Berlebaran di Masa Revolusi 1945-1949

Tahun ini, di tengah kecamuk pandemi, kita merayakan Hari Lebaran dalam suasana yang berbeda. Demi keselamatan bersama, berlaku kebijakan pembatasan sosial.

Walhasil, sebagian kita tak bisa mudik. Beberapa tempat tak bisa menyelenggarakan sholat Idulfitri di lapangan atau masjid. Dan sedihnya lagi, silaturahmi dengan keluarga, sanak-saudara, dan teman-teman, juga dibatasi oleh jarak.

Namun, jangan sedih, itu demi keselamatan kita bersama. Lagipula, berkat kemajuan teknologi, semarak lebaran bisa kita rayakan bersama keluarga, sanak-saudara, dan teman-teman lewat virtual.

Bandingkan dengan masa Revolusi dulu. Ketika dentuman meriam, ledakan bom, dan desingan peluru masih bersahut-sahutan. Jangankan di luar rumah, di dalam rumah saja nyawa kita masih terancam.

Marilah, di tengah pandemi ini, kita mengenang lebaran di masa-masa Revolusi Agustus 1945, antara 1945 hingga 1949.

Proklamasi Kemerdekaan kita, tanggal 17 Agustus 1945, itu jatuh pada 9 Ramadhan 1334 Hijriah. Jadi, bangsa ini merdeka di tengah bulan suci Ramadhan.

Baca juga: Andil Pemuda Kiri pada Proklamasi Kemerdekaan

Lebaran tahun 1945 ada dua versi. Ada yang merayakan tanggal 7 September 1945, Ada juga yang merayakan tanggal 8 September 1945.

Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Jakarta (semacam parlemen di masa itu) mengeluarkan seruan ajakan berlebaran di Lapangan Gambir (sekarang Monas) pada tanggal 8 September 1945.

“Ajaklah keluarga dan kawan-kawan untuk bersama-sama sembahyang Id. Sembahyang dimulai jam 8.30 pagi,” demikian bunyi seruannya.

Melihat kalender 1945, yang bisa dicari di google, Idulfitri tahun 1945/1334 H jatuh pada hari Sabtu, tanggal 8 September 1945.

Penetapan 1 Syawal 1443 H jatuh pada 8 September 1945 dilakukan oleh Gunseikanbu Syuumubu­—semacam kantor urusan agama di jaman Jepang. Perlu diketahui, meski Indonesia sudah merdeka, tetapi saat itu sisa-sisa administratur Jepang masih bertahan.

Muhammadiyah punya versi sendiri. Organisasi yang kala itu dipimpin oleh Ki Bagus Hadikusumo ini menetapkan 1 Syawal 1443 H jatuh pada 7 September 1945.

Lebaran 1945 adalah lebaran pertama dalam suasana Indonesia merdeka. Meski Jepang belum sepenuhnya pergi, tetapi suasana lebaran berlangsung meriah. Tak ada perang, bunyi tembakan, apalagi ledakan bom.

Sebuah video di Youtube menunjukkan kemerihan lebaran pertama di masa Revolusi itu. Lapangan Gambir tumpah ruah oleh rakyat yang menunaikan sholat Id.

Usai berlebaran, rakyat Jakarta tumpah-ruah di jalan-jalan. Ada yang mengunjungi kerabatnya. Ada yang berlibur dan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Oiya, lebaran juga tak lepas dari urusan politik. Ceritanya, malam lebaran, ketika gema takbir berkumandang, Sukarno menerima kunjungan tamu misterius. Tak lain dan tak bukan, tamu misterius itu adalah Tan Malaka, aktivis lawas yang sudah malang-melintang dalam pergerakan anti-kolonial sejak 1920-an.

Perihal pertemuan di malam lebaran itu, beberapa sumber menyebut bahwa maksud kedatangan Tan Malaka adalah menawarkan: bila sesuatu yang buruk terjadi pada Sukarno dan Hatta, maka kepemimpinan nasional akan dilanjutkan oleh Tan Malaka.

Sekarang, kita beranjak ke lebaran 1946. Saat itu, situasinya sudah berbeda. Tentara sekutu, yang diboncengi NICA, sudah merangsek ke wilayah RI. Jakarta sudah tak kondusif, setelah dikuasai NICA.

“Dalam pada itu, keadaan di Jakarta sudah begitu gawat, sehingga aku tak bisa lama menetap di situ,” kenang Sukarno.

Karena itu, pada 4 Januri 1946, Ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Karena itu, pada lebaran kedua Indonesia merdeka, Sukarno dan pemimpin Republik lainnya berlebaran di Yogyakarta.

Tapi, lebaran tahun 1946 tak aman. NICA sudah ada di mana-mana, dengan terornya. Bentrokan tak jarang terjadi. Dentuman meriam dan desingan peluru mulai bersahut-sahutan kembali.

Di Yogya, Ibukota Republik, situasinya tak lebih baik. Ada krisis politik di internal Republik. Hari itu, ada ketegangan antara Kabinet yang dipimpin oleh Sjahrir dengan kelompok oposisi yang dipimpin oleh Tan Malaka.

Puncaknya, pada 3 Juli 1946, menjelang bulan Ramadhan, kelompok oposisi di bawah payung Persatuan Perjuangan berusaha melancarkan kudeta. Namun, seperti dicatat sejarah, kudeta itu gagal.

Karena itu, menjelang Lebaran 1946, yang jatuh pada 28 Agustus 1946, ada larangan mudik. Di berbagai tempat, terjadi bentrokan antara pejuang RI versus NICA. Bahkan, bentrokan itu terjadi pada hari Lebaran.

Seperti diberitakan ANTARA, 30 Agustus 1946: bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri pada 28 Agustus, barisan Rakyat memberi pukulan pada pasukan-pasukan NICA di desa Tjibeber (Bogor), sehingga mereka terpaksa mundur.”

Tetapi, sebuah foto di buku Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “Petite Histoire” jilid 1, memberi keterangan: Panglima Soedirman bersama masyarakat Jakarta menjalankan sembahyang Idulfitri di lapangan Ikada (November 1946).

Tentu saja, keterangan foto itu perlu dipertanyakan akurasinya. Sebab, lebaran Idulfitri 1946 jatuh pada 28 Agustus, bukan November. Lagipula, situasi Jakarta saat itu tak memungkinkan sholat Id secara terbuka, apalagi menghadirkan Panglima Soedirman.

Sekarang, kita beranjak ke lebaran 1947. Suasananya lebih perih lagi. Baru saja umat Islam memasuki bulan Ramadhan, tepatnya 2 Ramadhan malam, 20 Juli 1947, tentara Belanda melancarkan agresi militernya.

Hampir seluruh wilayah Republik, yang saat itu tinggal meliputi Jawa dan Sumatera, digempur. Ibukota RI di Yogyakarta tak luput dari serangan udara. Lapangan terbang Maguwo, yang berada di Yogyakarta, diserang dua kali oleh pesawat-pesawat Belanda pada 7 Ramadhan.

Pada 29 Juli 1947, pesawat-pesawat AURI di bawah pimpinan Komodor Halim Perdanakusumah, melancarkan serangan balasan.

Namun, naas. Ketika Belanda melakukan serangan balasan lagi, sasarannya adalah pesawat Dakota dengan simbol Palang Merah, yang tengah membawa obat-obatan dari Singapura. Tragedi itu menewaskan Komodor Agustinus Adisucipto, Komodor Abdurrahman Saleh, dan Adisumarmo.

Karena agresi militer Belanda, perayaan Idulfitri di sejumlah tempat tidak bisa dilakukan. Terutama di daerah yang berhasil diduduki oleh Belanda.

Beruntung sedikit, umat Islam di kota Yogyakarta masih bisa merayakan lebaran. Sholat Ied diselenggarakan di Alun-alun Yogyakarta. Hadir di situ: Sukarno, Panglima Soedirman, Sultan Hamengkubowono IX, dan lain-lain.

Sekarang, kita berpindah ke tahun 1948. Suasana Republik tak kunjung membaik. Selain agresi militer Belanda, di internal Republik terjadi perpecahan yang dipicu oleh hasil persetujuan Renville dan rencana program reorganisasi dan rasionalisasi (Rera), yakni antara kelompok kiri versus Hatta.

Kabinet kiri yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin lengser. Sebelumnya, Amir dikritik terkait perjanjian Renville yang dianggap merugikan Republik. Setelah Amir jatuh, naiklah Bung Hatta. Salah satu program Hatta adalah reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang.

Kelompok kiri di bawah payung Front Demokrasi Rakyat (FDR) menolak proposal Hatta itu. Ketegangan meningkat setelah seorang penentang program Rera, Kol Sutarto, komandan Pasukan Panembahan Senopati, ditembak mati. Ini terjadi hanya beberapa hari jelang Ramadhan.

Memasuki bulan Ramadhan, ketegangan kian meningkat. Terjadi aksi saling culik dan saling serang antara kelompok kiri dengan divisi Siliwangi.

Melihat nasib Republik yang diujung perpecahan, Sukarno mengajak Kiai dari Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Wahab Chasbullah, datang ke Istana. Saat itu, Sukarno meminta saran Kiai Wahab perihal cara mempersatukan kembali kekuatan-kekuatan politik yang berseteru.

Singkat cerita, dari pertemuan itu tercetus ide untuk menggelar silaturahmi nasional, yang mempertemukan berbagai kekuatan politik yang berseteru itu. Kelak, silaturahmi nasional itu diberinama “halalbihalal”.

Baca juga: Halalbihalal, Sumbangsih Islam Indonesia untuk Persatuan Nasional

Hari Idulfitri tahun 1948 jatuh pada 6 Agustus 1948. Di Jakarta, dua hari jelang lebaran, pejabat kota Jakarta (Hoofd Tijdelijk Bestuur) melarang sholat Ied di Pegangsaan Timur 56 (bekas kediaman Bung Karno). Mereka menganjurkan agar sholat Ied dilakukan di lapangan Gambir.

Tetapi panitia dan rakyat menolak. “Pegangsaan Timur 56 oleh rakyat Jakarta dianggap simbol Republik, lapangan gambir simbol kekuasaan asing,” tulis Pramoedya Ananta Toer dkk di Kronik Revolusi Indonesia: Jilid IV (1948).

Meski dihalangi, bahkan dijaga dengan tank, rakyat Jakarta tetap berbondong-bondong ke Pegangsaan Timur 56 untuk menunaikan ibadah sholat ied.

Tahun 1949, suasana perang mulai mereda. Setelah Agresi Militernya yang ke-2, Belanda tak berdaya digiring oleh pihak internasional ke meja perundingan.

Pada 2 Juni 1949, bertepatan dengan 7 Ramadhan, pasukan Belanda meninggalkan kota Yogyakarta, setelah menduduki kota itu selama 6 bulan. Pemerintahan RI di Yogyakarta dipulihkan.

Tanggal 6 Juli 1949, Sukarno dan Hatta tiba kembali di Yogyakarta, setelah diasingkan ke sejumlah tempat di Sumatera—terakhir di Bangka. Ia disambut ribuan massa dan pekik “merdeka!” di sepanjang jalan.

Bersamaan dengan itu, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya ke pemerintahan Republik di Yogyakarta.

Lalu, pada 27 Juli 1949, tibalah Hari Lebaran. Rakyat Indonesia di sejumlah tempat kembali merayakan Lebaran dengan penuh suka-cita. Kendati, di beberapa tempat, masih kadang terjadi kontak senjata antara pejuang RI versus tentara Belanda.

Hari Lebaran 1949 bersamaan dengan hiruk-pikuk pemerintah RI menyiapkan delegasi menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Demikianlah, secuplik kisah lebaran di masa-masa Revolusi Agustus 1945. Meski di masa-masa sulit, ada ketabahan dan semangat juang yang tak pernah kalah. Hingga terwujud apa yang diserukan oleh Sukarno pada 1943: kemenangan akhir pasti di pihak kita.

Akhir kata, saya ucapkan: Selamat Idulfitri 1441 H/2020 M. Minal Aidin wal-Faizin. Mohon maaf lahir dan bathin. Merdeka!

RUDI HARTONO

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid