Hikayat Para Begawan

Di Jawa,  waktu itu memang tak dipahami secara linear, namun sirkular. Konsepsi waktu semacam inilah yang kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai “jangka”. Nietzsche pun, seorang pemikir Barat, pernah pula menubuahkan “Ewige Wiederkuft” atau perulangan yang abadi. Dan dengan Nietzsche-lah politik ternyata bermakna luas, bahkan lekat dengan kehidupan yang sama sekali jauh dari pengertian politik sebagaimana yang dipaparkan oleh para pengamat politik atau dosen-dosen ilmu politik.

Sebab, seperti halnya konsep perulangan  abadi itu, sama sekali erat kaitannya dengan konsep “der Wille zur Macht” atau yang lazim di-Indonesia-kan sebagai kehendak untuk berkuasa. Kuasa dalam pengertian anak pendeta yang tetap melajang itu juga sama sekali tak sebagaimana yang dipahami oleh para pemikir politik modern. Saya menganalogikanya sebagai angin yang tak hanya berada di parlemen, istana negara, atau teritori-teritori yang muncul di benak kita ketika istilah kuasa diperbincangkan.

Tak perlu muluk untuk merujuk pada Foucault yang sangat bagus ketika menafsirkan istilah kuasa dalam pemikiran Nietzsche. Dalam kebudayaan Jawa, utamanya dalam khazanah pewayangan, kita akrab dengan lakon “Bima Suci” yang, seusai Wrekudara mendapatkan wahyu yang berwujud ilmu, mampu mendesentralisasikan dan menyetarakan kuasa dimana Sumur Jalatundha ternyata tak kalah wibawa dengan Amarta, Hastina, dan bahkan Jonggring Salaka dimana Bathara Guru sebagai penguasa Triloka bertempat.

Barangkali, fenomena ruang-ruang digital sebagaimana yang kita alami kini adalah contoh lain dari konsep kuasa yang tak lagi berlaku sebagaimana di era modern. Taruhlah sebuah ruang di Rembang dimana konon para Begawan yang berhati mulia, karena masih sudi untuk berbelarasa pada kondisi bangsa yang bagi mereka tak sedang baik-baik saja, bergerombol dan ngudarasa. Di ruang-ruang digital ternyata sebuah ruang di Rembang itu juga tampak tak mau kalah wibawa dengan istana negara.

Lalu apakah mereka yang bergerombol di salah satu ruang di Rembang itu sedang memerankan Begawan Bima Suci di Sumur Jalatundha yang konon mampu menjeda segala kekuasaan mulai dari kerajaan Bumi—Amarta, Hastina, dst.—hingga kerajaan langit semacam Jonggring Salaka?

Barangkali, mereka memang sedang kasinungan wahyu ilmu sebagaimana Wrekudara yang kemudian bersifat suci dan sanggup mendesentralisasikan segala kekuasaan, baik kekuasaan Bumi maupun kekuasaan langit. Atau setidaknya, berupaya mempraksiskan pengertian kuasa Nietzschean yang kemudian dipertajam oleh Foucault—bukankah adagium Arab mengatakan, “Al-‘ilmu bila ‘amalin kassajarin bila tsamarin”?

Bayangkan, ricik masalah mereka sama sekali tak menjadi suatu masalah di mata hukum dan beberapa ahlinya, namun mereka seolah para Begawan Bima Suci yang konon mampu menginterupsi kuasa para raja dan bahkan dewa. Kalau tak tutug sebagaimana Wrekudara mustahil mereka mengulang sejarah kembali: pertemuan-pertemuan para tokoh bangsa ketika kondisi bangsa dirasakan tak sedang baik-baik saja

Namun, tak sebagaimana Wrekudara yang mampu menyujudkan kakak seperguruannya, Begawan Kapiwara, dan para jagoan Pandawa, bahkan pun memucatkan sang penguasa Triloka, Bathara Guru, para Begawan yang bergerombol di sebuah ruang di Rembang itu seolah perlu menunggu banyak waktu agar setidaknya mampu memengaruhi orang—itu pun ketika beja tak lagi terkait dengan pangawikan pribadi.

Penulis : Heru Harjo Hutomo

Illustrasi : contoh cerita hikayat ( blogs.bl.uk)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid