5 Pejuang Pembebasan Afrika

Afrika merupakan tempat lahirnya salah satu peradaban tertua di dunia: Mesir kuno. Mereka mendahului peradaban tertua di Eropa: Yunani dan Romawi kuno.

Namun, lebih dari 3 abad bangsa-bangsa Afrika mengalami kolonialisasi oleh bangsa Eropa, terutama Inggris, Perancis, Spanyol, Portugal, dan Jerman.

Dalam perjuangan keluar dari cekikan kolonialisme, bangsa Afrika telah berjuang dengan gagah berani. Mereka dipimpin oleh tokoh-tokoh pemberani dengan pemikiran yang cemerlang. Berikut ini 5 tokoh pembebasan dari Afrika.

#1 Nelson Mandela

Nelson Mandela adalah bapak pembebasan Afrika Selatan. Dia memimpin perjuangan bangsanya untuk keluar dari jerat kolonialisme yang berpijak di atas diskriminasi rasial.

Mandela, yang lahir pada 18 Juli 1918, adalah tokoh penting dari organisasi pembebasan Afrika selatan: Kongres Nasional Afrika (ANC). Organisasi ini berusaha memadukan ide-ide nasionalisme yang progresif dan pemikiran kiri.

Awalnya, Mandela dan ANC percaya bahwa perjuangan dengan jalan damai, seperti mobilisasi massa dan pembangkangan sipil, akan bisa mengubah keadaan. 

Pada 1960, pecah peristiwa pembantaian Sharpeville. Hari itu, 21 Maret 1960, polisi menembak membabi-buta terhadap 7000-an demonstran di depan kantor Polisi. Sebanyak 69 demonstran gugur dalam kejadian itu.

Peristiwa itu mengubah pandangan Mandela. Ia tak lagi percaya perjuangan damai bisa mengubah keadaan. Sehingga, pada 1961, Mandela dan kawan-kawan radikalnya, seperti Joe Slovo, Walter Sisulu, Oliver Tambo, mendirikan organisasi bersenjata: Umkhonto we Sizwe (Tombak Bangsa). Organisasi ini mulai melancarkan serangan bersenjata dan gerilya kota terhadap rezim apartheid.

Tahun 1960-an, Mandela makin terobsesi dengan revolusi Kuba. Dia membaca karya-karya Fidel Castro dan Che Guevara. Dia juga mengikuti pendidikan militer di Ethiopia dan Maroko.

Pada 1962, Mandela ditangkap polisi. Dia dituduh menghasut buruh untuk memberontak melawan pemerintah. Di pengadilan, dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.

Tragisnya, saat menjalani penjara, polisi menggeledah rumah persembunyian aktivis ANC. Dari penyelidikan dokumen yang ditemukan, Mandela dan kawannya dituding mendalangi beberapa aksi sabotase. 

Gara-gara tuduhan baru itu, Mandela dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Mandela baru bebas pada tahun 1990, setelah 27 tahun merasakan pahit-getirnya menjalani kurungan di pulau Robben.

Keluar dari penjara, dukungan terhadap Mandela dan perjuangannya membesar. Tidak hanya di Afrika selatan, tetapi juga dari berbagai belahan dunia. Situasi itulah yang memaksa berakhirnya rezim apartheid pada 1994.

Pada pemilu 1994, ANC memenangi pemilu dengan suara mayoritas. Nelson Mandela terpilih sebagai Presiden pertama Afrika Selatan pasca rezim apartheid.

#2 Kwame Nkrumah

Kwame Nkrumah dikenal sebagai bapak pejuang kemerdekaan Ghana. Dia memimpin bangsa Ghana untuk membebaskan negerinya dari kolonialisme Inggris.

Nkrumah, yang lahir pada 21 September 1909, merupakan seorang tipe pemikir sekaligus pejuang. Sempat belajar di Amerika Serikat, dia justru terpapar ide-ide Marx dan Lenin. Dia juga banyak dipengaruhi oleh Marcus Garvey.

Tahun 1940-an, Nkrumah menjadi aktivis Konvensi Pantai Emas Bersatu (UGCC). Organisasi ini banyak merespon persoalan-persoalan yang dialami oleh rakyat Ghana di bawah kolonialisme.

Pada 1948, sebuah huru-hara meletus di kota Accra, Ghana. UGCC dituduh mendalangi aksi huru-hara itu. Nkrumah dan kawan-kawannya pun ditangkap. Namun, karena tak cukup bukti, dia dibebaskan.

Pada 1949, Nkrumah mengorganisir pendirian Partai Konvensi Rakyat (CPP). CPP ini aktif menggalang pembentukan Dewan Rakyat untuk memperjuangkan ruang partisipasi bagi rakyat biasa Ghana di bawah sistim kolonialisme. Tuntutan itu ditolak oleh Inggris.

Sebagai responnya, Nkrumah memobilisasi pendukung Dewan Rakyat untuk mogok nasional. Inggris merespon aksi itu dengan represi. Nkrumah kembali ditangkap.

Tahun 1951, saat Nkrumah masih mendekam di penjara, CPP berhasil menang pemilu. Nkrumah pun dibebaskan dan diajak menyusun pemerintahan baru. Dia menjabat Perdana Menteri.

Lewat perjuangan parlementer, Ghana berhasil meraih kemerdekaan penuh dari Inggris pada 1957. Secara aklamasi, Nkrumah ditunjuk sebagai Presiden pertama Ghana.

#3 Amilcar Cabral

Amilcar Cabral merupakan bapak pejuang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Cape Verde. Ide-idenya tak hanya berpengaruh di negerinya, tetapi di hampir seantero Afrika.

Dia lahir pada 12 September 1924. Sempat belajar di negeri yang menjajah negerinya, Portugis, Cabral kembali ke negerinya dengan membawa ide-ide dan strategi perjuangan.

Pada 1956, dia mendirikan Partido Africano da Independecia da Guinea e Cabo Verde (PAIGC) atau Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Cape Verde. Partai inilah yang menjadi alat politik Cabral untuk memerdekakan negerinya.

Awalnya, PAIGC menggunakan metode perjuangan damai, seperti aksi massa dan pemogokan. Namun, reaksi brutal dari kolonialisme Portugis mengubah pandangannya. Dia pun bergeser pada perjuangan bersenjata.

Pada 1961, dia mendirikan organisasi gerilya bernama Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat (FARP). Perlahan-lahan organisasi ini berhasil membebaskan sejengkal demi sejengkal tanah Guinea-Bissau dan Cape Verde dari kolonialis Inggris.

Tahun 1966, PAIGC mengklaim berhasil membebaskan 50% teritori negerinya. Keadaan itu membuat kolonialis Portugis naik pitam. Akhirnya, tahun itu juga, Portugis melipat-gandakan tentaranya di Guinea-Bissau.

Tetapi PAIGC tak menyerah. Perjuangan gerilya terus berlanjut hingga membebaskan semakin banyak jengkal tanah negerinya. Tahun 1973, Cabral mulai berkampanye tentang pembentukan Majelis Rakyat Nasional. Ide ini mendapat sambutan luas.

Sayang, sebelum Cabral berhasil mewujudkan ide itu, ia dibunuh oleh intelijen portugis. Namun, kemerdekaan Guinea-Bissau tak terbendung. Negeri ini resmi merdeka pada 1973.

#4 Frantz Fanon

Frantz Fanon lahir di Martinique di kepulauan Karibia, yang saat itu masih koloni Perancis, pada 1925. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya betapa kejinya kolonialisme Perancis.

Saat itu, pemikir Afrika yang agak nasionalis, Marcus Garvey, sangat mempengaruhi Fanon. Ketika Perancis diduduki Fasisme, Fanon bergabung dengan tentara pembebasan Perancis.

Setelah fasisme dikalahkan, Fanon kemudian belajar ilmu kesehatan dan psikiater di Perancis. Setelah tamat, dia ditugaskan bekerja sebagai psikiater di salah negara jajahan Perancis, Aljazair.

Pandangan politik Fanon berubah. Ia mengasosiasikan dirinya sebagai bagian dari perjuangan rakyat Aljazair melawan kolonialisme Perancis. Tahun 1956, Ia berpartisipasi dalam Kongres penulis Afrika di Paris, Perancis.

Tahun 1958, ia menghadiri kongres rakyat Afrika di di Accra, Ghana, yang digagas oleh pejuang pembebasan Afrika, Kwame Nkrumah. Ia kemudian pindah ke Accra sebagai perwakilan Front Pembebasan Nasional Aljazair. Di situlah Fanon banyak mengelaborasi pemikiran-pemikirannya, terutama soal kolonialisme.

Fanon mulai menganalisa kebangkrutan ideologi politik dari elit pasca kolonial, terutama di kebanyakan partai nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan. Menurutnya, elit baru ini tidak bisa memenuhi tugas historisnya untuk bertransformasi dari borjuis kecil menjadi borjuis nasional.

Ia menyimpulkan, borjuis yang baru muncul itu hanya meniru kaum borjuis dari negeri bekas penjajah. Tanpa keinginan kuat untuk mengambil-alih kapital borjuis penjajah, elit baru Afrika ini hanya akan menjadi mitra junior dari borjuis kolonial.

Dua bukunya yang terkenal, Black Skin, White Masks dan The Wretched of the Earth, menempatkan Fanon sebagai pemikir revolusioner dan banyak mempengaruhi gerakan pembebasan di Afrika dan di banyak tempat lainnya.

#5 Patrice Lumumba

Lumumba adalah bapak pejuang kemerdekaan Kongo. Dia memimpin perjuangan kemerdekaan negerinya untuk lepas dari kungkungan kolonialisme Belgia.

Lumumba lahir pada 2 Juli 1925 di Katakokombe, provinsi Kasai. Sempat bekerja sebagai pegawai pos setelah tamat kuliah, Lumumba kemudian bergabung dalam gerakan kemerdekaan: Gerakan Nasional  Congolais (MNC).

Dia seorang agitator yang ulung. Kepiawaiannya berpidato menyeret banyak orang bergabung dengan MNC. Namanya semakin menjulang tatkala ia mulai tampil memimpin aksi protes.

Pada 1949, sebuah aksi protes ditumpas dengan keji oleh tentara pribumi buatan Belgia. Rakyat Kongo marah. Lumumba tampil memimpin protes. Gara-gara itu, dia ditangkap.

Dia baru bebas setelah dipanggil untuk bernegosiasi di Brussel, Belgia. Di sana, Lumumba menuntut kemerdekaan penuh. Akhirnya, pada 1960, Kongo menyatakan merdeka. Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan.

Dia menjadi Perdana Menteri pertama Republik Kongo yang baru merdeka. Sayang, Belgia tak sepenuhnya merestui kemerdekaan Kongo. Api gerakan pemisahan berbasis kesukuan pun dipercikkan. Provinsi Katanga, daerah yang kaya mineral, menyatakan diri sebagai negara terpisah.

Di sisi lain, pasca Proklamasi, kekacauan masih terjadi di mana-mana. Pemerintahan Lumumba sangat kesulitan untuk mengatasi kekacauan ini karena tak didukung oleh aparat keamanan yang kuat dan berdisiplin. 

Puncaknya, pada September 1960, parlemen secara sepihak memecat Lumumba dari kursi Perdana Menteri. Setelah itu, dia dikenai tahanan rumah. Di pengujung Desember 1960, Lumumba berusaha melarikan diri, tetapi tertangkap.

Pada 17 Januari 1961, Lumumba dieksekusi di tengah hutan di malam yang gelap. Mayatnya dipotong-potong dan dibakar, agar kematiannya tidak diketahui. Namun, sebulan kemudian, dunia mengetahui pembunuhan keji Lumumba.

RAYMOND SAMUEL

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid