Inilah 10 Pemain Bola dan Politik Kirinya

Lapangan hijau tak hanya mempertontonkan kepiawaian menggocek si kulit bundar. Bukan sekedar tentang gol-gol indah. Jangan lupa, lapangan hijau juga tempat unjuk keyakinan politik.

Sudah sedari dulu, sepak bola menjadi tempat mengekspresikan sikap dan keyakinan politik. Mulai dari yang paling kiri hingga paling kanan.

Meskipun aturan  Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) berusaha mengharampkan setiap ekspresi politik, dari slogan, pernyataan, hingga gambar, di stadion maupun lapangan hijau.

Namun, siapa yang bisa menghalangi politik memasuki lapangan hijau, yang penuh sorak-sorai  kemenangan maupun ratap-tangis kekalahan.

Nah, di artikel sebelumnya, kita sudah bahas soal 10 klub sepak bola yang terpapar kiri. Sekarang, kita akan bahas 10 pemain bola dengan politik kirinya.

Baca juga: Inilah 10 Klub Sepak Bola yang Terpengaruh Kiri

Di sini, kiri berarti keberpihakan pada mereka yang lemah dan tertindas (kelas pekerja, kelompok minoritas, dan bangsa-bangsa yang masih terjajah). Kiri juga berarti keberpihakan pada kesetaraan dan solidaritas kemanusiaan.

Javier Zanetti

Siapa tak kenal Javier Zanetti. Jika anda Interisti, tentu anda kenal Zanetti yang memperkuat lini belakang il Nerazzuri selama hampir 20 tahun. Dari pemain biasa hingga jadi Kapten tim.

Nah, Zanetti ini, meskipun hidup lama di Italia, tepatnya kota Milan, tetapi hati dan perhatiannya tetap di Amerika latin. Ia sangat peduli dengan isu-isu sosial politik di kawasan itu.

Di Argentina, negeri kelahirannya, Zanetti mendirikan yayasan amal, namanya Fundacion PUPI, untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin dan tidak beruntung.

Yang bikin gempar, Zanetti diketahui sebagai salah satu donator untuk kelompok revolusioner bersenjata di Meksiko, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN). Tahun 1994, EZLN memberontak terhadap rezim neoliberal di Meksiko.

EZLN menentang kapitalisme. Di Chiapas, Meksiko, mereka menjalankan daerah otonom, yang tata kelola politik dan ekonominya diorganisasikan secara demokratis.

Nah, Zanetti rutin menyumbang untuk EZLN. Misalnya, ketika sebuah desa EZLN digempur oleh militer Meksiko, Zanetti langsung transfer duit sebesar 5000 euro atau sekitar Rp 74 juta.

Bagi Zanetti, sumbangan itu sebagai bentuk dukungannya terhadap perjuangan EZLN. Dalam sepucuk suratnya untuk pemimpin EZLN, Zanetti menulis:

“Aku percaya pada dunia yang lebih baik, yang tak terglobalisasi, yang diperkaya oleh beragam budaya dan tradisi. Itulah mengapai kami mendukung perjuanganmu agar tetap kokoh mengejar cita-citamu.”

Tak lama berselang, Subcomandante Marcos, pemimpin EZLN, mengirim surat balasan. Surat berbau surealis itu tertuju pada Massimo Moratti, penguasaha minyak yang juga jadi pemilik Inter Milan.

Intinya, pejuang yang kerap memakai topeng balaclava dan pipa cerutu ini berharap Inter Milan untuk mengadakan pertandingan persahabatan dengan klub sepak bola EZLN: Zapatista XI. Nanti, Diego Maradona jadi wasitnya.

Dukungan Zanetti ke EZLN memang unik. Maklum, Inter Milan sendiri dikenal sebagai milik dinasti orang kaya di Italia: keluarga Moratti. Sementara sebagian besar fans Inter dikenal dekat dengan politik sayap kanan.

Diego Maradona

Menulis politik sepak bola, tanpa menyebut nama sang legenda, Diego Armando Maradona, tentu tidak afdal.

Lahir di tengah kemiskinan, di Buenos Aires, Argentina, tahun 1960, Maradona kecil tak patah semangat. Beruntung, Tuhan menganugerahinya bakat sepak bola yang luar biasa.

Itu juga yang membuat nama Maradona cepat menjulang. Ia memperkuat klub besar, dari Boca Juniors, FC Barcelona, hingga Napoli. Berkat Maradona, Napoli sukses mencetak sejarah di seri-A sebagai juara.

Maradona juga pahlawan Argentina. Tahun 1982, Argentina dipermalukan Inggris di Kepulauan Falkland. Ratusan pelautnya gugur. Tapi, di Piala Dunia 1986, Maradona membalasnya. Gol “tangan Tuhan” menyingkirkan Inggris dari laga itu.

“Ini ajaib, bumi tidak miring dari sumbunya, ketika jutaan orang melompat kegirangan merayakan gol Maradona,” celetuk Emir Kusturica, sutradara film asal Serbia.

Sejak itu, Maradona tak hanya pahlawan bagi kaum miskin, tetapi juga bangsa-bangsa dunia ketiga.

Yang menarik lagi, ketika dunia mengutuki Kuba karena jalan politiknya yang komunis, Maradona justru membelanya habis-habisan. Ia punya tattoo wajah Fidel Castro di kaki kirinya dan Che Guevara di lengan kanannya.

Tapi, Maradona bukan pengagum tokoh revolusioner, bak aktivis yang baru terpapar bacaan kiri. Ia punya sikap politik yang tegas kiri dan anti-imperialis.

Tahun 2005, ketika rakyat Amerika latin bersatu menentang agenda Perdagangan Bebas Amerika (FTAA), Maradona ikut serta. Di sela aksi yang melibatkan ratusan ribu orang itu, ia naik ke podium dan berpelukan dengan Hugo Chavez.

Baca juga: Maradona, Sepak Bola, Dan Anti-Imperialisme

“Terima kasih aku berada di sini. Argentina punya martabat sebagai sebuah bangsa. Mari menendang Bush keluar dari sini,” kata Maradona dengan lantang.

Ya, selain pendukung Kuba, Maradona juga pendukung Revolusi Bolivarian di Venezuela. Ia pengagum mendiam Presiden Venezuela, Hugo Chavez.

Cristiano Lucarelli

Bicara A.S Livorno, klub sepak bola paling kiri sejagat, jangan lupa dengan nama bintangnya: Cristiano Lucarelli.

Lucarelli lahir di kota Livorno, salah satu kota di Italia yang kenyang dengan sejarah kirinya. Di kota inilah Partai Komunis Italia berdiri pada 1921. Di kota ini pula, kendati komunisme dikutuk di berbagai tempat, lambang palu arit, bintang merah, dan poster Che Guevara tetap awet.

Bayangkan, Lucarelli lahir dan tumbuh dewasa di kota ini. “Aku dibesarkan di lingkungan yang diilhami oleh Che Guevara,” kenang Lucarelli.

Itu juga yang membuat Lucarelli agak kekiri-kirian. Dia salah satu pemain bola profesional yang terang-terang mendaku diri sebagai pendukung komunisme. Perayaan golnya selalu meledak-ledak, disertai kepalan tangan kiri.

Gara-gara itu, pemain yang kerap memakai nomor punggung 99 ini sering bermasalah. Seperti ketika memperkuat Timnas Italia U-21 tahun 1991, usai mencetak gol, dia berlari ke pinggir lapangan, lalu memperlihatkan kaosnya yang bergambar Che Guevara. Lantaran aksinya itu, ia kena sanksi.

Socrates

Di tahun 1980-an, di masa jaya-jayanya, Brazil punya tulang punggung di lapangan tengah yang sangat kuat. Namanya: Socrates. Bapaknya, yang seorang aktivis, memberinya nama filsuf.

Baca juga: Socrates dan Politik Kiri di Sepak Bola

Saat itu, meski berjaya di lapangan hijau, secara politik Brazil dikendalikan oleh rezim militer. Tidak ada kebebasan, apalagi demokrasi.

Di klubnya, Sport Club Corinthians Paulista, Socrates membangun sel perlawanan. Namanya “Demokrasi Corinthians”. Melalui sel ini, ia tak hanya berusaha melawan kediktatoran, tetapi juga pelan-pelan menghilangkan otokrasi dalam sepak bola.

Melalui Demokrasi Corinthians, semua pengambilan keputusan di klub dilakukan secara demokratis. “Semua orang punya hak yang sama untuk menentukan nasib klub,” kata Socrates.

Tak hanya melawan kediktatoran diam-diam di dalam klub, Socrates ikut gerakan politik. Dia terhubung baik dengan aktivis-aktivis kiri dan pejuang demokrasi kala itu. Tak heran, dia menjadi bagian dari partai Buruh (PT).

Hingga, 1985, kediktatoran tumbang. Angin demokrasi mulai berhembus. Tapi Socrates tak berhenti mengeritik. Ia mengeritik model pembangunan Brazil yang kapitalistik.

“kita harus mengubah fokus pembangunan. Kami harus memprioritaskan kemanusiaan. Ironisnya, dalam dunia yang terglobalisasi, orang justru berfikir tentang uang,” katanya.

Socratos adalah satu dari sedikit pemain bola yang menggunakan nama besarnya sebagai pemain bola untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

“Jika rakyat tidak punya kekuatan untuk menyampaikan sesuatu, maka saya akan menyampaikannya atas nama mereka. Jika saya berada di pihak lain, bukan di pihak rakyat, maka tidak ada orang yang akan mendengar saya,” katanya kepada BBC

Paul Breitner

Lahir di Bavaria, Jerman, tahun 1951, Breitner terseret dalam angin politik zaman itu. Dia pernah memperkuat Tim Nasional Jerman Timur dan mengantarkannya juara Piala Dunia 1974.

Dari sejak kecil, Breitner sudah terpengaruh ide-ide kiri. Ia mengenal Che Guevara sejak belia. Dia tumbuh sebagai abege tanggung yang terpukau pada Che.

“Di usia 16 tahun, kematian Che Guevara sangat berdampak besar padaku. Itu tahap penting dari pendewasaanku,” kata Breitner, seperti dikutip Shirsho Dasgupta di These Footbal Times.

Dia tumbuh besar di tengah pasang gerakan mahasiswa di tahun 1960-an. Tak heran, selain rambut gondrongnya, ia suka bacaan-bacaan kiri, dari Karl Marx, Lenin, hingga Mao Tse Tung.

“Aku bagian dari 68-ers (gerakan mahasiswa 1968) di Jerman. Di sini ada revolusi dalam pikiran mahasiswa. Dan aku bagian dari mereka. Karena itu, aku tertarik dengan bacaan Mao dan Che Guevara,” ujarnya.

Tahun 1970, ia pernah dipanggil melapor ke Dinas Militer. Tapi, Breitner muda membangkang. Dia bersembunyi di gudang apartemen temannya. Ia keluar dari persembunyian setelah Polisi mengancam akan memasang poster “Wanted” bergambar dirinya di seluruh kota. Ia dijatuhi hukuman membersihkan toilet militer.

Tapi, Breitner tipikal pembangkang muda. Belakangan, setelah dari Bayer Munich, ia rela meneken kontrak dengan klub yang identik dengan rezim fasis Franco, Real Madrid.

Volker Ippig

Bicara klub kiri di Jerman, tentu orang tak lupa dengan klub satu ini: FC St. Pauli. Di balik kesuksesan St Pauli, ada seorang penjaga gawang handal: Volker Ippig.

Ippig, yang namanya melambung karena sepak bola, tak suka menyembunyikan sikap politiknya. Ia pernah bekerja untuk sebuah TK untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Pernah juga, Ippig menghilang, ternyata sedang iku dengan Brigade Pekerja yang berangkat ke Nikaragua. Ia ikut kerja-kerja membangun fasilitas untuk rakyat di sana.

Lilian Thuram

Thuram lahir di Guadeloupe, sebuah pulau yang diklaim Perancis di Karibia, pada 1972. Usia 9 tahun, ia ikut keluarganya yang pindah ke Perancis.

Di Perancis, ia tumbuh di lingkungan miskin. Dan meski punya slogan agung sejak revolusi 1789, yakni Liberte (kebebesan), Egalite (kesetaraan), dan Fraternite (persaudaraan), bukan berarti Perancis sudah terbebas dari penyakit rasisme.

Karena itu, Thuram sangat peduli dengan isu rasisme. Tahun 2005, ketika kerusuhan mengguncang Perancis, terutama kawasan miskin yang dihuni imigran.

Nicolas Sarkozy, yang kala itu menjabat Menteri Dalam Negeri, menyebut anak-anak muda yang terlibat kerusuhan itu sebagai “sampah”. Thuram naik pitam.

“Jika mereka sampah, aku pun sampah,” kata Thuram.

Kata-kata itu menohok. Sebab, Thuram adalah penerima “Legion d’Honneur”, penghargaan tertinggi dari Presiden Perancis untuk Warga Negara yang dianggap berjasa besar. Thuram adalah salah satu pahlawan Perancis di Piala Dunia 1998.

Paolo Sollier

Kalau bicara pemain sepak bola cum aktivis politik kiri, maka Paolo Sollier adalah sosoknya. Tak seperti Lucarelli yang hanya kiri di lapangan, Sollier jelas kiri otentik.

Sollier, yang pernah membela Perugia di tahun 1970-an, tak hanya akrab dengan kepalan tangan kiri di lapangan hijau. Ia bahkan menjadi bagian dari gerakan politik radikal, Avanguardia Operaia (Pelopor Pekerja), yang condong Trotskis.

Sebagai aktivis, tak hanya itu demonstrasi, ia kerap menulis di koran partainya terkait situasi Italia. Ia kerap ikut aksi-aksi pemogokan yang dilakukan pekerja.

Eric Cantona

Bicara politik juga tak afdal jika melewatkan Eric Cantona, pemain asal Perancis yang lama membela Manchester United.

Nah, bicara kiprahnya di MU, selain kehebatannya di lapangan hijau, orang tak akan lupa pada tendangan kung-funya. Jadi, tahun 1995, ketika MU menghadapi Cyrstal Palace, Cantona diejek seorang suporter rasis. Cantona melepaskan tendangan kungfu ala Bruce Lee tepat di dada si suporter rasis.

“Saya mewujudkan mimpi banyak orang. Saya melakukan untuk mereka dan mereka gembira. Itu adalah sebuah kebebasan untuk mereka,” kata Cantona terkait aksinya itu.

Dia bilang, penonton sudah sering melihat gol, tetapi jarang melihat hooligan rasis kena tendangan.

Usai pensiun dari sepak bola, Cantona makin politis. Selain aktif dengan kegiatan sosial, ia berkampanye menentang rasisme dan ketimpangan ekonomi.

Cantona, yang tertarik dengan metode aksi langsung, pernah punya ide liar untuk revolusi. penjelasan dia sederhana. Bagi dia, sistem kapitalisme hari ini dibangun lewat bank. Karena itu, jika mau melakukan revolusi, mulailah dengan merontokkan bank.

Dia contohkan, daripada 3000 orang demo di jalanan, lebih baik mereka ke bank dan menarik semua tabungannya. Bayangkan kalau 3 juta orang, 10 juta orang, kata dia.

“Tidak perlu senjata, tidak ada darah menetes, tapi revolusi,” kata dia.

Bagi revolusioner profesional, penjelasan Cantona itu mungkin terdengar konyol. Tapi, faktanya, setelah videonya ditonton oleh 40.000 orang di youtube, ada 14 ribu orang yang mengklaim siap menarik semua tabungannya di Bank.  

Slaven Billic

Kroasia juga punya pemain yang terang-terangan membela politik kiri. Dia adalah Slaven Billic, yang pernah membela Timnas Krosia tahun 1992-1999.

Billic, yang pernah bermain di Premier League bersama West Ham dan Everton, terang-benderang menyebut dirinya sebagai seorang sosialis.

“Saya sosialis. Ya, aku sosialis dalam pengertian aslinya. Saya tahu, saya tak bisa menyelamatkan dunia sendirian. Tapi, jika ada ketidakadilan, saya siap di garis depan,” katanya.

Makanya, ketika melatih Beşiktaş (Turki), dia berusaha menjadikannya tim sosialis.

“Tidak ada orang kaya dan miskin di tim ini. Tidak kelas-kelas.  Kami menghapuskan kelas dan memberi kekuatan pada rakyat,” tegasnya, seperti dikutip Bianet.org.

Di lapangan hijau, Billic juga jadi penentang segala bentuk rasisme, baik di UEFA maupun Liga Kroasia.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid