WR Soepratman Dan Lagu “Indonesia Raya”

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Kenapa tanggal 9 Maret? Karena tanggal 9 Maret itu—tepatnya 9 Maret 1903—adalah hari kelahiran komponis besar Indonesia, Wage Rudolf Soepratman.

Memang, penetapan Hari Musik Nasional itu masih menuai kontroversi. Ada beberapa pihak yang kurang setuju. Bagi mereka, WR Soepratman bukan satu-satunya komponis Indonesia.

Kontroversi lainnya: tanggal dan tempat kelahiran WR Soepratman masih perdebatan. Ada yang bilang, WR Soepratman dilahirkan tanggal 9 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah. Yang lain berpendapat, WR Soepratman lahir di Jatinegara, Jakarta.

Tak banyak catatan tentang sosok WR Soepratman. Pada usia kecil, ia sudah ditinggal mati oleh ibunya. Sejak itu ia diasuh oleh kakak sulungnya, Roekijem Soepratijah, yang menikah dengan seorang Belanda bernama Van Eldik.

Sejak kecil, bakat musik WR Soepratman sudah nampak. Kebetulan, kakak sulungnya dan kakak iparnya juga pemain biola. Merekalah yang memberi dan mengajar WR Soepratman bermain biola. Hebatnya, Soepratman cepat menguasai alat musik itu.

Lantaran itu, Van Eldik memboyong Soepratman ke kelompok musiknya,  Black and White Jazz Band. Saat itu usia Soepratman masih belasan tahun.

Pada tahun 1914, Van Eldik dan istrinya pindah tugas ke Makassar. Soepratman juga ikut diboyongnya. Di sanalah Soepratman bisa mengenyam pendidikan, yakni Europeesche Lagere School (ELS). Supaya bisa diterima di sekolah khusus orang Belanda dan Eropa itu, nama Soepratman ditambahi “Rudolf”. Tetapi itu hanya berlangsung sebentar. Belakangan, pihak sekolah mengetahui hal itu dan langsung mengeluarkan Soepratman dari sekolah itu.

Ia pindah ke Sekolah Dasar Angka Dua (2 Inlandsche School). Lalu, ia melanjutkan lagi ke Sekolah Guru. Setelah tamat, Soepratman sempat menjadi guru selama 3 tahun. Tetapi, rupanya, kakaknya keberatan dengan pekerjaan itu.

Setelah itu, Ia bekerja di kantor seorang pengacara keturunan Indo di Makassar. Dan, seperti kebanyakan keturunan Indo, pengacara itu bersimpati dengan gerakan Indische Partij, yang digagas oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Tjipto Mangungkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Kantor pengacara itu berlanganan koran-koran IP. Dan disitulah WR Soepratman mengenal ide-ide pergerakan. Itu pula yang mendorong ia pindah ke kota Bandung, Jawa Barat, yang saat itu menjadi pusat pergerakan IP. Di sana ia bekerja sebagai jurnalis di Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.

Di kota Bandung, ia beberapa kali pindah tempat bekerja. Ia sempat bekerja di Kantor Berita Alpena, lalu pindah lagi ke Kantor Berita Tionghoa-Melayu Sin Po. Di situ ia sering menulis berita tentang kaum pergerakan.

Dari pekerjaan sebagai penulis berita pergerakan, WR Soepratman mulai mengenal tokoh-tokoh pergerakan pemuda jaman itu, seperti Mohamad Yamin, Soegondo Djojopoespito, dan Mohammad Tabrani.

Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”

Tak jelas kapan lagu “Indonesia Raya” diciptakan WR Soepratman. Wartawan senior Alwi Shahab menuliskan, “Suatu hari, secara kebetulan WR Soepratman membaca artikel berjudul ‘Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat’ dalam majalah Timboel terbitan Solo.”

Soepratman merasa terpanggil oleh artikel itu. Ia merasa, seruan itu sengaja ditujukan padanya. Ada yang mengatakan, lagu “Indonesia Raya” diciptakan WR Soepratman tahun 1926. Itu bertepatan dengan Kongres Pemuda Indonesia I. WR Soepratman mendengar kabar pelaksanaan kongres itu dari Mohammad Tabrani.

Menurut Alwi Shahab, WR Soepratman berniat memperdengarkan lagu ciptaannya itu kepada peserta Kongres Pemuda Indonesia I. Namun, entah kenapa, Ia mengurungkan niat itu.

Versi lain mengatakan, WR Soepratman membuat lagu itu pasca Kongres Pemuda Indonesia I. Jadi, pada saat kongres pemuda I itu, Ia mendengar pidato berkobar-kobar dari Tabrani. Tabrani antara lain berseru, “Rakyat Indonesia, bersatulah.”

Kata-kata itu sangat menyentuh WR Soepratman. Ia kemudian menerjemahkan kata-kata itu melalui sebuah lagu berjudul “Indonees, Indonees”—nanti berubah judul menjadi “Indonesia Raya”.

Lagu itu diperdengarkan pertamakali pada Kongres Pemuda Indonesia II di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Saat itu, WR Soepratman mendatangi Ketua Sidang, Soegondo Djojopoespito, untuk meminta diberi kesempatan membawakan lagu ciptaannya.

Soegondo setuju, tapi ia meminta agar WR Soepratman tidak menyanyikan liriknya. Maklum, liriknya ada banyak kata “Indonees, Merdeka”. Soegondo khawatir, lirik lagu itu akan memancing dinas intelijen kolonial untuk membubarkan acara kongres. WR Soepratman setuju. Ia pun memainkan lagu ciptaannya itu menggunakan instrumen biola.

Usai kongres itu, lagu ciptaan WR Soepratman terkenal. Organisasi kepanduan turut mempopulerkan lagu itu ke tengah rakyat. Lalu, WR Soepratman berusaha merekam lagu itu. Ia kemudian menghubungi orang yang bernama Yo Kim Tjan.

Yo Kim Tjan merekam lagu itu. Dalam piringan hitam itu, lagu tak beralun dengan alat musik saja, melainkan ada suara Soepratman di sana. Pada tahun 1957, Yo Kim Tjan menyerahkan rekaman asli itu ke Djawatan Kebudayaan.

Gara-gara lagu itu, WR Soepratman beberapa kali berurusan dengan dinas intelijen Belanda (PID). Ia ditanya, mengapa dalam lagu itu banyak sekali kata “Indonees, Merdeka”. Maklum, penguasa kolonial sangat alergi dengan ide Indonesia merdeka. Lagu itu pun sempat dilarang.

Kapan lagu itu berubah nama menjadi Indonesia Raya? Pada tahun 1944, sebuah panitia yang ditugaskan mempersiapkan kemerdekaan ditugaskan mencari lagu Kebangsaan. Panitia itu dipimpin oleh Bung Karno. Panitia inilah yang beberapa kali mengubah lirik dan judul lagu itu. Pada tanggal 8 September 1944, sebuah keputusan rapat memutuskan mengubah judul lagu itu dari “Indonees, Indoneesmenjadi “Indonesia Raya”.

Beberapa liriknya pun berubah. Diantaranya: “Indones, Indones, moelia, moelia, tanahkoe, neg’riku yang koecintamenjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Tanahku, neg’riku jang kutjinta!.” Sedangkan “Indones, Indones, Moelia, Moelia, Hidoeplah Indonesia Raja diubah menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raja.”

Lagu “Indonesia Raya” pun diputuskan sebagai lagu Kebangsaan. Sayang, WR Soepratman tak sempat melihat lagu ciptaannya itu menjadi lagu kebangsaan Indonesia Merdeka. Ia lebih dulu di panggil Tuhan Yang Maha Kuasa pada tanggal 17 Agustus 1939.

Selain lagu Indonesia Raya, Ia juga menggubah lagu-lagu nasional seperti Bendera Kita, Pandu Indonesia, Ibu Kita Kartini dan Di Timur Matahari. Khusus lagu “Di Timur Matahari”, separuh liriknya, yakni “Di timur matahari mulai bercahaya, Bangun dan berdiri kawan semua ” itu merupakan sub judul dalam risalah terkenal Bung Karno, Mencapai Indonesia Merdeka, yang ditulis tahun 1933.

Dalam Kamus Musik Indonesia disebutkan, lagu mars “Di Timur Matahari” diciptakan WR Soepratman tahun 1931. Artinya, sangat besar kemungkinan Bung Karno tertarik dengan lirik lagu WR Soepratman itu dan menjadikannya sub judul dalam karyanya.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut