Kami Membawa Keranda Karena Air di Kota Batam Sudah Mati!

Tanjung Pinang, Berdikari Online – Ketidak-tersediaan air bersih di Kota Batam dinilai sangat menyengsarakan warga Kota Batam. Air merupakan hak dasar manusia yang dilindungi Undang-Undang seperti spanduk yang dibawa salah satu demostrans: UU RI No 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. Ketidak-tersediaan air bersih di Kota Batam mengakibatkan warga Batam tidak bisa mandi,  buang air dan kebutuhan penting lainnya.

Warga pun terpaksa harus menampung air ketika air mengalir dengan kondisi aliran yang sangat kecil. Di Bulan Juni tahun ini, bahkan ada warga di Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji yang ditemukan meninggal ketika begadang menampung air di tengah malam.

Batam memiliki dua pemerintahan yakni Pemerintahan Kota Batam (PEMKO Batam) dan BP Batam (Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas).  Dua instansi ini dikepalai Muhammad Rudi.

Saat ini air di Kota Batam dikelola PT. MOYA SPAM Batam yang ditunjuk BP Batam sejak  tahun 2020. Dahulu, dikelola swasta: ATB Batam.

Dalam kurun waktu hampir 1 tahun terakhir,  pembangunan infrastruktur jalan di Kota Batam disinyalir sebagai salah satu penyebab seringnya pasokan air bersih tidak berfungsi dan sudah usangnya pipa yang mengalirkan air bersih di Kota Batam.

 “Hari ini,  teman-teman dari Gebrak membawa keranda dalam rangka berkabung atas matinya air di Kota Batam. Sebagaimana diketahui, sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkap Uba Ingan Sigalingging yang merupakan salah satu anggota DPRD Hanura Provinsi Kepri. (3/8) “Khusus di Batam, tentu ada hal tidak utuh nanti kalau disebutkan: ‘Saudara-Saudara setanah, sebangsa. Tidak disebutkan airnya karena airnya mati,” imbuhnya. 

Bung Uba, panggilan sehari-hari Uba Ingan Sigalingging, juga memperlihatkan salah satu kertas orasi yang bertuliskan “PT Moya Investor Bermodal Dengkul”. Uba juga menyindir PT Moya dengan menyebutkan PT Moya lebih cocok jualan air di depan Welcome To Batam.

“Kalau investor tidak memiliki uang begini, ya beginilah jadinya. Sudah tentu semua warga memakai air hujan, bukan air bersih,” katanya lagi.

“Kami membawa keranda karena menganggap SPAM Batam sudah mati!” seru Bung Agung Widjaja, koordinator aksi Gebrak yang ditemui usai unjuk rasa.

“Kalau memang tidak mampu untuk mengelola air, berhenti saja. Serahkan kepada yang mampu. Kembalikan kepada Negara. Terserah Pemerintah, siapa yang akan ditunjuk,” katanya kesal kepada wartawan

Aksi tersebut juga dihadiri Bung Robin Manik – Ketua Partai Rakyat Adil Makmur, PRIMA, Kepulauan Riau. Kawan-kawan PRIMA mendukung aksi tersebut dan mengutuk sikap masa bodoh Kepala BP Batam yang menjadi pihak paling bertanggung jawab dalam pengadaan air bersih di Kota Batam.

“Kami mengapresiasi kawan-kawan LSM GEBRAK yang konsisten dalam memperjuangkan hak-hak dasar rakyat, Kawan-kawan PRIMA KEPRI juga akan melakukan aksi melalui jalur lainnya untuk memperjuangkan terpenuhinya hak dasar warga Batam akan air bersih. Panjang umur perjuangan!” seru Robin Manik, Ketua Partai Rakyat Adil Makmur.

Aksi massa yang dilakukan di kantor BP Batam (Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas) pada hari Kamis 3 Agustus 2023 ini dimulai dari jam 09.00 pagi; digagas oleh LSM GEBRAK (Gerakan Bersama Rakyat). Aksi ini dilakukan karena tidak tersedianya air bersih selama beberapa bulan terakhir di Kota Batam.

(R.Bin)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid