Ketimpangan Peluang Hidup

“Dari semua bentuk ketimpangan, ketidakadilan dalam kesehatanlah yang paling tidak manusiawi,” begitu kata pejuang hak-hak sipil Amerika Serikat, Martin Luther King Jr.

Ketimpangan memang bentuk ketidakadilan. Namun, ketimpangan yang paling tak adil di dunia adalah ketimpangan peluang hidup, sebuah kondisi di mana seorang atau sekelompok orang lebih kecil peluang hidupnya dibandingkan manusia lainnya.

Ketimpangan Vital

Göran Therborn, seorang profesor sosiologi di Universitas Cambridge, memperkenalkan istilah “ketimpangan vital”, yang merujuk pada peluang hidup yang tidak setara.

Idealnya, semua orang terlahir dalam kondisi yang sehat. Begitu lahir, mereka mendapat perawatan terbaik, terpenuhi kebutuhan fisik-biologisnya (nutrisi, imunisasi, bermain, beristirahat, dan mendapat layanan kesehatan reguler), sehingga bisa tumbuh dengan optimal.

Faktanya, ada 24 bayi yang meninggal dalam setiap 1000 kelahiran hidup di Indonesia (SDKI, 2017). Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2021, angka kematian bayi neonatal (usia 0-28 hari) di Indonesia sebesar 11,7 dari 1.000 bayi lahir hidup. 

Pada 2020, ada 28.158 bayi di Indonesia yang meninggal sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Sebagian besar karena pneumonia (36 persen), penyakit bawaan (13 persen), dan diare (10 persen). Mirisnya, semua penyakit itu terkait dengan dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat, seperti udara kotor dan sanitasi yang buruk.

Masalahnya belum berhenti di situ. Setelah lahir dan selamat dari kematian, tak sedikit anak Indonesia yang berhadapan gizi yang buruk. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, ada 24,4 persen anak Indonesia yang mengalami tengkes (stunting). 

Tengkes tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga pada rendahnya kemampuan anak untuk belajar. Anak dengan tengkes juga sangat berisiko mengalami keterbelakangan mental dan memiliki penyakit kronis.

Dan, dari semua itu, gambaran besarnya adalah usia harapan hidup manusia Indonesia. Pada 2022, usia harapan hidup Indonesia sudah mencapai 71,85 tahun. Memang, usia harapan hidup manusia Indonesia meningkat dari 40 tahun (1945) menjadi 72 tahun (2022) atau 81 persen. Namun, dibanding dengan negara yang usia kemerdekaannya hampir sama, seperti Korea Selatan (83,35 tahun), Malaysia (75,94 tahun), dan Singapura (83,93 tahun), Indonesia masih tertinggal jauh.

Usia harapan hidup sangat terkait dengan kualitas layanan kesehatan, pemenuhan hak dasar, dan tingkat kesejahteraan. Betapa mirisnya, usia seseorang, apalagi sebuah bangsa, lebih rendah hanya karena kualitas kesehatan dan kesejahteraannya lebih rendah juga.

Angka kematian bayi neonatal/balita yang tinggi, tengkes yang tinggi, maupun usia harapan hidup yang rendah, merupakan cerminan dari ketimpangan vital. Ketimpangan vital menyebabkan peluang hidup seseorang berbeda dari lainnya. Ketimpangan vital juga menyebabkan seseorang tidak bisa memaksimalkan potensi dirinya, agar bisa bermanfaat bagi diri dan lingkungan sosialnya.

Problem Kemiskinan

Tingginya angka kematian bayi neonatal/balita dan tengkes sangat terkait dengan kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan seseorang kesulitan mengakses makanan yang bergizi, persalinan yang aman, tempat tinggal dan lingkungan yang sehat, dan layanan kesehatan yang baik.

Namun, ketimpangan ekonomi turut memperparah ketimpangan peluang hidup. Mereka yang punya status ekonomi lebih tinggi punya akses tak terbatas untuk perawatan medis dan kemampuan untuk menghindari penyakit (Braveman, Egerter dan Williams, 2011). Si miskin justru sebaliknya.

Sebuah studi, yang mengambil sampel AS dan Denmark pada 2001 hingga 2014, menunjukkan bahwa orang-orang berpendapatan tinggi memiliki usia harapan hidup lebih tinggi dibanding si miskin (Dahl dkk, 2020). 

Ketimpangan juga membela negara kaya dan miskin. 10 negara dengan usia harapan hidup terpanjang adalah negara-negara kaya, seperti Jepang, Swiss, Singapura, dan lain-lain. Sebaliknya, 10 negara dengan usia harapan hidup terpendek adalah negara miskin dan dilanda konflik, seperti Sudan selatan, Nigeria, Chad, Somalia, dan Lesotho.

Kemiskinan telah telah menjauhkan si miskin dari akses yang diperlukan untuk bertahan hidup, memperbaiki kualitas hidupnya, dan mengembangkan potensinya. 

Bisa disimpulkan bahwa penanganan ketimpangan peluang hidup sangat terkait dengan pemenuhan hak dasar rakyat dan pengurangan ketimpangan ekonomi.

Sesuai dengan janji kemerdekaan yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

RUDI HARTONO, pimred Berdikarionline.com

Kredit photo: UNICEF Indonesia

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid