Hadapi Bencana Megathrust, PRD: Harus Dibentuk Komite Persiapan

Perbincangan mengenai potensi gempa megathrust di selatan Pulau Jawa mengemuka akhir-akhir ini. Sejumlah peneliti, termasuk dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membenarkan ancaman itu.

Merespon hal tersebut, Partai Rakyat Demokratik (PRD) mendesak pemerintah agar mempersiapkan langkah mitigasi yang lebih sistematis dan solid.

“Hal ini untuk meminimalkan resiko bencana terhadap rakyat banyak,” kata Ketua Umum PRD, Agus Jabo Priyono, dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (8/3/2021).

Menurutnya, bentuk respon yang paling tepat adalah membentuk Komite Persiapan untuk menghadapi ancaman bencana megathrust.

“Komite inilah yang segera menyiapkan sistim mitigasi yang sistimatis dan solid untuk memastikan penyelamatan rakyat, menyiapkan wilayah pengungsian dari tsunami dan memastikan keamanan bangunan di daerah potensial gempa,” ujarnya.

Menurut Jabo, Indonesia telah memiliki pengalaman dari berbagai bencana, mulai dari tsunami hingga gempa bumi, yang bisa dijadikan pelajaran dalam membuat sistim mitigasi yang lebih baik lagi.

Menggerakkan Rakyat

Jabo menekankan, penyiapan masyarakat untuk menghadapi megathrust tidak bisa hanya dibatasi pada penyuluhan dan pelatihan siaga bencana.

Ada aspek penting lain yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni perbaikan kondisi pemukiman masyarakat dan kepastian hak atas tempat tinggal, terutama masyarakat di kawasan pemukiman kumuh di kota-kota besar.

“Bagaimana evakuasi dilakukan dengan cepat jika orang hidup berdesak-desakkan di pemukiman-pemukinan dengan lorong-lorong hanya selebar setengah meter? Bagaimana rakyat bisa disadarkan membangun konstruksi rumah tahan gempa jika selama ini mereka tinggal di atas lahan yang sewaktu-waktu bisa diklaim oleh pemilik modal besar,” katanya.

Lebih penting lagi, menurut Jabo, bangsa ini perlu menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Salah satu kunci penting hidup di negara potensial bencana adalah kelentingan, yaitu kemampuan masyarakat untuk pulih pascabencana. Dan salah satu kunci kelentingan adalah gotong royong.

Menurut dia, sekarang ini jiwa gotong royong masyarakat Indonesia menghadapi tantangan hebat oleh corak ekonomi yang kian liberal kapitalistik.

“Corak ekonomi itu membentuk corak pergaulan sosial yang individualistis,” jelasnya.

Apalagi, kata Jabo, corak ekonomi yang liberal kapitalistik itu telah memperlebar ketimpangan ekonomi dan sosial, sehingga membuat masyarakat Indonesia terkesan hidup terpisah-pisah.

“Ada sekat-sekat sosial dan ekonomi yang membuat masyarakat seolah terpisah, sehingga semangat solidaritas dan kerjasama itu berkurang,” terangnya.

Peringatan LIPI dan BMKG

Sebelumnya, potensi terjadinya gempa dahsyat membayang-bayangi Indonesia disampaikan oleh LIPI. Gempa Megathrust dengan kekuatan Magnitudo 9 dan berpotensi tsunami disinyalir akan terjadi di Indonesia, khususnya pesisir selatan pulau Jawa.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto. Ia mengatakan bukti tsunami di selatan Jawa pernah terjadi sekitar 400 tahun yang lalu dan ditemukan di Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat.

“Tsunami ini cukup besar karena buktinya mulai Banten di Lebak sana sampai dengan Bali. Dan ini menjadi bukti bahwa di selatan Jawa ada ancaman gempa dengan skala di atas 9 yang bisa memicu tsunami,” ungkap Eko dalam diskusi Sapa Media: Masyarakat Siaga Bencana 2021 secara virtual, Jumat 29 Januari 2021 lalu.

Eko lantas mengingatkan pemda setempat harus mewasdai ini. Sebab, gelombang tsunami tak hanya merugikan masyarakat dalam korban jiwa, namun akan menggangu ekonomi yang kini tengah dibangun pemda setempat.

Senada, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan integrasi dan keterlibatan sejumlah pihak diperlukan. Utamanya, untuk persiapan mitigasi bencana yang menjadi kunci keberhasilan mencegah potensi dampak buruk jika terjadi bencana.

Dwikorita menuturkan, sekalipun penelitian waspada bencana ditindaklanjuti dengan peringatan dini, namun hal itu belum sepenuhnya menjamin keberhasilan mencegahan dampak buruk dari bencana. Seperti dampak korban jiwa dan kerusakan akibat tsunami. Terlebih bila masyarakat, pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait belum siap.

Tsunami Megathrust

Ancaman gempa dan tsunami Megathrust telah diprediksi sejak 2018 hingga akhir tahun 2020. Seperti yang terbaru, sejumlah peneliti mulai memprediksi gempa dan tsunami semacam ini akan menimpa di pulau jawa.

“Masih sangat diperlukan kesungguhan pemerintah daerah dan masyarakat setempat bersama-sama pemerintah pusat untuk melakukan berbagai langkah kesiapan pencegahan bencana,” kata Dwikorita.

Karenanya, langkah mitigasi harus didasarkan pada edukasi masyarakat agar mampu melakukan perlindungan dan penyelamatan diri terhadap bencana gempa bumi dan tsunami, juga merespon peringatan dini secara cepat dan tepat.

Terpisah, pada September 2020, Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, ancaman itu tak hanya terjadi di wilayah Jawa, melainkan di wilayah lainnya. Karena itu, dirinya mengatakan mitigasi diperlukan.

Berdasarkan data BMKG, megathrust di Indonesia tersebar dari Aceh sampai Papua. Rinciannya megathrust Aceh-Andaman, Nias-Simelue, Batu, Mentawai Siberut dan Mentawai-Pagai. Selain itu ada pula megathrust Enggano, yang meliputi Selat Sunda, Jawa Barat-Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumba. Sedangkan megathrust juga bisa terjadi di Sulawesi Utara, Filipina, dan Papua.

AJ SUSMANA

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid