Apa itu “Penyakit Belanda”?

Penyakit Belanda (Dutch disease) merupakan istilah ekonomi yang diperkenalkan oleh majalah mingguan bergensi, The Economist, pada 1977.

Istilah ini merujuk pertumbuhan pesat pada sektor ekonomi tertentu (booming export sector), biasanya sektor ekstraktif, yang berdampak pada pelemahan sektor yang lain (lagging export sector).

Fenomena Belanda

Fenomena itu dialami Belanda tahun 1960-an. Pada 1959, Belanda menemukan cadangan gas Groningen. Cadangan gas itu merupakan yang terbesar di Eropa dan masuk 10 besar dunia.

Singkat cerita, berkah gas sepintas bak rezeki nomplok. Ekspor gas membuat kas Belanda lebih gemuk. Namun, berkah gas juga membawa dampak lain.

Arus modal, baik dari luar maupun di dalam negeri, bergeser dari lagging sector (manufaktur dan pertanian) ke booming sector (ekstraktif). Arus tenaga kerja juga mengikuti pola pergeseran yang sama.

Lebih jauh, peningkatan ekspor mendorong penguatan mata uang Belanda. Akibatnya, ekspor non-migas Belanda menjadi lebih mahal dan tidak kompetitif. Selain itu, karena mata uang asing lebih murah, impor juga meningkat pesat. Semua ini memukul sektor ekonomi non-migas, terutama manufaktur dan pertanian.

Bagaimana Indonesia?

Sudah sedari dulu Indonesia bergantung pada sektor ekstraktif. Pundi-pundi ekonomi banyak disumbang oleh booming komoditas. Hanya enam komoditas, yaitu batubara, bauksit, nikel, timah, minyak sawit, dan karet, mewakili 46,4 persen ekspor Indonesia.

Kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menurun. Sejak 2018 hingga sekarang, kontribusinya selalu di bawah 20 persen. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB juga demikian. Sektor pertanian, yang menjadi tumpangan hidup hampir 30 persen rakyat Indonesia, hanya berkontribusi 13,28 persen pada PDB.

Jadi, sementara Indonesia menikmati rezeki nomplok dari ekspor komoditas, dua tulang punggung ekonominya, yaitu industri dan pertanian, sedang menurun.

Untuk keluar dari jebakan “penyakit Belanda”, Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada ekspor SDA. Hilirisasi industri harus dipercepat. Sektor industri dan pertanian harus segera dibenahi kembali. Dan tak lupa, pembangunan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung kemajuan ekonomi.

RINI/berdikarionline.com

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid