Femicide Tetap Bertahan Sebagai Kekerasan Gender Sistemik

Femicide bukanlah lagi persoalan individu yang dialami oleh perempuan. Sebaliknya, kekerasan yang dialami oleh perempuan, terutama perempuan pribumi dan kulit berwarna, telah lama menjadi komponen struktural untuk membangun dan mempertahankan sistem kapitalisme dan kolonialisme. Diskriminasi sistemik yang dialami oleh perempuan juga masuk kedalam lembaga Negara, seperti sistem peradilan, pelanggengan impunitas, dan kekerasan gender yang berkelanjutan.

Beberapa feminis berpendapat bahwa kekerasan gender dalam segala bentuknya bekerja untuk menormalkan ketidaksetaraan dan merupakan bagian dari kekuatan pendorong kapitalisme. Ini memposisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai sesuatu yang dibenarkan dan menjadi bagian struktural dari negara yang menjunjung tinggi sistem patriarkal, termasuk di bawah sistim kapitalisme, yang tidak melihat nilai yang melekat pada tubuh perempuan atau pekerjaan yang mereka lakukan.

Feminis Honduras, Melissa Cardoza, mengatakan bahwa kebrutalan neoliberalisme, militerisme, dan eksploitasi mendorong femicide di Honduras, negara yang menjadi tempat kasus femicide tertinggi di dunia.

“Kekerasan terhadap perempuan adalah bentuk patriarki—sistim ini menyangkal nilai kemanusiaan, sumber daya, dan apapun yang hidup—mencoba mengontrol tindakan kami, otonomi, pikiran, dan kreasi kami. Femicide adalah bentuk paling brutal dari upaya kontrol terhadap tindakan kami,” kata Mendoza kepada TeleSUR.

Dia juga menambahkan, dengan secara sistematis mendevaluasi perempuan, ideologi patriarki juga membuat tubuh perempuan bisa ditindas, dikomoditifikasi, dan dibunuh.

Terlebih lagi, saat ini banyak perempuan yang berjuang untuk membela hak-hak dalam menghadapi ketidakadilan neoliberalisme dan mempromosikan jalan keluar dengan menyasar ketidakadilan gender.

Impunitas Melanggengkan Femicide

Disamping angka femicide yang melonjak, negara-negara Meso-Amerika seperti Meksiko, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador, berada di jajaran 10 negara di dunia yang melanggengkan impunitas. Menurut Komisi Inter-Amerika tentang Hak Asasi Manusia, impunitas memiliki dampak yang sangat berat pada perempuan, yakni melanggengkan penerimaan sosial terhadap fenomena kekerasan terhadap perempuan.

Impunitas dalam kasus femicide dan pelanggaran lainnya berarti bahwa ketika perempuan mencoba mencari keadilan, mereka akan berhadapan dengan diskriminasi gender yang menempatkan dan menyalahkan korban sebagai penyebab kekerasan itu sendiri. Dalam hal ini, polisi, sistem peradilan, atau bahkan Negara secara keseluruhan, terlibat dalam melakukan dan melanggengkan kekerasan berbasis gender.

Kegagalan pemerintah merespon dan mengatasi benih-benih kekerasan gender telah melestarikan impunitas dan menyeret negara sebagai sponsor secara tidak langsung dalam kekerasan terhadap perempuan.

Meso-Amerika Mengalami Krisis Femicide

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kekerasan terhadap perempuan adalah “pendemik (penyakit epidemik yang tersebar luas) global”. Tetapi femicide telah menjadi bahaya besar di Meksiko, Honduras, dan El Salvador.

Laporan PBB soal perempuan menyebutkan, sebanyak 14 dari 25 negara dengan tingkat femicide tertinggi berada di kawasan Amerika Latin, dimana negara-negara Amerika tengah seperti El Salvador, Honduras dan Guatemala, merupakan negara paling buruk dengan tingkat kekerasan terhadap perempuan dan femicide tertinggi di dunia. Demikian pula, di Meksiko, 7 orang perempuan dibunuh setiap harinya akibat femicide yang sudah mengalami krisis di negeri ini.

Di Honduras sendiri, tingkat pembunuhan disertai kekerasan terhadap perempuan meningkat lebih dari 260 persen antara tahun 2005 dan 2013. Pada tahun 2014, setidaknya 513 perempuan menjadi korban femicide. Pada tahun 2015 ini, Pusat Hak-Hak Perempuan di Honduras melaporkan, setiap 16 jam ditemukan ada perempuan yang dibunuh.

Melampaui Statistik

Ketika angka femicide dan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan lainnya dengan gampangnya dikurangi melalui manipulasi stastistik, aksi demonstrasi yang tiba-tiba muncul telah menyingkap banyak fakta. Sehingga melihat femicide dengan melampaui angka statistik adalah cara yang tepat untuk melihat penyebaran kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana mengatasinya.

Ketika angka femicide meningkat di Honduras, negeri ini juga mengalami kudeta militer yang menggulingkan Preisen Manuel Zelaya di tahun 2009 dan secara agresif mengembalikan neoliberalisme di negeri ini. Kudeta ini telah mengantar Honduras untuk menerapkan kebijakan yang terbuka terhadap perusahaan multinasional untuk memprivatisasi sungai untuk proyek waduk/bendungan, perampasan lahan untuk kepentingan tambang, perampasan sumber daya untuk mega proyek pariwisata, dan proyek-proyek neoliberal lainnya. Gelombang pelanggaran HAM, militerisasi, kriminalisasi aktivis, dan merajalelanya impunitas bangkit bersamaan dengan berkuasanya rezim kudeta.

“Perempuan Honduras adalah yang paling terkena dampak kebijakan eksploitasi, penderitaan, penghianaan, dan frustasi. Mereka yang menerima upah paling buruk,” kata Cardoza. Dia melanjutkan, “perempuan bekerja untuk menopang kehidupan seluruh keluarga di tengah kapitalisme yang brutal ini, tetapi dengan resiko hidup, rencana hidup, dan kesehatan mereka.”

Menurut Inisiatif Meso-Amerika Untuk Pertahanan Hak-Hak Perempuan, perempuan di kawasan ini dipaksa bertanggung jawab untuk tugas-tugas keluarga, namun kontribusi mereka dihargai tidak sama dengan laki-laki di bawah kapitalisme. Dan hal ini dikombinasikan dengan impunitas yang semakin meluas dan sistem peradilan yang menempatkan beban kesalahan pada perempuan itu sendiri, telah menormalkan kebencian terhadap perempuan (misoginis), kekerasan gender, bahkan femicide. Di Honduras, banyak kasus femicide dilakukan oleh pasangan intim korban itu sendiri.

Sementara di luar rumah, banyak perempuan mengalami kriminalisasi dan kekerasan ketika berdiri melawan sistem ini. Inisiatif Meso-Amerika Untuk Pertahanan Hak-Hak Perempuan pada tahun 2014 melaporkan, perempuan yang mempertahankan tanah dan wilayahnya dalam menghadapi operasi pertambangan dan proyek-proyek lainnya adalah yang paling rentan mengalami kekerasan dibandingkan dengan perempuan pembela kekerasan gender di Meso-Amerika, termasuk pelecehan, kekerasan, upaya pembunuhan, dan serangan lainnya.

Sementara itu, sistem peradilan terus membungkuk pada kepentingan kapitalisme. Juga hak impunitas yang dinikmati perusahaan trans-nasional dalam meluaskan bisnisnya dikombinasikan dengan watak kekerasan negara terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan ini, kata lembaga Inisiatif Meso-Amerika Untuk Pertahanan Hak-Hak Perempuan, tidak hanya menempatkan perempuan dalam bahaya dan melemahkan organisasi mereka, tetapi juga menghambat partisipasi dan organisasi perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya.

Perempuan Melawan

Menghadapi pasang naik femicide di Honduras dan tempat lain di kawasan ini, perempuan telah bersuara lantang melawan ketidakadilan, memimpin kampanye besar-besaran yang menuntut keadilan bagi korban dan mengakhiri impunitas, serta menaikkan kesadaran warga tentang kekerasan terhadap perempuan.

“Perempuan Honduras adalah pejuang. Selama bertahun-tahun kami membuat proposal…dan proposal itu mulai terlihat,” kata Cardoza. “Kami membangun gerakan yang menyasar budaya yang menciptakan pandangan yang membenarkan kekerasan ini dan melanggengkannya.”

Di Honduras, perempuan berjuang untuk hak yang lebih luas dan beragam, mulai dari perjuangan hak untuk aborsi dan pengakuan terhadap lesbian, mengusulkan undang-undang anti-kekerasan terhadap perempuan, dan juga aksi langsung berupa demonstrasi jalanan, pendudukan lahan, dan pembelaan atas tanah adat.

Hal semacam itu juga dilakukan oleh perempuan di negara lain di kawasan Amerika Latin, seperti memaksa pemangku kekuasaan mengambil langkah menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Juga mendidik komunitas, termasuk laki-laki, tentang hak-hak perempuan dan perubahan sosial yang diperlukan untuk kesetaraan gender.

Menurut Cardoza, bagian dari perjuangan adalah mengintegrasikan isu-isu perempuan ke dalam gerakan yang lebih luas untuk keadilan sosial dan membawa semua gerakan sosial ke dalam perjuangan bersama melawan segala bentuk “budaya kekerasan”.

Tetapi membawa isu perempuan secara spesifik ke dalam gerakan sosial tidaklah mudah, karena terkadang di gerakan sosial sendiri masih anti-feminis dan misoginis.

“Laki-laki enggan meninggalkan hak-hak patriarkal mereka, sehingga sungkan mengatakan kepada publik bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah memalukan,” kata Cardoza. “Budaya maskulinitas itu agressif, intoleran, dan kriminal.”

Dalam hal ini, tantangan bagi gerakan perempuan di Honduras, kata Cardoza, adalah bagaimana memahami kekerasan gender ini diproduksi dan direproduksi dalam sebuah sistem yang disebut demokrasi dan dilanggengkan oleh sistim neoliberalisme dengan membunuh perempuan melalui kelaparan, diskriminasi, dan kejahatan.

Meskipun demikian, perempuan Amerika latin tetap berada di garis depan dalam perjuangan melawan patriarki dan sistem kapitalisme yang menyangkal keberadaan mereka. Juga menentang ketidakpedulian dan impunitas ketika perempuan dihilangkan atau dibunuh. Kekerasan terhadap perempuan adalah struktural, bukan kebetulan, sedangkan impunitas memungkinkan pelaku ketidakadilan tidak tersentuh.

“Kami berjuang, kami adalah perempuan yang melawan. Kami tidak lupa nama mereka, atau tindakan mereka, kami tidak akan memaafkan,” kata Cardoza.

Heather Gies

(*) Diterjemahkan dari teleSUR oleh Rini.

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid