Kesederhanaan Bapak Bangsa

Sebagian besar kita dongkol dengan aksi pejabat yang pamer kekayaan dan gaya hidup mewah di media sosial. Betapa tidak, gaya hidup mereka sangat jauh dari gaji dan tunjangannya.

Tak hanya itu, tidak sedikit dari harta pejabat itu yang patut dipertanyakan asal-usulnya. Tentu saja, betapa geramnya kita jika ternyata harta itu berasal dari praktek korupsi maupun perburuan rente.

Baiklah, di tengah kejenuhan terhadap gaya hidup para elit pejabat itu, mari terbangkan ingatan kita terhadap kesederhanaan bapak-ibu pendiri bangsa. Di tengah kekeringan suri-teladan kesederhanaan pemimpin, semoga bapak bangsa berikut bisa jadi sumber inspirasi dan suri-tauladan.

#1 Mohammad Hatta

Suatu hari pada 1947, di Bukit Tinggi, Bung Hatta hendak menumpang bendi. Tawar-menawar pun terjadi, tapi harga tak kunjung cocok. Tak sabar meladeni, sais itu menghardik dengan suara keras, “Kalau tidak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja,” katanya.

Memang, semasa menjabat sebagai Wakil Presiden, kehidupan Bung Hatta sangat jauh dari kemewahan. Hidupnya sangat sederhana. Saat menjabat sebagai Wapres, dia diberi mobil dinas. Namun, mobil dinas itu tidak pernah terpakai untuk urusan di luar dinas.

Setelah meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta hanya punya dana tabungan Rp 200 saja. Sementara uang pensiunnya hanya Rp 125 per bulan. Bahkan mantan Wakil Presiden RI ini pernah kesulitan membayar tagihan listrik. Demi menutupi kebutuhan keluarga, dia hanya berharap pada honor tulisan-tulisannya.

Suatu hari, pada 1980-an, tak lama setelah ia wafat, keluarganya menemukan potongan koran berisi iklan sepatu Bally tersimpan rapi di dalam dompetnya. Rupanya, Bung Hatta sangat mengidamkan sepatu keren buatan Swiss itu.

Namun, sampai akhir hayatnya, dia tak sanggup membeli sepatu impiannya itu. 

#2 Haji Agus Salim

Haji Agus Salim adalah diplomat senior Indonesia. Tokoh yang dijuluki “The Grand Old Man” pernah menjadi Menteri Luar Negeri RI di empat kabinet dari 1947 hingga 1949.

Profesor William Schermerhorn, salah seorang delegasi Belanda saat perundingan Linggarjati dan pernah bertemu langsung dengan Agus Salim, memuji Agus Salim sebagai sosok jenius dan menguasai sembilan bahasa asing. Namun, kata Schermerhorn, dia punya satu kelemahan, yaitu “hidupnya melarat”.

Tentu saja, pernyataan Schermerhorn itu semacam disfemisme terhadap kesederhanaan gaya hidup Agus Salim. Namun, jika kita telusuri jejak hidup sekolah HBS se-Hindia Belanda itu, memang hidupnya penuh sangatlah sederhana. 

Siapa sangka, hingga akhir hayatnya, meski pernah menjadi pejabat Negara, ternyata Agus Salim hanya tinggal di rumah kontrakan. Sepanjang hidupnya, dia berpindah dari kontrakan ke kontrakan, dari satu gang ke gang lainnya di Jakarta.

Di Jakarta, pasangan ini pernah tinggal di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Toapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi. Di gang listrik, keluarga Agus Salim pernah hidup tanpa penerang karena tak sanggup membayar tagihan listrik.

Haji Agus Salim adalah mungkin satu-satunya tokoh bangsa, mantan pejabat tinggi di Republik ini, yang pernah berjibaku atap bocor saat musim hujan. Dia juga satu dari sedikit pejabat yang memakai jas yang penuh bekas jahitan dan tisikan istrinya.

#3 Mohammad Natsir

Pada pemilu 1955, seorang pimpinan partai tampak mengantri di tengah-tengah rakyat jelata. Dia memakai kopiah dan berkacamata, dengan potongan pakaian tak ada bedanya dengan rakyat kebanyakan.

Tokoh itu adalah Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI pada 1950-1951. Dia adalah satu dari sedikit tokoh politik yang pakaiannya bisa dihitung jumlahnya. Jasnya penuh tambalan.

Goerge McTurnan Kahin dalam buku “Natsir, 70 Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan” menceritakan pengalaman bertemu dengan Mohammad Natsir. 

“Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan dia seorang menteri dalam pemerintahan,” kenangnya. 

Kesederhanaan Natsir juga terlihat dari kendaraan yang dirinya miliki. Meski menjadi seorang pejabat tinggi, Natsir hanya menggunakan mobil pribadi yang sederhana dan sudah kusam bermerk DeSoto.

RINI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid