Kebudayaan dan Pertahanan

Dalam Debat Capres Ketiga, Minggu 7 Januari 2024 yang lalu, yang mengambil tema: Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, Globalisasi dan Geopolitik, mengemuka juga soal Kebudayaan, yang akan menjadi tema Debat Capres Kelima, Minggu, 4 Februari 2024.  Anies Rasyid Baswedan,  Capres nomor urut  1, mengemukakan dan menekankan  bahwa Kebudayaan akan menjadi alat diplomasi dalam membangun Hubungan Internasional sedangkan Prabowo Subianto, Capres nomor urut 2, walau tidak secara eksplisit mengemukakan peran Kebudayaan dalam Pertahanan, menekankan pentingnya membangun Sumber Daya Manusia (SDM), melalui pendidikan, termasuk menanamkan jiwa patriotik dalam konsepsi Pertahanan.

Dengan begitu Prabowo menempatkan juga kerja Kebudayaan seperti membangun Sumber Daya Manusia dengan nilai-nilai patriotik menjadi hal yang pokok dalam Pertahanan Negara dan Bangsa, sebelum soal-soal yang lain. Dengan begitu, dalam Debat Capres Ketiga ini, Prabowo memahami secara strategis materi pertahanan baik dari segi material maupun spiritual. Artikulasinya memang berat mungkin karena problem pertahanan juga berat seperti soal kerahasiaan sehingga data sebagaimana dituntut oleh Ganjar  Pranowo dan Anies untuk dibuka dalam perdebatan menjadi problem dilematis. Selain itu kelihatan juga bahwa Prabowo tampil apa adanya, seakan tidak hendak bertaktik dan mencari distingsi di antara para Capres tapi murni berbicara pertahanan sejauh dia tahu, pahami dan alami dan terlihat jelas bahwa Kunci Pertahanan yang pokok yang dikemukakan Prabowo yaitu SDM yang bisa dikaitkan dengan pendidikan dan kebudayaan itu. SDM merupakan kunci memperkuat (teknologi) pertahanan dalam kata lain yang selalu ditekankan Prabowo adalah nilai etik tertinggi patriotisme atau cinta tanah air.

Sebab,  memang apa artinya membangun kekuatan fisik pertahanan yang bagus, ada ini ada itu  (walau ini juga menjadi perhatian Prabowo) kalau manusianya, rakyatnya, prajuritnya atau tentaranya masih bermental koruptif dan tidak patriotik? Sebagamana  kisah Tiongkok  yang suntuk berpikir bergelut membangun tembok pertahanan agar musuh dari Utara tak mudah menyerbu, tapi ternyata tak perlu menghancurkan satu bata pun di tembok rintangan. Asal bisa menyuap penjaga gerbang, sudah cukup untuk menghancurkan  (pertahanan) bangsa.

Karena itu apa yang disampaikan Prabowo bahwa SDM dengan jiwa patriotik sebagai nilai etik tertinggi  sebagai kunci pertahanan,  menurut penulis sangat tepat, hanya sayang diskusi strategis soal pertahanan, justru menjadi ajang evaluasi Kementerian Pertahanan dan juga melenceng ke isu yang lain mengenai Etika Kepemimpinan sebagaimana dikemukakan Anies.  Walau begitu Prabowo pun menjawab pertanyaan Anies mengenai Standar Etika Kepemimpinan dengan mengemukakan konsepsi Ki Hajar Dewantara  yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha yang bisa diartikan bahwa Pemimpin harus memberi teladan yang baik terutama dalam soal kecintaan pada tanah air, yang ditunjukkan dengan kata dan perbuatan.

Diskusi kebudayaan yang menyempil dalam Debat Capres Ketiga ini tentu akan semakin banyak dieksplorasi dalam Debat Capres Kelima. Kelihatan sangat: Anies Baswedan telah menjadikan  Etika Kepemimpinan sebagai isu utama menuju RI I atau kekuasaan. Tentu saja soal Etika  (dan ) Kepemimpinan ini akan diulangi, dieksplorasi dan ditekankan dalam Debat Capres 2024  Kelima atau terakhir  pada Minggu, 4 Februari, yang secara jelas bertema antara lain  SDM, Pendidikan dan Kebudayaan.

PenulisAJ. Susmana

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid