Emmy Saelan, Pejuang Perempuan di Garis Depan

Dalam narasi sejarah resmi, terutama di masa Orde Baru, kisah tentang pejuang perempuan kerap diasosiasikan dengan garis bekalang: palang merah, dapur umum, kurir, dan lain sebagainya. 

Padahal, saat revolusi Indonesia bergolak, ada banyak perempuan di garis depan. Mereka turut terpanggil mengangkat senjata demi kemerdekaan negerinya. Salah satunya: EMMY SAELAN.

Kisah perjuangan Emmy tak kalah heroik dengan perjuangan banyak pejuang laki-laki. Dia hadir di garis depan pertempuran. Di ujung hidupnya, dia memilih meledakkan granat di tangannya, agar tak tertangkap oleh tentara Belanda. 

Bercita-cita jadi Dokter

Emmy Saelan lahir di desa Malangke, Luwu, pada 15 Oktober 1924. Ayahnya, Amin Saelan, adalah seorang aktivis pergerakan di Taman Siswa. Sedangkan ibunya, Sukantim, anak keluarga dokter dari Jawa Tengah.

Amin sangat peduli dengan pendidikan. Karena itu, Emmy dan semua saudaranya (punya 7 orang saudara) bisa mengenyam pendidikan terbaik. Hampir semua saudaranya perempuan, kecuali satu orang: Maulwi Saelan.

Emmy mengenyam pendidikan di Europeesch Lagere School (ELS), sekolah tingkat dasar Hindia-Belanda. Setelah itu, dia lanjut ke Zusterschool Arendsburg. Ia dinyatakan lulus tahun 1937. Tahun itu juga dia lanjut ke sekolah menengah atas: Hogere Burgerschool (HBS).

Emmy belia bermimpi ingin dokter. Ia ingin seperti kakeknya dari pihak Ibu, yang merupakan dokter dari Purwokerto, Jawa Tengah. Sayang, sebelum Emmy berangkat ke Tanah Jawa untuk menimbah ilmu kedokteran, tentara Jepang jadi penguasa baru Nusantara. Cita-citanya pun kandas.

Tak bisa berangkat ke Jawa untuk belajar kedokteran, Emmy tak patah semangat. Cita-citanya untuk merawat orang banyak ia salurkan dengan menjadi tenaga perawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Ia juga kerap menjadi palang-merah.

Panggilan Revolusi 

Pertengahan 1945, posisi Jepang mulai terdesak dalam perang Asia Timur Raya. Hingga, pada 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Indonesia merdeka meliputi seluruh wilayah bekas Hindia-Belanda, termasuk Sulawesi. Sebagai konsekuensinya, pada 19 Agustus 1945, pemerintahan Republik menunjuk seorang Gubernur untuk wilayah Sulawesi: Sam Ratulangi.

Di Sulawesi, khususnya Makassar, semangat kemerdekaan itu sudah menggelora. Pada 14 Agustus 1945, rakyat Bajeng di Gowa, Sulawesi Selatan, sudah mengibarkan bendera merah-putih di Balla Lompoa. Pasca proklamasi, para pelajar juga melakukan yang sama: pengibaran merah-putih.

Sayang, pada 21 September 1945, Sekutu yang diboncengi NICA mendarat di Makassar. Mereka langsung melarang pengibaran bendera merah-putih. Mereka juga mengambilalih kontrol terhadap kota Makassar.

Saat itu, sebagai ekspresi kemerdekaan, para pelajar setuju mendirikan sekolah Republik: namanya Sekolah Nasional, setingkat sekolah menengah pertama. Sekolah itu dipimpin langsung oleh Sam Ratulangi. Emmy dan beberapa pelajar lainnya, seperti Robert Monginsidi dan Maulwi (adiknya), menjadi penggeraknya.

Sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran sekutu dan NICA, pelajar-pelajar dan aktivis sekolah nasional kerap mengibarkan bendera merah-putih. Mereka juga kerap bertempur di jalanan dengan NICA.

Di saat yang sama, para pemuda mendirikan organisasi untuk menghimpun pelajar-pelajar radikal. Namanya: Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI). Pentolannya antara lain: Manai Sophian, S. Sunari, M. Zajad, Ali Malaka, Aminuddin Muchlis, S. Moon, Intje Abdullah.

Pada 27 Oktober 1945, aktivis PPNI mulai melancarkan gerilya bersenjata. Mereka mengambilalih sejumlah tempat yang diduduki oleh NICA, seperti stasiun radio. Bahkan mereka menyerbu kantor CoNICA (Commanding Officer NICA).

Sebagai balasannya, NICA–dibantu sekutu–melancarkan serangan balik. Mereka menyerang markas pemuda, sehingga terjadi pertempuran. Tentu saja, karena kalah senjata, pemuda terdesak.

Dua hari kemudian, pada 29 Oktober, giliran pelajar SMP Nasional yang bergerak. Mereka menyerbu Empress Hotel, tempat NICA menahan sejumlah pejuang pemuda. Emmy Saelan dan adiknya ikut dalam penyerbuan itu.

Sayang, semua perlawanan itu berhasil dipatahkan. NICA makin berkuasa di kota Makassar.

Puncaknya, pada 5 April 1946, Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi ditangkap oleh Belanda. Dia sempat ditahan beberapa bulan di Makassar, lalu diasingkan ke pulau Serui, Papua barat.

Bergerilya dan Bertempur

Terdesak dari kota Makassar, para pemuda dan pelajar membentuk laskar-laskar bersenjata. Salah satunya: Laskar Harimau. Sebagian besar anggotanya adalah bekas pelajar SMP nasional, termasuk Emmy Saelan, Wolter Monginsidi, dan Maulwi Saelan.

Pada bulan Juli 1946, di Polombankeng, sebuah daerah di Takalar, Sulawesi Selatan. Emmy Saelan dan adiknya, Maulwi Saelan, turut dalam pertemuan itu. Hadir pula pelajar-pelajar SMP nasional seperti Wolter Monginsidi, Lambert Supit, Abdullah, Sirajuddin, dan lain-lain.

Sejak pertengahan hingga di ujung 1946, laskar-laskar itu sangat merepotkan Belanda. Mereka melancarkan perang gerilya. Kadang menyerang tiba-tiba markas Belanda. Kadang mencegat patroli Belanda. Kadang juga melancarkan sabotase-sabotase.

Emmy sendiri ikut dalam gerilya itu. Dia berpindah dari satu medan gerilya ke media gerilya yang lain. Daerah gerilyanya membentang dari Makassar hingga Takalar. Seperti perempuan-perempuan Indonesia yang terjun ke revolusi, dia bercelana panjang dan menenteng senjata.

Di kalangan sesama pejuang dan rakyat biasa, Emmy kerap dipanggil “Daeng Kebo”, lantaran kulitnya yang sangat putih. Sri Mulyati, salah seorang kawan seperjuangannya, menyebut Emmy sebagai ahli sandi.

Saat itu, dalam perang gerilya, sandi menjadi kunci untuk memilah kawan dan penyusup (mata-mata). Oleh Emmy, sandinya adalah rambut. Jika seseorang memegang rambutnya, berarti itu kawan.

Pada bulan Desember 1946, karena kewalahan menghadapi gerilya laskar-laskar bersenjata, Belanda mendatangkan pasukan khusus: Depot Special Troops (DST), yang dipimpin oleh Raymond Westerling.

Dalam operasinya, DST memakai strategi operasi sapu bersih. Mereka mendatangi kampung-kampung, mengumpulkan penduduknya, diinterogasi, lalu dipilah antara pro-Republik dan tidak. Mereka yang dianggap pr0-Republik, yang dicap “ekstrimis”, langsung dieksekusi mati.

Tindakan Westerling dan DST-nya itu menyebabkan banyak pembantaian massal. Operasi militer yang disertai pembantaian massal itu kelak dikenang sebagai peristiwa “korban 40 ribu jiwa”.

Menjadi Martir

Sejak operasi pembersihan itu, posisi laskar-laskar mulai terjepit. Berhadapan dengan daerah gerilya yang menyempit, pasukan laskar harus bergerak dalam jumlah yang relatif kecil.

Suatu hari di bulan Januari 1947, keberadaan Emmy dan kawan-kawannya di wilayah Tidung, Rappocini, Makassar, terendus oleh tentara Belanda. Operasi penyerbuan pun dilakukan.

Hari itu, 21 Januari 1947, laskar pejuang dipimpin Wolter Monginsidi dan Emmy Saelan terdesak. Saat itu, Wolter memerintahkan Emmy untuk memisah dan mundur ke wilayah Kassi-Kassi (sebuah perkampungan di Rappocini, Makassar).

Emmy dan beberapa kawannya mundur ke arah Kassi-Kassi. Karena kalah jumlah, mereka makin terdesak, sehingga terjadi pertempuran dalam jarak yang sangat rapat.

Saat itu, ketika teman-tempat seperjuangannya mulai jatuh bergelimpangan, Emmy masih berusaha melawan. Hingga posisinya benar-benar terkepung.

Tentara Belanda memberi isyarat untuk menyerah, tetapi Emmy menolak. Ketika tentara Belanda mendekat, granat ditangannya ia ledakkan. “Duarr,” granat meledak. Emmy gugur dalam pertempuran itu.

Wolter sendiri lolos dari maut di pertempuran itu. Namun, begitu mendengar Emmy Saelan, kekasih hatinya, gugur di medan juang, tubuhnya jatuh lemas.

Sekarang, lokasi tempat Emmy gugur dibangun sebuah monumen. Letaknya di Jalan Hertasning, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Di monumen itu tertulis: Di tempat inilah gugur maha putra: EMMY SAELAN. Dalam suatu pertempuran dengan tentara NICA-Belanda pada tanggal 21 Januari 1947.

RINI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid