Kabut Gelap yang Menutupi Kudeta di Turki

Kudeta militer di Turki, yang meletus pada Jumat (15/7/2016) malam, masih jadi perdebatan. Pasalnya, kudeta yang menyebabkan 300-an orang tewas dan 3000-an tentara dipecat itu masih diselubungi kabut gelap.

Usai kudeta yang gagal di Turki, jagat media sosial dipenuhi perdebatan sengit antara loyalis dan penentang garis keras Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Loyalis Erdogan semakin jatuh cinta dengan tokoh idolanya itu. Bahkan, bagi mereka, keberhasilan Erdogan menggagalkan kudeta merupakan bukti bahwa pendiri Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu memang mengantongi dukungan luas dari rakyat dan aparatus negara Turki.

Sebaliknya, di kalangan penentang Erdogan, ada rumor yang menyebut bahwa kudeta pekan lalu itu hasil buatan Erdogan sendiri, yang diperlukan sebagai dalih untuk memukul lawan-lawan politiknya dan sekaligus mengonsolidasikan kekuasaannya.

Nah, pendapat penentang Erdogan ini sejalan dengan tudingan Fethullah Gulen, seorang ulama bekas sekutu Erdogan yang berbalik menjadi musuh bebuyutan. Menurut Gulen, Erdogan sengaja merancang kudeta atas dirinya guna mendapatkan dalih untuk mengonsolidasikan kekuasaan otokratisnya.

Dan, seperti banyak tersiar di media, ketika kudeta itu belum sepenuhnya dipatahkan, Erdogan sudah melancarkan tudingan kepada Gulen sebagai arsitek kudeta. Dan tudingan itu dilontarkan berkali-kali di media. Sebalikya, Gulen berulangkali membantah tudingan itu, sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak menyetujui pengambialihan kekuasaan dengan jalan kudeta.

Tidak hanya itu, kudeta yang gagal juga menjadi dalih bagi

Yang mana yang benar? Entahlah.

Sebelum kudeta terjadi, ada isu besar tentang rencana Erdogan membersihkan sejumlah perwira tinggi yang menjadi loyalis atau pendukung Gulen. Rencananya, pembersihan itu akan dilakukan melalui forum Mahkamah Militer pada 1 Agustus mendatang.

Sudah lama, setidaknya sejak kampanye pemilu November 2015 lalu, Erdogan menuding Gulen membentuk struktur pararel alis negara tandingan. Struktur itu sangat kuat di tubuh angkatan bersenjata dan lembaga peradilan.

Dari situ kita bisa mengambil dua dugaan. Pertama, kudeta yang terjadi pada hari Jumat itu adalah gerakan militer prematur dari loyalis Gulen untuk mendahului Mahkamah Militer. Namun, dugaan ini kurang kuat, sebab konsekuensi dari sebuah gerakan militer prematur sudah jelas: kalah dan dibasmi. Dan itu sia-sia. Seharusnya militer loyalis Gulen sudah tahu itu.

Kedua, kudeta itu “buatan” Erdogan. Setidaknya dia memprovokasi gerakan militer prematur melalui isu Mahkamah Militer. Dan dugaan ini sangat mungkin benar. Setidaknya, tanpa persiapan yang matang dan dukungan luas, sudah bisa dipastikan gerakan militer itu akan mudah dipatahkan.

Bahkan sebelum kudeta itu dipatahkan, kalau tidak salah Sabtu (16/7), pagi, Erdogan sudah bilang, “pemberontakan ini adalah hadian dari Tuhan untuk kami karena ini akan menjadi alasan untuk membersihkan militer.”

Dan kudeta gagal itu memang ‘hadiah’ bagi Erdogan. Tak lama setelah kudeta digagalkan, Erdogan langsung melakukan pembersihan besar-besaran di tubuh militer, pengadilan dan lembaga-lembaga negara lainnya. Sedikitnya 50-an pejabat tinggi telah dicopot dari jabatannya. Hurriyet Daily melaporkan, Kementerian Dalam Negeri Turki telah memberhentikan 8.777 pejabat dari posisinya. Mereka meliputi anggota militer, gubernur, penasehat militer, jaksa dan hakim.

Kudeta ini telah menjadi senjata bagi Erdogan untuk membersihkan militer loyalis Kemalisme atau sekularisme di tubuh angkatan bersenjata Turki. Juga membersihkan pendukung sekularisme di lembaga peradilan dan jabatan penting lainnya.

Bukan tidak mungkin, gerakan pembersihan ini juga akan menyasar kekuatan-kekuatan oposisi. Juga kan dipakai untuk memukul pejuang demokrasi dan Hak Azasi Manusia.

Dan ingat, jauh sebelum kudeta ini, Erdogan sudah memukul demokrasi. Sebuah laporan yang dikutip media Inggris The Independent menyebutkan, sejak tahun 2014, 1.845 wartawan, penulis dan penulis Turki terancam dibui karena tuduhan menghina Presiden Erdogan.

Tidak hanya itu, kudeta yang gagal ini juga menjadi dalih bagi Erdogan dan pendukungnya untuk memberlakukan hukuman mati. Malahan, seperti dikhawatirkan ahli soal Turki dari Jerman, Dr. Bernd Liedtke, Erdogan menjadikan kudeta ini sebagai alasan untuk mewujudkan impian lamanya: mengubah Konstitusi Turki dengan ide negara otokratis.

Singkat cerita, alih-alih melemahkan, kudeta militer pekan lalu itu justru menguatkan kekuasaan Erdogan. Pertama, kudeta menjadi senjata bagi Erdogan menyingkirkan musuhnya. Kedua, kudeta membantu Erdogan meraih simpati rakyat Turki.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid