Hilirisasi Adalah Pintu Masuk Kesejahteraan Sosial

Indonesia menjadi salah satu negara yang dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah, bentangan hijau hutan dan perkebunan serta hamparan laut biru yang menakjubkan; menjadi bak surga. Sejak kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sampai saat ini, sudahkah kita berdaulat secara utuh baik dari aspek politik maupun ekonomi?

Indonesia dibangun dari perjuangan panjang serta pengorbanan yang sungguh sangatlah hebat; tumpah darah juang melahirkan satu legacy yaitu perubahan geopolitik, ideologi serta arus ekonomi yang cepat, yang di dalamnya mengandung cita-cita perjuangan yang belum selesai.

Bung Hatta dalam pidatonya 1946 di Yogyakarta, satu tahun setelah kemerdekaan, mengatakan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia haruslah mengedepankan kepentingan rakyat, sumber daya alam dikuasai bersama (negara), dan peruntukkan setidaknya-tidaknya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Itulah yang menjadi cikal-bakal lahirnya Pasal 33 UUD 1945 sebagai jalan menuju kesejahteraan sosial.

Sukarno dalam konsepsi Trisakti-nya menempatkan ekonomi sebagai salah satu pilar berbangsa dan bernegara: berdikari secara ekonomi memberikan afirmasi yang kongkrit atas pengelolaan SDA dikelola oleh negara tujuannya untuk kepentingan rakyat Indonesia. Tentu haruslah dengan modal kedaulatan politik juga.

Namun perjalanan itu tidak sangatlah mulus. Intervensi kekuatan politik besar sangat berimpact terhadap sikap politik nasional dalam menyusun konsepsi ekonomi yang berhaluan praktis dan menguntungkan pihak luar. Bung Karno dalam pidatonya begitu keras menginterupsi Barat atas campur tangannya terhadap ekonomi nasional. Perlawanan itu harus menjadi embrio yang diwariskan kepada pemimpin bangsa saat ini agar ada semangat berdaulat secara politik dan berdikari ekonomi.

Hilirisasi kini menjadi jalan keluar atas kecemasan terhadap ekonomi Indonesia. Progam ini mendorong semangat kemandirian yang telah diobsesikan pendiri bangsa; tidak ada lagi ketergantungan terhadap ekonomi asing yang selama ini menjadi sandaran industri kita, yang hulunya ada di bumi pertiwi namun surplus ekonominya menjadi profit besar bagi negara investor asing.

Langkah pemerintah Jokowi sudah sangatlah tepat dalam hal kebijakan hilirisasi yang akan dilanjutkan oleh Presiden terpilih Prabowo-Gibran seperti sebagaimana digaungkan saat kampanye beberapa waktu yang lalu. Langkah ini sangatlah penting untuk dikawal sebagai agenda perubahan mendasar pada kemajuan rakyat indonesia.

Konsepsi hilirisasi ini akan membawa loncatan besar bagi kemajuan ekonomi nasional dan kemandirian nasional. Kita tidak lagi ketergantungan terhadap model ekonomi kolonial yang selama ini diadopsi sebab ini menjadi salah satu indikator minimnya nilai tambah produk kita. Sebelum kebijakan pelarangan ekspor nikel bahan mentah pada tahun 2020, pendapatan negara hanya di kisaran 17 triliun. Namun setelah kebijakan hilirisasi, pendapatan negara menyentuh 516 triliun. Kenaikan 29 kali lipat lebih tinggi dari sebelumnya.

Bayangkan saja ini hanya pada satu komoditi sektor pertambangan. Bagaimana jika hilirisasi diperuntukan untuk semua sektor / komoditi yang tersedia? Apakah itu tidak membawa efek baik bagi perekonomian nasional kita?

Namun kebijakan hilirisasi saat ini belum seutuhnya maksimal. Kita harus memperluas lagi program hilirisasi dan industrialisasi SDA, dan tidak hanya bertumpu pada satu sektor pertambangan dan mineral saja, melainkan kebijakan hilirisasi ini juga menyasar sektor lain seperti perkebunan dan maritim sebab kedua sektor ini sangatlah produktif.

Di satu sisi, hilirisasi ini juga harus memperhatikan dampak ekologis dan sosiologis masyarakat. Kepastian atas hidup yang layak khususnya bagi masyarakat yang tinggal di dekat aktivitas industri tetap mendapatkan hidup yang layak sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

Semangat hilirisasi ini harus kita jadikan sebagai pintu masuk menuju kesejahteraan sosial, pemerataan ekomomi atas keadilan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Penulis: Haerul Anwar
Ketua Wilayah LMND Sulawesi Selatan

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid