“Herd Immunity” Sebagai Cara Pandang Neoliberal

Sementara sebagian besar negara di Eropa bersiap untuk “lockdown” demi menghentikan penyebaran virus, beberapa negara memilih strategi yang berbeda: kekebalan kelompok atau herd immunity.

Alih-alih melakukan pengujian sebanyak mungkin orang dan mengambil langkah-langkah penjarakan sosial (social distancing), mereka (pendukung herd immunity) justru ingin membiarkan virus tersebar di kalangan orang-orang beresiko kecil, sehingga sebagian besar penduduk menjadi kebal.

Pendekatan ini pertamakali diusulkan oleh Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, yang memang awalnya menolak untuk menerapkan langkah-langkah social-distancing. Namun, setelah Inggris meninggalkan pendekatan ini, Belanda dan Swedia masih terus menerapkannya, meski dikritik keras oleh WHO.

Negara-negara ini (Belanda dan Swedia) berpendapat, membangun kekebalan kelompok merupakan strategi jangka panjang untuk menghadapi virus. Sebab, epidemi tidak pernah benar-benar hilang dan muncul lagi.

Daripada menempatkan seluruh negeri dalam lockdown, hanya penduduk yang paling beresiko (lansia dan mereka yang punya riwayat penyakit jantung, diabetes, dan paru-paru). Sementara virus biarkan saja menyebar.

Namun, banyak ahli epidemologi dan ahli virumologi mengeritik pendekatan ini karena sangat beresiko, tidak ilmiah, dan menyebabkan korban meninggal akan lebih banyak.

Laporan yang baru-baru ini dipublikasikan oleh Imperial College London , memprediksi, menyebutkan, jika Inggris menerapkan strategi ini, maka paling sedikit 250 ribu orang warganya meninggalkan. Konon, gara-gara laporan ini, Inggris mengubah pendekatan. Sebab, kalau tak berhasil penuh mengisolasi penduduk yang beresiko, sementara virus terus menyebar luas, maka fasilitas dan layanan kesehatan bisa kewalahan dan kolaps.

Epidemologi Neoliberal

Mengapa negara seperti Inggris tiba-tiba mempertimbangkan strategi beresiko itu, tetapi beberapa negara lain tetap mempertahankannya?

Alasannya adalah: neoliberalisme. Sejak 1980-an, kita terperintah oleh paradigma neoliberalisme, yang telah mengganti pendekatan kebijakan sosial oleh negara dengan privatisasi dan deregulasi pasar.

Dalam keyakinannya, pasarlah yang harus mengatur keputusan-keputusan politik, yang secara harfiah berarti: mengutamakan keuntungan ketimbang manusia. Keyakinan itu yang terus menjajah pikiran kita, sehingga membuat ktia percaya bahwa menjadi miskin, rentan, atau menganggur adalah kesalahan kita sendiri.

Salah satu ironi neoliberalisme adalah janjinya meningkatkan mobilitas sosial. Faktanya, mereka justru memperparah dan memperdalam ketidaksetaraan sosial. Asumsinya, jika orang lain bisa “melakukan ini” di alam pasar bebas, maka salahmu sendiri jika miskin.

Asumsi itu bukan hanya bermasalah, tetapi juga melukai. Neoliberalisme membuat yang kaya semakin kaya, sementara si miskin semakin banyak dan berlipat-ganda. Jadi, sebetulnya laissez-faire adalah sebuah sistem yang meminggirkan si lemah dan menghilangkan semua potensi perlawanannya.

Herd immunity adalah epidemilogi neoliberal. Mirip dengan kepercayaan tanpa syarat terhadap pasar bebas, herd-immunity membangun asumsi bahwa cara terbaik menghadapi epidemi adalah membiarkannya.

Tapi, seperti neoliberalisme juga, strategi ini mengorbankan yang lemah dan si miskin: lansia, penyandang disabilitas, tunawisma, tunawisma, dan orang-orang yang punya riwayat penyakit—kebanyakan diantara mereka adalah si miskin, sebab kemiskinan sangat berkorelasi dengan kerentanan terhadap penyakit.

Mereka adalah manusia, yang paling beresiko tumpas oleh covid-19, terutama jika layanan kesehatan kewalahan dan dokter harus melakukan triase (memilih satu dari beberapa pasien untuk diproritaskan berdasarkan kondisi kesehatannya).

Runtuhnya Negara Kesejahteraan

Bukan kebetulan bila Inggris dan Belanda, dua negara paling neoliberal di Eropa, menganjurkan pendekatan ini. Mereka sudah menghabiskan beberapa dekade untuk kebijakan yang mengistimewakan segelintir orang ketimbang kepentingan sosial. Dan secara sistematis mencabut anggaran untuk kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Memilih untuk tidak melakukan lockdown, karena akan merugikan secara ekonomi, sangat sesuai dengan keyakinan politik mereka.

Tetapi Swedia, bagaimana pun, agak membingungkan. Ini adalah negara yang oleh dunia diakui kebijakan sosial dan pendekatan negara kesejahteraannya. Tetapi negara demokrasi-sosial seperti Swedia saja tak kebal dari neoliberalisme. Seperti di banyak negara Eropa, model negara kesejahteraan benar-benar diporak-porandakan belakangan ini.

Tantangan terbesar pandemi korona adalah bagaimana “meratakan kurva” (menekan penyebaran virus agar melandai, tidak meroket), sehingga fasilitas kesehatan untuk perawatan serius dan kritis tidak kewalahan.

Tapi, tiga negara yang disebutkan di atas (Inggris, Belanda, dan Swedia), sudah mengalami kekurangan ruang/bed untuk perawatan kritis. Bahkan, itu tidak cukup sekalipun melakukan kebijakan “lockdown” yang ketat.

Inggris dan Belanda hanya memiliki setengah dari kapasitas/bed untuk perawatan kritis dibanding Italia (dihitung per kapita). Dan Swedia, negara kesejahteraan terbaik di Eropa, bahkan hanya punya kurang dari setengah.

Tapi, jika negara ini ingin mencegah kapasitas untuk perawatan kritisnya tak kewalahan, mereka harusnya sudah bertindak jauh-jauh hari (untuk mencegah penyebaran virus). Tetapi kapal sudah terlanjur berlayar.

Melakukan lockdown yang super-ketat, yang membuat ekonomi babak-belur, sebetulnya juga menunjukkan hancurnya sistem kesehatan sejak dekade neoliberalisme.  

Memilih strategi “herd-immunity  memungkinkan pemerintah menyalahkan sistem kesehatan, bukan pemerintahannya yang buruk. Sama seperti orang miskin yang dipersalahkan karena dianggap kurang bekerja keras. Orang sakit dipersalahkan karena tidak melakukan karantina. Tidak peduli penyebabnya, nasib, atau kesalahan orang itu, pemerintah tak bertanggung-jawab atas hilangnya nyawa warga negara.  

Herd Immunity bukan hanya ilmu atau kebijakan yang buruk. Ini adalah perang biologis. Banyak orang yang mati karena strategi itu, tetapi pemerintah tak bertanggung-jawab atas kematian itu. Tapi strategi ini tak muncul tiba-tiba. Ini hanya kelanjutan dari corak berpikir dan cara pandang dari dekade-dekade lalu, yang mengambil bentuk estremnya pada laisse –faire dipadukan dengan darwinisme sosial.

Sebab, manusia lebih percaya pada pasar yang tak diatur (pasar bebas). Sehingga juga percaya bahwa epidemic tak perlu diatur/dikendalikan—sekalipun itu menghilangkan banyak nyawa.

ISABEL FREY, seorang penulis lepas dengan latar belakang Magister Antropologi Kesehatan; seoranga aktivis dan pencinta musik Yiddi.


Artikel ini diterjemahkan dari sumber aslinya: “Herd Immunity” is Epidemiological Neoliberalism

Penjelasan tambahan: Inggris dan Belanda awalnya mencoba pendekatan herd-immunity. Namun, begitu jumlah yang terinfeksi tak terkendali (sering tak tampak), yang mengancam kelompok rentan, Inggris dan Belanda membatalkannya.

Anda bisa menyimak penyebab kegagalan herd immunity di kedua negara itu di sini.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid