Inilah 10 Lagu John Lennon yang paling Politis

Tanggal 8 Desember 1980, 40 tahun yang lalu, John Lennon ditembak mati oleh seorang penggemarnya yang sangat fanatik-religius.

Empat peluru bersarang di tubuh musisi terkemuka dari band ternama “The Beattles” itu. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa John Lennon tak tertulang. Ia mati muda di usia 40 tahun.

Selain dikenal sebagai musisi besar dalam belantika musik dunia, Lennon juga perlu dikenang sebagai sebagai seorang aktivis politik yang revolusioner. Tak hanya lewat syair lagu-lagu, tetapi juga aksi-aksi politisnya.

Dia dikenang sebagai tokoh penting dalam gerakan anti perang Vietnam di tahun 1960-an. Juga keberpihakannya pada perjuangan kelas pekerja. Secara politik, Lennon adalah seorang sosialis.

Mengenang kepergiannya 40 tahun yang lalu, berikut kami haturkan 10 lagu John Lennon dan The Beattles yang paling politis:

#1- ATTICA STATE

Lagu “Attica State”, yang muncul di album Some Time in New York City, tahun 1972, merupakan ungkapan belasungkawa atas hilangnya sejumlah nyawa dalam kerusuhan di penjara Attica.

Kerusuhan itu sendiri bermula dari aksi protes para penghuni penjara yang menuntut kondisi hidup yang lebih layak dan hak-hak politik. Ada 33 tahanan yang kehilangan nyawa akibat kerusuhan ini.

#2- WOMAN IS THE NIGGER OF THE WORLD

Lagu “Women is The Nigger of The World” merupakan lagu John Lennon yang paling kontroversial, tetapi sebetulnya punya pesan ideologis yang kuat.

Kata “perempuan adalah negro-nya dunia (women is the Nigger of the world)” sebetulnya merupakan isi wawancara Yoko Ono dengan majalah Nova pada 1969. Namun, karena ada kata “negro”, lagu ini dituding berbau rasisme.

Padahal, bagi Lennon, lagu ini justru mau menunjukkan bahwa perempuan merupakan subjek paling tertindas dalam situasi sekarang. Ditindas berlapis-lapis, baik kapitalisme maupun patriarki (feodalisme).

Lennon mengaku lagu ini terinspirasi dari kata-kata sosialis Irlandia, James Connolly: perempuan pekerja adalah budaknya budak.

#3- JOHN SINCLAIR

Lagu ini diciptakan John Lennon pada 1972 sebagai ungkapan solidaritas terhadap John Sinclair, seorang penyair dan aktivis politik.

Sinclair merupakan manajer band rock beraliran kiri, MC-5. Dia juga pendiri dari White Phanter Party, sebuah organisasi kulit putih yang berjuang bersama dengan Black Phanter Party untuk melawan rasisme.

Tahun 1969, Sinclair ditangkap karena kepemilikan ganja. Ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Hukuman itu dinilai banyak orang “sangat politis”, sehingga memicu aksi protes di jalanan. Banyak musisi, termasuk John Lennon dan Yoko Ono, bersimpati pada Sinclair.

Sinclair akhirnya dibebaskan pada Desember 1971.

#4- BRING ON THE LUCIE (FREEDA PEOPLE)

Lagu Bring on The Lucie  adalah lagu protes yang lahir di tengah gerakan anti perang Vietnam. Mulai ditulis Lennon tahun 1971, tetapi baru direkam dan dirilis tahun 1973.

Awalnya, lagu ini diberi judul Free The People. Belakangan, judulnya diganti Bring on The Lucie. Liriknya tak ubahnya sebuah tuntutan politik. Agar negara menghentikan perang dan berhenti membunuhi rakyat tak berdosa.

#5- POWER TO THE PEOPLE

Lagu Power To The People menandai pergeseran politik John Lennon yang makin ke kiri.

Saat itu, tahun 1971, sepulang dari jalan-jalan ke Jepang, menerima permintaan wawancara dengan dua aktivis kiri Inggris, Tariq Ali dan  Robin Blackburn. Keduanya mengelolah sebuah majalah kiri berhaluan Trotrskys, Red Mole.

Sebelum wawancara itu, Tariq Ali dan Robin Blackburn mengeritik cara berjuang John Lennon, yang menekankan aksi damai dan simpatik. Seperti aksi Bed-ins for Peace, yaitu aksi tidur-tiduran di kasur selama berminggu-minggu dengan dikelilingi poster-poster protes.

Singkat cerita, setelah wawancara itu, Lennon terpukau pada Tariq Ali dan pemikirannya. “Sehari setelah wawancara, dia menelpon saya dan bilang sangat senang. Sehingga dia menulis lagu: Power to The People,” kenang Tariq Ali, seperti ditulisnya di Guardian, pada 2 Februari 2010.

Peristiwa Bloody Sunday di Irlandia membuat Lennon benar-benar marah. Itu juga yang membuat dirinya dan Yoko Ono rela berbaris bersama aktivis kiri dalam demonstrasi menentang imperialisme Inggris di Irlandia. Di aksi itu, Lennon memegang surat kabar Red Mole.

#6- HAPPY XMAS (WAR IS OVER)

Lagu Happy Xmas (War is Over) merupakan lagu penutup dari aksi kampanye damai yang digelar oleh John Lennon dan Yoko Ono sejak 1969.

Aksi yang berlangsung di 12 kota selama 2 tahun itu bertujuan untuk memprotes perang Vietnam sekaligus sebuah kampanye untuk dunia yang lebih damai.

Nah, dalam penutupan aksi itu, John Lennon dan Yoko Ono memegang sebuah poster berwarna putih dengan tulisan hitam tebal bertuliskan: “War is Over!”. Lalu ada tulisan kecil di bawahnya: “If you want it. Happy Christmas from John & Yoko.”

Slogan “War is Over” sebelumnya sudah dipopulerkan oleh penyanyi progressif Amerika, Phil Ochs. Juga di lagu “The Unknown Soldier”-nya The Doors.

#7- WORKING CLASS HERO

Working Class Hero lahir di tengah ledakan gerakan politik kiri di tahun 1960-an dan 1970-an, dari gerakan hak-hak sipil, anti-perang Vietnam, hingga kebangkitan kiri-baru (new-left). Tidak mengherankan, lagu ini sangat bernuasa heroik-revolusioner.

Seperti power to The People, lagu ini menandai pergeseran politik Lennon yang makin ke kiri. Makin memihak perjuangan kelas pekerja.

“Saya pikir ini lagu revolusioner, ini benar-benar revolusioner. Saya pikir ini untuk kaum buruh, bukan untuk kue tar dan rokok,” kata John Lennon, seperti dikutip oleh Jann S Wenner dalam Lennon Remembers.

#8-  GIVE PEACE A CHANCE

Lagu ini lahir di saat Lennon dan Yoko Ono sedang menggelar aksi damai dengan rebahan di atas kasur (bed-ins for peace) selama berminggu-minggu.

Nah, waktu aksinya rebahan di kasur itu digelar di Montreal, Quebec, Kanada, ada wartawan yang menanyai soal targer dari aksinya itu. Lennon spontan menjawab: just give peace a chance.

Lagu ini pertama sekali dinyanyikan oleh Lennon ketika masih menggelar aksi rebahan di kasur. Ia sambil memetik gitar dan menyanyi bersama sejumlah wartawan, tokoh, dan artis.

#9- REVOLUTION

Lagu ini ditulis oleh Lennon ketika sedang menjalani meditasi di India. Sementara di Eropa dan Amerika, gerakan anti-perang dan kebangkitan gerakan kiri nyaris menggiring sejumlah negara ke ambang revolusi.

Nah, saat itu Lennon lebih setuju dengan aksi damai ketimbang sebuah revolusi dengan kekerasan. “Jika kau menginginkan perdamaian, kau tidak akan mendapatkannya bila menggunakan kekerasan,” katanya.

Di lagu “Revolution”, Lennon menyindir aktivis kiri yang kerap membawa poster-poster Ketua Mao (Mao Zedong) di setiap aksi-aksi protes.

“But if you go carrying pictures of Chairman Mao/ You ain’t going to make it with anyone anyhow,” demikian dua baris lagu “Revolution”.

#10- IMAGINE

Lagu Imagine, yang dirilis oleh John Lennon tahun 1971, merupakan salah satu lagu terpopuler di sepanjang abad ke-20. Lagu ini menjadi lagu kebangsaan para pejuang kemanusiaan dan keadilan di seantero dunia dan sepanjang zaman.

Lagu ini membawa pesan yang sangat universal, yang mewakili harapan banyak manusia. Sebuah dunia yang damai untuk semua orang, tanpa memandang suku, agama, ras, gender, dan kebangsaan. Sebuah dunia yang terbebas dari kebencian, perang, dan keserakahan.

Karena mimpinya itu, tak sedikit yang melabeli imagine sebagai lagu komunis. Bahkan ada yang mempersamakannya dengan Manifesto Komunis yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels.

“Membayangkan tak ada lagi agama, tak ada lagi negara, tak ada lagi politik, itu nyaris seperti Manifesto Komunis. Tetapi saya bukan komunis dan tidak ikut gerakan apa pun,” kata Lennon kepada koran Inggris, New Music Express (NME).

Lagu ini sudah dinyanyikan orang dari berbagai genre, seperti Liza Minnelli, Stevie Wonder, Neil Young, Shakira, hingga Lady Gaga. Sudah menggema di acara-acara besar, dari demonstrasi, perhelatan olimpiade, hingga acara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid