Yudhoyono Datang, Rakyat Pedagang Digusur

Anda mungkin pernah menonton film atau mendengar dongeng tentang raja-raja jahat, yang jika mereka berpelesiran di sekitar istananya, jalan-jalan yang dilalui sang raja akan segera dibersihkan dari kehadiran para pedagang, pengemis, dan rakyat jelata lainnya. Kehadiran rakyat dianggap merusak pemandangan. Anda mungkin berpikir itu hanya rekaan di film atau dongeng? Tidak. Hal itu juga terjadi di dunia nyata, bahkan di depan hidung kita sendiri, di negeri kita!

Hal serupa kisah raja jahat itulah yang terjadi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur menjelang kedatangan Presiden Yudhoyono. Jumat (4/2) lalu, Polisis Pamong Praja Provinsi NTT membongkar paksa kios-kios pedagang di sepanjang Jalan Polisi Militer, di sisi Timur kompleks Kantor Gubernur-DPRD NTT-Kejati.

Kepala Satpol PP NTT Jhon Hawula berkilah kalau pembongkaran paksa itu terkait kedatangan Yudhoyono. Menurutnya, peringatan kepada para pedagang telah disampaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Adalah suatu kebetulan tindakan pembongkaran paksa terjadi tidak lama sebelum hari kedatangan SBY sehingga banyak pihak mengkaitkan dua peristiwa itu.

Tentu saja pernyataan Hawula dibantah para pedangang. Menurut mereka, selama belasan tahun berjualan di kawasan itu, tidak pernah mereka mendapat surat teguran. Bantahan terhadap pernyataan Hawula juga datang dari para pedagang Jalan El Tari, ruas jalan di depan kantor gubernur-DPRD NTT-Kajati NTT-Pengadilan Tinggi-Rumah Jabatan Gubernur. Menurut Gina (30), Here (35), Alex (34), ketiganya adalah pedagang di Jalan El Tari, mereka menerima surat dari polisi pamong praja pada hari Kamis (3/2) yang mengultimatum mereka untuk membongkar lapang dagangan dan tidak berjualan di Jalan El Tari pada 4-11 Februari. Para pedagang itu diarahkan untuk pindah berjualan di Jalan Palapa. Kepada mereka disampaikan, larangan berjualan itu agar Jalan El Tari tampak indah dan tidak jorok selama kunjungan Presiden Yudhoyono.

Gina, perempuan setengah baya yang telah berjualan jagung bakar di Jalan El Tari sejak 1994, mengaku sangat kesal dengan pengusiran sepihak yang dialaminya. Di hari pertama ia berdagang di Jalan Palapa, jagung bakarnya tidak satupun yang laku terjual. Padahal, selama berjualan di El Tari, ia bisa mendapatkan Rp 140-150 ribu per hari.

Kekesalan juga diungkapkan Here, penjual Jagung Bakar lainnya. Menurutnya kehadiran presiden Yudhoyono berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya. Ketika Presiden Megawati berkunjung dahulu, para pedagang tidak digusur. “Mangkali ini presiden pung presiden o (mengkin ini presiden dari para presiden, red),” katanya dalam dialeg Kupang.

Berbeda dengan Gina dan Here yang hanya bisa pasrah, Alex yang sehari-hari berjualan bubur kacang hijau menolak pindah ke Jalan Palapa. Ia memilih bertahan di El tari karena baginya larangan berjualan di sana terlalu lama. “Presiden hanya datang 3 hari, tetapi kami tidak boleh jualan dari tanggal empat,” protesnya. Alex memilih bertahan karena kuatir dagangannya tidak akan laku jika pindah ke Jalan Palapa. “Yang Jagung Bakar hanya dagangannya yang tidak laku. Kalau penjual bubur kacang hijau juga pindah, bukan saja tidak laku, tetapi rugi karena tidak mungkin bubur kacang hijau kami jual lagi esok hari,” kilahnya.

Alasan jorok dan mengotori pemandangan ini disesalkan Anita dan Martin, pelanggan bubur kacang hijau dan jagung bakar di El Tari. Menurut mereka, Jalan El Tari telah sejak lama menjadi kawasan lari pagi, jalan sore dan kongkow-kongkow malam hari bagi masyarakat Kota Kupang. Kehadiran para pedagang serta aktivitas rekreasi warga kota lah yang membuat Jalan itu menjadi istimewa.

Tentang larangan berjualan sejak 4 Februari, sementara Yudhoyono baru datang 8 Februari, sejumlah pengunjung menduga karena beberapa menteri seperti Malaranggeng dan Yusgiantoro telah tiba dan menjadi pembicara di sejumlah kampus di Kota Kupang. Informasi yang beredar, Malaranggeng bicara di UKAW, dan Yusgiantoro di Unwira. Diduga, kehadiran kedua menteri itu sekaligus untuk membujuk pihak manajemen kampus melarang mahasiswa berunjukrasa. Berdikarionline belum bisa memastikan kebenaran informasi tersebut.***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut