ini langsung disampaikan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh buruh migran itu. Dan memang dipatuhi.

Di negara bagian lainnya di India, jutaan buruh migran dibiarkan terlempar ke jalanan dan berjalan kaki hingga ribuan kilometer ke kampung halamannya.

Kerala, salah negara bagian dengan penduduk terpadat di India, telah sukses besar menghadapi pandemi. Padahal, sekitar 17 persen warganya bekerja di tempat lain (uang yang mereka kirim pulang/remitansi berkontribusi pada 35 persen pendapatan negara bagian).

Lebih dari 1 juta wisatawan asing mengunjungi Kerala setiap tahunnya. Sementara ratusan pemuda Kerala belajar di luar negeri, terutama di Tiongkok.

Semua mobilitas itu menempatkan Kerala dalam situasi rentan terhadap penyebaran penyakit menular, tetapi ternyata mereka berhasil melalui krisis ini.

Pencapaian yang luar biasa itu berkat tradisi politik yang terdesentralisasi ke tangan warga, transparan, egaliter, hak sipil yang kuat, kepercayaan publik yang tinggi, dan pemerintahan yang memang bersih.

Kerala harusnya menjadi pelajaran bagi seluruh India, baik untuk menghadapi pandemi ini maupun masa depan. Sayangnya, tidak satu pun pejabat tinggi di New Delhi yang memberi perhatian terhadap kisah sukses yang berlangsung di depan hidung mereka.

SHASHI THAROOR, bekas Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); pernah menjabat Menteri Luar Negeri, Menteri Pembangunan Sumber Daya Manusia, dan anggota parlemen dari Partai Kongres. Dia juga penulis buku “Pax Indica: India and the World of the 21st Century”.


Diterjemahkan dari sumber aslinya di PROJECT SYNDICATE.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid