Kisah Aktivis Buruh Menjadi Presiden

6 Oktober 2002, sejarah baru tertoreh di Brazil. Lula da Silva, seorang aktivis buruh yang tak lulus Sekolah Dasar (SD), memenangkan Pemilu. Tidak tanggung-tanggung, dia menang dengan suara mutlak: 61,27 persen.

Lula menjabat Presiden dari 2003 hingga 2006. Lalu, di pemilu tahun 2006, ia menang lagi. Dia kemudian menjabat periode ke-2 dari 2006 hingga 2010.

Semasa menjabat, Lula dianggap Presiden paling sukses dalam sejarah Brazil. Di periode kedua, tingkat penerimaan publik Brazil atas pemerintahannya di kisaran 80 persen. Dia penggagas program anti-kemiskinan bernama Bolsa Família, yang berhasil membawa puluhan juta kaum miskin Brazil keluar dari kemiskinan. Program ini dipuji-puji oleh Bank Dunia, dan mulai diterapkan di banyak Negara, seperti Chile, Meksiko, Afrika Selatan, dan lain-lain.

Tahun 2009 lalu, sutradara Brazil Fábio Barreto mengangkat kisah hidup Lula da Silva ke layar lebar, lewat berjudul “Lula, o Filho do Brasil (Lula, The Son of Brazil)”. Film ini mengangkat jalan hidup penuh onak dari Lula.

Pemilik nama lengkap Luiz Inácio Lula da Silva ini lahir pada 27 Oktober 1945 di Caetés, sebuah kota kecil di negara bagian Pernambuco.

Lula lahir dari keluarga sangat miskin. Ayahnya bernama Aristides Inácio da Silva, seorang penganggur yang tiap hari menenggak alkohol hingga mabuk. Keluarganya hanya ditopang sendirian oleh ibunya, Dona Lindu, seorang pekerja keras dan kaya ajaran moral.

Tekanan kemiskinan itulah yang memaksa keluarga Lula pindah ke Guarujá, sebuah kota kecil di negara bagian Sao Paulo. Perjalanan mereka yang memakan waktu 13 hari, dengan menumpang mobil bak terbuka, disebut “jalan menuju kebahagiaan”.

Namun, Sao Paulo, kota terbesar di Brazil itu, tidak menyambut Lula dan keluarga dengan kebahagiaan. Ibunya menghidupi anak-anaknya dengan memunguti beras yang jatuh di gudang penggilingan.

Lula kecil sempat mengenyam pendidikan dasar. Dia anak yang cerdas. Namun, baru menginjak kelas empat, kemiskinan memaksanya meninggalkan bangku sekolah.

Lula kecil jadi anak jalanan. Dari tukang semir sepatu hingga pedagang asongan. Beranjak remaja, dia sempat bekerja di usaha laundry pakaian. Tetapi pekerjaan itu hanya cukup untuk membuatnya bisa bertahan hidup, tidak cukup untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Tetapi Lula kecil, seperti anak-anak Brazil pada umumnya, sangat menyukai sepak bola. Dia selalu menempati posisi sebagai striker  dengan nomor punggung 9. Hingga jadi Presiden, Lula tetap menyelipkan waktu untuk menikmati pertandingan sepak bola.

Di usia 14 tahun, Lula mencoba peruntungan nasib dengan mengikuti kursus Kerja di pelatihan kerja di National Industrial Learning Service (SENAI)—semacam Balai Latihan Kerja (BLK) di Indonesia.

Tahun 1961, dia lulus dan mendapat sertifikat sebagai operator bubut. Dia kemudian bekerja di sebuah pabrik suku cadang mobil. Sayang, di usia 19 tahun, akibat kecelakaan kerja di pabri itu, Lula kehilangan jari kelingkingnya.

Begitu bergaji, Lula menikahi pacarnya, Maria de Lurdes. Keluarga mereka sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak panjang. Ketika melahirkan anak pertamanya, Lurdes meninggal dunia. Lula sangat terpukul oleh kejadian itu.

Lula mengenal gerakan buruh dari kakaknya, Frei Chico, seorang aktivis serikat buruh kiri. Lula pun bergabung dengan serikat buruh metal São Bernardo.

Tahun 1964, Brazil jatuh ke tangan diktator militer. Demokrasi ditebas. Kebebasan berserikat, termasuk serikat buruh, dibatasi dan dikontrol ketat.

Di masa itulah pelan-pelan Lula merangkak naik sebagai tokoh gerakan buruh. Di tahun 1969, dia sudah jajaran kepemimpinan Serikat Buruh Metal São Bernardo de Campo. Tahun 1975, dia terpilih sebagai Presidennya. Serikat buruh yang dipimpinnya punya anggota ratusan ribu.

Lama-kelamaan, Lula makin radikal. Di akhir 1970-an, akibat resep ekonomi IMF, ekonomi Brazil memburuk. Pemogokan buruh meletus di mana-mana. Termasuk di kawasan industri yang disebut “Kawasan ABC”, yang meliputi São Bernardo, Santo André, dan  São Caetano do Sul.

Tahun 1979, Lula hadir menyaksikan pertandingan sepak bola antara Corinthians versus Guarani di stadion Morumbi. Dia terpukau dengan jumlah penonton yang membludak. Dalam imajinasi Lula, bagaimana kalau penonton itu adalah buruh yang sedang mogok.

Rupanya, Lula ingin membumikan imajinasinya itu. Di tahun itu juga dia mengorganisir pemogokan buruh metalurgi. Aksinya dilakukan di stadion Vila Euclides di  São Bernardo. Karena ketakutan, rezim militer menindas pemogokan itu.

Di situlah ketokohan Lula makin menjulang. Dia berorasi tanpa pengeras suara, tetapi orang terpukau mendengarnya. Suaranya menggelegar sekalipun tanpa pelantang. Gaya dan isi orasinya punya daya pikat.

Pada Hari Buruh Sedunia 1979, Lula kembali mengerakkan ratusan ribu buruh ke stadion.

Tahun 1980-an, Lula memimpin pemogokan buruh yang berlangsung 81 hari. Aksi yang melibatkan 140.000 buruh ini mengguncang kekuasaan rezim militer.

Nama Lula sebagai tokoh gerakan buruh mulai menjulang tinggi. Dia mulai mengisi daftar orang paling berbahaya di mata rezim militer. Akhirnya, 19 April 1980, Lula ditangkap paksa di rumahnya dan di depan istrinya.

Lula dipenjara. Solidaritas internasional yang mengalir, termasuk Amnesti Internasional, tidak berhasil membebaskannya dari penjara. Saat meringkuk di balik jeruji besi, kabar buruk datang menyapa: Ibunya meninggal. Lula mendatangi prosesi pemakaman ibunya dengan kawalan polisi.

Di tahun 1980 juga, bersama dengan sejumlah akademisi kiri, seniman, aktivis mahasiswa, dan Katolik penganut teologi pembebasan, Lula mendirikan Partai Buruh (PT).

Berikutnya, di tahun 1983, Lula berhasil memprakarsai berdirinya serikat buruh kiri terbesar di Brazil, Central Única dos Trabalhadores (CUT).

Akhir 1980an, Partai Buruh berhasil menang di sejumlah pemilu lokal, terutama di Porto Allegre dan Sao Paulo. Ketika berkuasa, Partai Buruh menerapkan konsep penganggaran progressif yang disebut “Anggaran Partisipatif”.

Tahun 1989, Lula maju sebagai Capres. Namun, karena berhadapan dengan Capres yang disokong oligarki dan media, Lula hanya menempati urutan kedua.

Di Pemilu 1994 dan 1998, Lula juga maju sebagai Capres. Tetapi dia dikalahkan oleh seorang intelektual bernama Fernando Henrique Cardoso.

Di pemilu 2002, Lula maju lagi, seiring dengan “pasang merah” yang tengah melanda benua Amerika latin. Kali ini Lula berhasil menang. Sekaligus mencatat sejarah baru dalam politik Brazil: seorang aktivis buruh, yang tidak tamat SD, berhasil jadi Presiden.

Saat menjabat Presiden, Lula melahirkan banyak program progressif dan populer. Dia menciptakan program Bolsa Família guna menolong keluarga miskin dan kelompok rentan. Dia juga menyalurkan kredit lunak bagi petani dan produsen berskala kecil.

Tidak mengherankan, seperti diakui Bank Dunia, angka kemiskinan di Brazil turun drastis dari 27 persen di tahun 2003 menjadi 7 persen di tahun 2009. Dia juga berhasil memangkas kesenjangan sosial yang sempat melebar di negeri itu.

Ekonomi Brazil juga tumbuh perkasa. Bahkan, ketika dunia dihantam krisis ekonomi tahun 2009, ekonomi Brazil tetap tumbuh 7,5 persen. Itu yang menyebabkan Brazil muncul sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia dan memprakarsai lahirnya BRICS (Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan).

Begitulah kisah Lula da Silva, si aktivis buruh, menapak jalan sebagai tokoh politik penting dalam sejarah Brazil.

Oiya, dalam pemilu Brazil tahun depan, Lula kemungkinan akan menjadi Capres lagi. Dia akan bersaing dengan Presiden Brazil yang sekarang, Jair Bolsonaro. Dari sejumlah jajak pendapat, Lula unggul cukup jauh dari Bolsonaro.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid