Warisan Kiri dalam Sepak Bola Serbia

Jika anda pencinta sepak bola, dan sekarang tengah mengikuti laga-laga di Liga Champion, ada satu klub yang perlu dipelototi dan diperhitungkan: FK Crvena Zvezda.

FK Crvena Zvezda, atau sering ditulis Red Star, dalam bahasa Indonesia berarti “Bintang Merah”, adalah kesebalasan dari Serbia. Di Liga Champion kali ini, Red Star berada di grup B, bersama raksasa Jerman Bayern Muenchen, Tottenham Hotspur, dan Olympiakos.

Prestasi Red Star tidak buruk. Meski terseok-seok di babak penyisihan, klub yang berdiri sejak 1945 ini sanggup unjuk gigi di laga fase grup Liga Champion. Hingga laga kedua grup B, Red Star menempati posisi kedua usai menggasak klub asal Yunani, Olympiakos, dengan skor 3-1.

Namanya saja sangat unik: Bintang Merah. Dipertegas oleh logo timnya yang kiri banget. Ada bintang merah, dengan warna dasar merah dan putih.

Tapi, tahukah anda, Red Star punya kisah yang menarik untuk diulas.

Jauh sebelum perang dunia kedua, sepak bola sudah sangat menggeliat di Serbia, yang kala itu masih menjadi bagian dari Yugoslavia. Di kota Beograd, kota besar di Serbia, ada dua klub sangat ternama:  Beogradski sport klub (BSK) dan Sportski klub Jugoslavija (SK Jugoslavija).

Namun, tahun 1941, Yugoslavia diserbu oleh Jerman dan aliansi fasisnya. Kerajaan Yoguslavia yang diperintah oleh Raja Peter II pun runtuh. Pejuang anti-fasis Yoguslavia, yang menyebut diri Partisan, membentuk kelompok perlawanan.

Perlawanan itu dipimpin oleh seorang komunis, Jozip Broz Tito. Dengan perjuangan sehebat-hebatnya, juga berkat dukungan tentara merah Soviet, Tito berhasil membebaskan satu per satu kota Yugoslavia.

Pada Oktober 1944, kota Beograd berhasil dibebaskan oleh pasukan partisan dan tentara merah. Setahun kemudian, pada November 1945, Tito memproklamirkan berdirinya Republik Federasi Rakyat Yugoslavia.

Seiring dengan terbebasnya kota Beograd, sepak bola pun hidup kembali. BSK dan SK Jugoslavija tetap hidup selama pendudukan NAZI. Itu juga yang menjadi alasan bagi partisan dan komunis menuding klub-klub itu sebagai “kolaborator NAZI”.

Untuk mengimbangi klub-klub yang dicap kolaborator NAZI itu, kaum komunis mendirikan klub baru. Namanya tak jauh-jauh dari identias komunis: FK Crvena Zvezda atau Red Star.

Partisan tak mau ketinggalan. Mereka juga membuat klub sepak bola sendiri. Namanya: Fudbalski klub Partizan (FK Partizan). Tak mau kalah dengan Red Star, FK Partizan juga punya bintang merah di logonya, meski tidak mencolok.

Pelan tapi pasti, kedua klub ini berkembang, baik di liga domestik maupun Eropa. Mereka juga yang kerap mewakili Yugoslavia di ajang Liga Champion.

Tahun 1991, setahun sebelum bubarnya Yugoslavia, Red Star berhasil merebut trofi tertinggi antar klub di Eropa: Piala Eropa, yang sekarang bernama Liga Champion. Inilah prestasi tertinggi klub ini sepanjang sejarah.

Dejan Stanković, bintang sepak bola Serbia yang pernah memperkuat Lazio dan Inter Milan, pernah membela Red Star selama 3 tahun.

Sayang, di penghujung 1980-an, Yugoslavia dikoyak oleh pasang nasionalisme etnik. Setelah dikoyak perang dan konflik etnik, Yugoslavia bubar tahun 1992. Sempat bersama Montenegro, sebagai negara persemakmuran, Serbia menjadi Negara sendiri tahun 2006.

Di masa konflik itu, Red Star dan Partizan tidak lolos dari bangkitnya nasionalisme etnik Serbia. Situasi itu paling dirasakan oleh Red Star. Beberapa kelompok suporternya, seperti Red Star Ultras, terkait dengan kelompok nasionalis garis keras Serbia.

Namun demikian, warisan komunis begitu kuat menancap dalam identitas Red Star. Sepanjang nama dan logo tak tergantikan, selama itu pula orang mengingat warisan komunisme.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut