Ketika Pesantren Berkunjung Ke Kantor PRD

Selasa (13/10/2015) siang, Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW PRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menerima kunjungan tamu istimewa: puluhan siswi pesantren Taruna Panatagama putri.

Rupanya, pesantren yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta, ini ingin mengetahui ide-ide PRD dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Bak gayung bersambut, pengurus KPW PRD DIY pun menggunakan kesempatan baik ini untuk menjelaskan visi besar PRD untuk Indonesia kedepan.

Ketua KPW PRD DIY Ardy Syihab membeberkan gagasan PRD mengenai Republik Indonesia Keempat. Menurut Ardy, Republik Indonesia Keempat hanya penamaan saja dari sebuah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh PRD, yaitu masyarakat adil dan makmur.

Lebih lanjut, Ardy menjelaskan, PRD membagi babakan sejarah Republik ke dalam empat fase. Yang pertama, Republik Indonesia Pertama yang mengambil kurun waktu dari Proklamasi Kemerdekaan hingga tergulingnya kekuasaan Bung Karno.

“Republik Indonesia pertama telah meletakkan dasar-dasar Indonesia yang merdeka dan bervisi Trisakti, yakni Pancasila dan UUD 1945. Pancasila menjadi dasarnya, sedangkan UUD 1945 menjadi haluan atau pedomannya,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut Ardy, adalah Republik Indonesia Kedua yang mengambil kurun waktu pada era Orde Baru. Pada era ini, jelas dia, Indonesia tunduk kembali pada kapitalisme global atau imperialisme dengan membuka pintu bagi merajalelanya modal asing.

“Orde Baru membuka pintu bagi modal asing dengan memberangus kebebasan berserikat dan berpendapat,” tegasnya.

Selanjutnya, kata Ardy, adalah Republik Indonesia Ketiga, yang mengambil kurun waktu sejak bergulirnya reformasi 1998 hingga sekarang ini. Hampir mirip dengan Orde Baru, Republik Indonesia Ketiga juga bergantung pada modal asing.

Ardy mengatakan, untuk memperjuangkan Republik Indonesia Keempat, PRD menjadikan Pancasila sebagai dasarnya, sedangkan Trisakti sebagai jalannya. Ardy pun bercerita panjang lebar tentang Pancasila dan Trisakti.

Setelah penjelasan dari Ketua PRD DIY, siswi pesantren Taruna Panatagama pun diberi kesempatan bertanya. Icha, salah seorang siswi, mempertanyakan langkah PRD membawa Indonesia keluar dari cengkeraman imperialisme.

Menjawab pertanyaaan itu, Ardy menjelaskan soal perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme. Lalu dia menjelaskan strategi politik PRD yang mengedepankan persatuan nasional sebagai alat untuk melawan imperialisme.

Ardy juga menjelaskan soal gerakan yang diusung PRD, yaitu gerakan memperjuangkan tegaknya pasal 33 UUD 1945, sebagai jalan melawan dominasi kapital asing dalam penguasaan kekayaan alam Indonesia.

Sayangnya, diskusi yang berlangsung hangat ini harus terhenti karena waktu berkunjung sudah usai. Tepat pukul 15.30 WIB, kunjungan siswi pesantren Taruna Panatagama ditutup dengan tepuk tangan sangat meriah.

Medi Muamar

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid