Grup Yorum, Kisah Grup Musik Kiri Turki yang Berlawan Hingga Mati

Tahun 1980, di Turki, di tengah pasang gerakan progressif dan revolusioner, tiba-tiba militer Turki melancarkan kudeta. Mereka mengambil paksa kekuasaan dari tangan sipil.

Segera setelah militer berkuasa, ratusan aktivis dibunuh dan 650 ribuan orang ditangkap. Media massa dibungkam. Segala bentuk pertunjukan dilarang. Orang-orang menyebutnya sebagai “periode kegelapan” (dark period).

Menghadapi rezim militer yang kalap, gerakan progressif tak menyerah. Tak hanya melawan di jalanan, mereka juga melawan dengan musik.

Di tengah masa gelap itu, empat mahasiswa dari Universitas Marmara, di Istambul, yaitu Metin Kahraman, Ali Çağlar, Orhan Emek, dan Raşit, berusaha menyuarakan keresahan dengan bernyanyi.

Mereka membentuk grup musik. Namanya: Grup Yorum. Yorum, dari bahasa Turki, yang berarti berbicara atau berkomentar.

Anak-anak muda ini terinpirasi oleh gerakan nyanyian baru (Nueva Canción) yang berkembang dan sangat populer di tahun 1960-an dan 1970-an. Terutama penyanyi kerakyatan dari Chile, Victor Jara.

Tak lama berdiri, anggota pendiri grup band ini digulung satu per satu oleh rezim militer. Karena itu, demi kelangsungan grup musik ini dan perjuangan, mereka menciptakan model kolektif. Anggotanya bisa bergonta-ganti.

Tak hanya mahasiswa, anggotanya dibuka pada kelas pekerja. Tak hanya orang Turki, tapi juga orang-orang Kurdi. Tetapi semua anggota grup Yorum punya pandangan politik yang sama: sosialis.

Seperti juga Nueva Cancion di Amerika latin, Grup Yorum juga berakar pada musik rakyat. Mereka memadukan antara musik rakyat Turki, Kurdi, dan Anatolia. Sedangkan liriknya berisi pesan-pesan revolusioner.

Untuk mengabadikan kekejaman rezim diktator di tahun 1980, mereka punya lagu “Büyü” (1987). Kemudian ada lagu “Soma İçin”, yang berkisah tentang tragedi ledakan tambang baru bara yang menewaskan 340-an pekerjanya.

Selain itu, mereka juga lagu Çav Bella (1994), yang diadaftasi dari lagu anti-fasis Italia, Bella Ciao. Mereka juga kerap menyanyikan lagu pekerja sedunia, Enternasyonal (L’Internationale).

Dalam waktu singkat nama Grup Yorum menjulang. Apalagi, mereka menjadi grup musik Turki pertama yang berani melantunkan lagu-lagu Kurdi. Penggemar mereka menyebar dari anak-anak muda, aktivis kiri, hingga kelompok minoritas yang terzalimi.

Kerap tampil dengan identitas kiri, dari latar panggung bergambar Che Guevara, syal merah di leher, hingga pekik tangan kiri, Grup Yorum kerap menjadi target represi oleh rezim kanan yang berkuasa di Turki.

Sedikitnya, sekitar 400 kali grup ini harus berurusan dengan pengadilan dan penjara. Sebanyak 170 konser mereka dibatalkan paksa. Tak jarang, polisi membubarkan konser saat sedang berlangsung.

Ketika rezim konservatif Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berkuasa di Turki sejak 2002, Grup Yorum terus bersuara lantang. Berbagai cara dilancarkan untuk menyingkirkan grup musik revolusioner ini.

Tahun 2010, bertepatan dengan 25 tahun usia grup musik ini, mereka menggelar kongser akbar. Konser yang dihadiri oleh 55 ribu orang itu digelar di stadion İnönü, yang merupakan stadion kandang klub sepak bola kiri Turki Beşiktaş.

Tahun 2013, grup Yorum mulai jadi sasaran tembak. Di tahun itu, beberapa anggotanya ditangkap karena dituduh terlibat organisasi marxis, Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner (DHKP-C).

Sejak itu, pembatasan terhadap aktivitas Grup Yorum makin meningkat. Tahun 2015, sebuah konser besar mereka dibubarkan paksa. Seluruh anggota grup ditangkap tanpa alasan yang jelas.

Puncaknya, setelah kudeta yang gagal terhadap Recep Tayyip Erdoğan di tahun 2016. Semua konser mereka dilarang. Pusat kebudayaan grup ini berkali-kali diserbu oleh polisi dan tentara.

Memang, sejak di bawah rezim AKP, Turki menjadi sangat otoritarian. Sejak 2016, sebanyak 160 ribu orang hakim, guru, polisi, dan pegawai negeri sipil diberhentikan dari pekerjaannya karena alasan politik. Sebanyak 77 ribu diantaranya ditangkap.

Hingga akhir 2019 lalu, sedikitnya 120 jurnalis dipenjara di Turki. Belum surat kabar, serikat buruh, partai politik, hingga lembaga pendidikan yang dilarang beroperasi.

Pada Februari 2018, semua personil grup dimasukkan daftar teroris oleh pemerintah. Masing-masing kepala mereka dihargai 300 ribu lira.

Dua personil grup, Selma dan Inan kemudian melarikan diri ke luar negeri. Belakangan, mereka meminta suaka di Perancis. Sementara yang lain ditangkap dan dipenjara di Turki.

Pada 16 Mei 2019, personil grup yang dipenjara menggelar aksi mogok makan. Mereka menuntut agar personil grup dikeluarkan dari daftar teroris, larangan konser dicabut, dan pembebasan semua personil grup dari penjara.

Pada Juli 2019, dua personil grup lainnya, Ibrahim Gökçek and Helin Bölek, ikut menggelar aksi mogok makan.

Pada bulan November 2019, beberapa personil dibebaskan dari penjara. Namun, meski dikeluarkan, mereka tetap melanjutkan aksi mogok makan.

Ibrahim dan Helin menyatakan akan mogok makan hingga mati, hingga tuntutan mereka dipenuhi oleh pemerintah Turki. Pada 11 Maret 2020, keduanya diangkut paksa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Keduanya tetap melanjutkan aksi mogok makan. Pada 3 April 2020, Helin Bölek meninggal dunia. Badannya sangat ringkih setelah mogok makan selama 288 hari. Dia meninggal dalam usia yang masih sangat muda: 28 tahun.

Pada 7 Mei 2020, Ibrahim Gökçek menyusul. Ia meninggal dunia setelah mogok makan selama 323 hari. Prosesi pemakamannya, yang dihadiri oleh ribuan pelayat, dibubarkan oleh polisi. Peti jenazahnya diambil polisi, lalu dibawa ke Kayseri untuk dimakamkan.

Meninggalnya Helin dan Ibrahim sangat memukul personil Grup Yorum yang lain. Namun, perjuangan mereka belum berhenti.

Sebagai kolektif, grup Yorum akan selalu ada dan berjuang. Patah tumbuh hilang berganti.

Raymond Samuel

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid