Asal-Usul “Roti dan Mawar” Jadi Slogan Perjuangan

Manusia tak hanya butuh roti untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, manusia juga butuh mawar kehidupan (pendidikan, musik, buku, hak politik, dll) agar hidupnya lebih berwarna dan bermakna.

Begitulah kira-kira isi orasi Helen Todd, seorang feminis dan aktivis buruh, saat berpidato di hadapan para aktivis hak pilih perempuan (women’s suffrage), pada 1910. “Kita butuh roti, tapi juga mawar,” begitulah ungkapannya.

Tak berselang lama, ungkapan Helen itu makin populer. Di Chicago, buruh pabrik garmen yang mogok untuk kenaikan upah dan hak pilih mengeluarkan slogan: “We want bread – and roses, too”.

Sejak itu, slogan “bread and roses” tak hanya menjadi miliknya gerakan buruh, tetapi juga gerakan perempuan yang menuntut hak pilih (suffragette).

Pada 1911, James Oppenheim, seorang penyair dan penulis novel Amerika Serikat, terinspirasi oleh frase dari orasi Helen Todd itu. Dia menerjemahkan frase itu ke dalam puisi berjudul “Bread and Roses”. Puisi itu terbit di American Magazine pada Desember 1911.

Pada 1912, buruh-buruh pabrik tekstil di kota Lawrence, Massachusetts, Amerika Serikat, menggelar aksi mogok. Mereka memprotes penurunan upah, kondisi kerja yang buruk, dan diskriminasi.

Aksi mogok itu menyeret sekitar 25 ribu pekerja. Mayoritas pekerja itu adalah kaum imigran. Ada banyak pekerja perempuan dan anak-anak. Mereka berhadap-hadapan dengan kondisi kerja yang buruk.

Dalam aksi mogok yang berlangsung berbulan-bulan itu, dari Januari hingga Maret 1912, pekerja perempuan mengambil peran penting. Mereka terlibat aksi piket dan pawai sembari memekikkan slogan “We want Bread, and Roses too!”

Aksi mogok itu mendapat represi. Polisi dan milisi dikerahkan untuk membubarkan pemogokan itu. Hingga, pada 29 Januari 1912, Anna LoPizzo, seorang pekerja perempuan asal Italia, menjadi korban. Dia tewas setelah ditembak oleh seorang petugas polisi.

Akhirnya, setelah berminggu-minggu melakukan aksi mogok, sebagian tuntutan pekerja dipenuhi: kenaikan upah disetujui, kerja lembur akan dibayar, dan penghapusan diskriminasi. Pemogokan buruh Lawrence sering juga disebut “Bread and Roses Strike”.

Usai pemogokan besar itu, slogan “bread and roses” makin populer. Pada 1912 juga, Rose Schneiderman, seorang sosialis dan aktivis feminis, menyampaikan pidato dengan ungkapan yang terkenal: pekerja bukan hanya harus punya roti, tapi juga harus punya mawar-the worker must have bread, but she must have roses, too.

Di gerakan buruh, slogan “bread and roses” makin dipopulerkan oleh Pekerja Industri Sedunia atau Industrial Workers of the World (IWW), atau sering disebut kaum “Wobblies”. Organisasi buruh yang berdiri di Chicago, AS, pada 1905 ini digolongkan radikal.

Di gerakan feminis, “bread and roses” tidak hanya menjadi slogan dari gerakan suffragette, tetapi juga menjadi slogan bagi perjuangan perempuan untuk kesetaraan gender dan keadilan sosial.

Pada 1960-an, di kota Boston, AS, kelompok feminis sosialis mendirikan sebuah kolektif yang mereka namai “Bread and Roses”. Sayang, usia organisasi ini tak begitu panjang dan meredup di tahun 1980-an.

Tahun 1980-an, organisasi sosialis yang baru berdiri di Amerika Serikat, Democratic Socialist of America (DSA), juga terinspirasi oleh slogan “Bread and Roses”. Itulah mengapa organisasi ini menggunakan bunga mawar merah sebagai lambang organisasinya.

Di Argentina, pada 2003, kader perempuan partai pekerja sosialis (PST) mendirikan kolektif perempuan bernama Pan y Rosas (dalam bahasa Indonesia berarti: roti dan mawar). Pan y Rosas menggabungkan ide-ide feminisme, trotskyisme, dan sosialisme.

Selain melahirkan puisi, slogan “Bread and Roses” juga melahirkan lagu-lagu. Awalnya, puisi digubah menjadi lagu oleh Caroline Kohlsaat. Itu terjadi pada 1917. Sejak saat itu, “Bread and Roses” bukan hanya menjadi slogan, tapi juga menjelma menjadi lagu perjuangan.

Pada 1972, Mimi Fariña Baez, saudara perempuannya Joan Baez, bersama Judy Collins, Ani DiFranco, dan Utah Phillips merekam lagu “Bread and Roses” dari puisi Oppenheim. Belakangan, Joan Baez juga berkali-kali menyanyikan lagu ini.

Tak hanya merekam lagu, Mimi Fariña juga mendirikan sebuah organisasi sosial bernama “Bread and Roses”, yang berusaha menghadirkan musik bagi mereka yang terpinggirkan atau terasingkan.

Pada 2004, lagu “Bread and Roses” muncul dalam film “Pride”. Film yang diproduksi oleh BBC ini berkisah tentang perjuangan aktivis LGBT untuk menyokong pemogokan para penambang pada 1984.

Begitulah secuplik kisah tentang slogan “bread and roses” menjadi slogan perjuangan, terutama di kalangan pekerja, sosialis, dan feminis.

IRA KUSUMA

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid