Warga Tanah Merah Gelar Karnaval Multi-Etnis

Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu (FKTMB) kembali membuat gebrakan di Ibukota: sekitar 5 ribu-an masyarakat relawan FKTMB yang merupakan warga Tanah Merah, Plumpang, Jakarta Utara, melakukan karnaval dengan mengenakan pakaian adat daerah mereka masing-masing dan dengan mengarak sejumlah tumpeng sebagai wujud syukur mereka menjadi bagian dari kebhinekaan bangsa Indonesia. Mereka berjalan menyerupai arak-arakan Karnaval dari Tanah Merah menuju Koramil hingga jalan Yos Dudarso.

Menurut Ketua FKTMB, Muhammad Huda, acara ini bertujuan untuk membangun semangat kebhinekaan dan kegotongroyongan warga Tanah Merah yang multi etnis. “Selain menunjukkan semangat kebangsaan kami sebagai bagian bangsa Indonesia, dengan acara ini pula kami ingin menuntut hak kami sebagai warga Negara untuk ikut mencoblos pada Pemilukada 20 September mendatang,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Ahong ini menambahkan, sedekah bumi juga mereka maksudkan untuk tolak balak dalam menyambut “Jakarta Baru”. Seperti diketahui, kata dia, beberapa bulan ini santer kabar mengenai isu Suku, Agama, dan Ras (SARA) yang coba mengadu domba masyarakat Jakarta. “Meski status kependudukan kami belum diakui, kami bangga menjadi bangsa Indonesia dengan bukti komitmen kami untuk menjaga semangat Kebhinekaan Tunggal Eka sebagai falsafah Bangsa Indonesia dan dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Sebagai bangsa Indonesia yang memahami betul sejarah kebhinekaan bangsa ini, Ahong merasa perlu mengingatkan mereka yang ingin coba mengacuhkan hal itu. Dia menganggap isu SARA yang coba dimasifkan beberapa waktu terakhir sangat bertendensi dalam menghancurkan nilai-nilai pokok Bhinneka Tunggal Ika yang sudah menjadi akar Indonesia berdiri.

“Tanah merah di Jakarta Utara adalah sebuah miniatur kecil Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan budaya. Mulai dari Jawa, Sunda, Bugis hingga Batak. Mereka hidup rukun mendiami tanah merah selama puluhan tahun. Tetapi hingga kini kami tidak diakui sebagai masyarakat Jakarta. Buktinya, kami tak diberi kesempatan memiliki kartu tanda penduduk (KTP),” jelasnya.

Bahkan, kata dia, warga Tanah Merah merasa geram ketika ada statemen salah satu calon Gubernur DKI Jakarta yang mengatakan bahwa Jakarta hanya boleh didiami oleh orang Betawi saja. Ia menganggap statemen itu merupakan statemen yang tidak memiliki landasan kebangsaan sedikitpun.

Sementara itu, Purwanto, sekretaris Komite Pimpinan Wilayah- Partai Rakyat Demokratik (KPW PRD) DKI Jakarta menambahkan, Jakarta adalah Ibukota Negara Indonesia. Tentu saja, Jakarta adalah bagian dari bangsa ini. “Orang Indonesia mana yang tidak boleh tinggal di Jakarta? Di negerinya sendiri. Justru, mereka yang merasa berhak mengusir kami dari tanah air kami sendiri itu yang harusnya menyingkir,” tegasnya.

Arif Fachruddin

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut