Demokrasi dan Kebatinan

Masing teringat menjelang lengsernya presiden ke-2 Indonesia, Soeharto, seorang Abdurrahman Wahid, dengan berlawanan dengan arus, justru terlihat berdekatan dengan sang presiden dan juga keluarganya. Dari berbagai data yang ada, ia pun mendapatkan banyak caci-maki karena ulahnya yang tak ingin semakin banyak korban yang jatuh ketika Soeharto dilengserkan pada waktu tanpa menunggu Pemilu. Maklum, pria kelahiran Kemusuk itu masih tampak kuat dan tangguh.

Selain itu, Pemilu, bagi seorang Abdurrahman Wahid, merupakan satu-satunya cara yang sah dan aman secara konstitusional untuk menggantikan sebuah rezim di negara demokrasi ketika dipandang tak lagi sesuai dengan pengharapan. Bahkan, konon, sikap seorang Abdurahman Wahid itu juga diturunkan dari salah satu kaidah yang cukup popular di kalangan nahdliyin.

Dari sikap seorang Abdurrahman Wahid itu dapat pula ditarik pelajaran bahwa demokrasi ternyata terkait juga dengan kebatinan. Setidaknya, bentuk pemerintahan yang telah ada sejak masa Yunani itu membutuhkan kesabaran. Dapat disimak bagaimana konon Sokrates dan beberapa pemikir semasa dan sesudahnya mendidik masyarakat Athena untuk berpikir kritis dan menyampaikan pemikiran itu secara beradab: memiliki dasar, logis, dsb. Artinya, demokrasi seolah memang tak menginginkan adanya kebencian atau sentimen dalam proses-prosesnya. Memang benar bahwa kekuasaan itu, dalam kerangka demokrasi, berada di tangan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, dari kisah masyarakat polis di Yunani dengan para pemikirnya, jelas rakyat di sini adalah rakyat yang sudah terdidik.

Pada masa Yunani klasik sudah tumbuh dua macam tradisi yang menyertai demokrasi tentang bagaimana semestinya menyatakan pendapat: isegoria dan parreshia (Menyulam yang Terpendam, Heru Harjo Hutomo, CV. Bintang Semesta Media, Yogyakarta, 2022). Dan jelas untuk memiliki kecakapan dalam ber-isegoria dan ber-parreshia atau berdemokrasi ala masyarakat Yunani purba membutuhkan sebuah proses.

Proses inilah yang acap dilupakan orang ketika berbicara tentang demokrasi yang seolah-olah sudah selesai dalam dirinya sendiri. Demokrasi, dengan melihat berbagai karakteristik, prinsip-prinsip, dst., adalah juga sebuah proses. Ibaratkan orang menginginkan sebuah kebenaran yang final, tentu kebenaran semacam ini bukanlah jenis kebenaran yang ditawarkan oleh demokrasi. Namun, demokrasi memberikan sarana untuk mencapai kebenaran seperti itu.

Pada titik inilah dapat disimpulkan bahwa demokrasi pun menuntut tentang perlunya sebuah suasana kebatinan yang mendukung. Sabar adalah salah satu aspek kebatinan yang secara pragmatis bermanfaat untuk mengolah keinginan yang kemudian dibebankan pada demokrasi. Bukankah konon seorang yang bimbang tak disarankan untuk memutuskan sebuah perkara?

Demikianlah demokrasi  secara historis ternyata juga memiliki katerkaitan dengan laku laiknya yang ditunjukkan oleh para pemikir Yunani klasik seperti Sokrates dan bahkan para anak-muridnya yang membentuk berbagai filsafat-tarekat atau filsafat-praksis semacam Stoisisme, Sinisme, Epikureanisme, dsb.

Heru Harjo Hutomo: penulis, perupa, pemusik, dan pemerhati radikalisme-terorisme

 

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid