Wayang Suluh Yang Makin Meredup

Revolusi Indonesia, yang begitu bergelora sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, melahirkan banyak sekali kebudayaan baru. Salah satunya, dalam bidang pewayangan, adalah kelahiran wayang suluh.

Suluh berarti penerangan, pencerahan, atau pembebasan pemikiran rakyat. Dengan demikian, wayang suluh berarti wayang yang diperuntukkan untuk memberikan pencerahan dan mengobarkan semangat perlawanan rakyat.

Dalam Kronik Revolusi Indonesia, yang disusun oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil, digagas oleh Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) saat kongres pertamanya tanggal 10 Maret 1947 di Madiun, Jawa Timur.

Wayang ini dibuat dari kulit. Yang menarik, tokoh yang diangkat berasal dari realitas dunia nyata, seperti kaum buruh, tani, pemuda, guru, dan lain-lain. Pada masa itu, tokohnya malah mengacu pada pemimpin pergerakan rakyat Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin, Diponegoro, dan lain-lain.

Musik pengirim wayang suluh ini adalah gamelan, orkes, dan alat musik rakyat lainnya. Sementara lagu-lagu pengiringnya kebanyakan lagu-lagu perjuangan rakyat.

Berbeda dengan wayang pada umumnya, yang banyak mengangkat lakon Ramayana dan Mahabharata, wayang suluh justru mengangkat realitas yang bersinggungan langsung dengan denyut perjuangan rakyat Indonesia.

Pada masa revolusi, wayang suluh menjadi media pembawa pesan perlawanan terhadap kolonialisme. Saat itu, Belanda mengusai banyak banyak kota, dalang wayang suluh terkadang ikut dengan barisan gerilyawan. Di desa-desa yang mereka lalui, mereka menggelar pementasan.

Konon, penemu wayang suluh ini adalah R.M. Sutarto Harjowahono, dari Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 1920-an. Dia mendorong agar cerita-cerita wayang berpijak di atas realitas. Saat itu masih dinamai wayang sandiwara.

Pada masa orde baru, keunggulan wayang suluh sebagai alat propaganda coba digunakan oleh orde baru. Sejak saat itu, wayang suluh hanya dijadikan alat sosialisasi program-program pemerintah, seperti pemilu, KB, dan lain-lain.

Sayang, setelah orde baru tumbang, perkembangan wayang suluh juga makin pudar. Namun, fenomena ini bukan hanya menimpa wayang suluh, tetapi juga jenis wayang lainnya.

Indonesia sendiri punya 100-an jenis wayang. Dalam perkembangannya, sebagian besar sudah mati. Padahal, sebagai media kebudayaan, wayang sebetulnya bisa dikembangkan.

Anna Yulianti

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut