Gajah dalam Paradaton Masyarakat Angkola

Medan, Berdikari Online

 

Dulu engkau dipuja-puja bagai dewa

Turun dari langit rasa ke alam raya

Simbol pemimpin yang melindungi rakyatnya

Jujur, berani, penuh wibawa mental baja

Apalagi bagi etnis Angkola Sumatra

Gajah kembar putih bukan sekedar gambar

Keberanian yang kokoh bagi para tokoh

Mental kuat melawan kerakusan

Walau terkini cuma patung-patung

Tanpa pelindung dari terik matahari

Dan derasnya hujan

Sebagai simbol masa lalu yang gemilang

Adat kuat hidup sehat terasa nikmat

 

Tiga belas baris di atas cuplikan dari puisi berjudul Gajah Rebah Tanah, Melacak Jejak-Jejak yang Hilang karya penyair S. Ratman Suras, dibacakan aktor Teja Purnama sebelum seminar

Gajah dalam Paradaton Masyarakat Angkola

dimulai.

Gajah merupakan hewan yang unik untuk dikaji karena hewan ini sangat erat sekali hubungannya dengan sejarah peradaban manusia. Gajah memiliki banyak dimensi dan perspektif kajian keilmuan. Gajah memiliki kelebihan yaitu sebagai spesies mamalia darat terbesar dan salah satu hewan terpandai di dunia yang memiliki volume otak yang besar.

Dari perspektif sejarah, sejak zaman dahulu mamalia darat terbesar ini memiliki arti dan peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Gajah selalu diidentikkan dengan ilmu pengetahuan dan konsepsi kerelijiusan. Jika pada masa Hindu-Buddha sosok gajah dipandang dari sisi religiusitas, didewakan dalam bentuk Ganesha dan Airawata, bagaimana dengan masa sekarang ini?

Mengapa masyarakat Suku Angkola memiliki ritual penghormatan pada gajah? Diberi kain ulos dan para raja bersama  sesepuh adat berkumpul manortor memberi penghormatan seraya musik gondang terus berbunyi?

Demikianlah sebuah penemuan awal diucapkan oleh Tengku Zainuddin dalam presentasinya di hadapan seratus peserta seminar yang dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, budayawan, seniman dan masyarakat umum di gedung seminar FISIP USU, lantai 2 di Jalan Dr. A. Sofyan No. 1 Padang Bulan Medan, Selasa (7/11). Pertanyaan ini dijawab sementara oleh ketiga narasumber yang berhasil dihimpun untuk mencoba menjawab kegelisahan itu.

Masyarakat Angkola adalah salah satu suku yang ada di Sumatra Utara. Mereka bermukim di sekitar Pannai atau Padang Bolak, biasa juga dikenal dengan daerah Padang Lawas di sekitar kabupaten Mandailing.  Kawasan seluasnya sekira 8.000 km2 yang dialiri oleh sungai-sungai utama seperti sungai Batang Barumun, Aek Siraisan, Batang Pane, Aek Sirumambe, Aek Sangkilon, Aek Haruaya, Batang Onang dan Aek Sihapas. Nama yang merujuk kawasan itu, kata Nasrul Hamdani dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sumut dalam paparannya tercantum dalam prasasti Tanjore (1108 M), prasasti Batugana atau prasasti Panai, disebut juga dalam Nagarakertagama dengan keterangan letaknya tidak jauh dari Barus, Mandailing dan Minangkabau. Ia menambahkan bahwa ada ritual marroto (melompati gajah) bagi raja yang baru ditabalkan setelah raja sebelumnya dimakamkan. Gajah menjadi simbol para raja di tanah Angkola.

Yance, Dosen Antropologi FISIP USU dalam keterangannya menjelaskan bahwa kemungkinan di tahun-tahun mendatang populasi gajah akan terus merosot dan semakin berkurang karena situasi dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung ditambah karena perbuatan spesies homo sapiens (manusia) yang sangat kejam kepada sesama makhluk. Ia dengan percaya diri mengatakan kalau manusialah yang mampu melakukan kekejaman seperti itu, tapi ia juga meyakinkan peserta seminar, manusia bisa mendatangkan kembali melalui hasil riset yang telah diteliti secara serius oleh para ahli dan berkat kecanggihan ilmu biologi molekuker yang didukung ilmu pengetahuan lain untuk mengembalikan makhluk jutaan tahun lalu hidup di muka bumi kembali seperti kambing ibex.

“Namun hutan tempat mereka hidup dan berkembang biak seperti di Pulau Sumatra ini semakin tergerus karena pesatnya pembangunan, sehingga seringkali menciptakan konflik horizontal yang tidak seimbang terhadap para satwa yang dilakukan manusia dari berbagai kepentingan. Manusia memang mengambil wilayah tempat di mana gajah dan kawanannya hidup,” kata Zakarias Yoseph Tien, dari Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Sumatera.

Dini Usman, Ketua Deli Art Community dalam keterangannya mengucapkan, “Semoga seminar ini bisa menyadarkan kita semua khususnya masyarakat di Sumut tentang warisan budaya ini supaya kita beroleh kebijaksanaan. Jelas sekali ada relasi intim antara manusia dan gajah, sehingga perlakuan spesial itu terlihat dari ritual masyarakat Angkola. Semoga  menginspirasi dan bisa memantik penelitian-penelitian sejenis untuk memperkaya kita semua sebagai salah satu penghuni planet bumi agar bersikap lebih arif terhadap mahluk lain yang memiliki hak dan kesempatan hidup bersama lebih baik,” katanya.

(Dinda)

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid