Wakil Rakyat Bukan Paduan Suara

Kita harus berterima kasih kepada Iwan Fals atas lagunya “Surat Buat Wakil Rakyat”. Lagu itu benar-benar menggambarkan kebiasaan anggota parlemen kita: datang, duduk, dan tidur. Tetapi ada satu hal yang lebih menarik lagi: kecenderungan wakil rakyat untuk menjadi—maaf–“paduan suara”.

Sejarah parlemen kita, terutama sejak jaman orde baru, memang sangat mirip paduan suara: ada banyak parpol di parlemen, tetapi mereka berpadu—dengan bantuan dirigen—menjadi satu bunyi yang serasi, harmonis, dan teratur. Kalaupun ada oposisi, maka kita sudah akrab dengan istilah oposisi loyal: mengaku berada di luar pemerintahan, tetapi loyal terhadap pemerintah berkuasa.

Tadi malam (14/3/2012), bertempat di kediaman Presiden SBY, di Cikeas, partai-partai pendukung pemerintah dikumpulkan. Meski tidak disebutkan agendanya secara eksplisit, tetapi jelas bahwa pertemuan dimaksudkan untuk membahas rencana kenaikan harga BBM. Dengan pertemuan itu, partai-partai pendukung pemerintah diharapkan “satu suara” dalam mendukung kenaikan harga BBM.

Maklum, di barisan partai pendukung pemerintah, masih ada yang ragu bahkan menyatakan menolak kenaikan harga BBM. PKS, misalnya, sudah menyatakan sikap menolak kenaikan harga BBM itu. Sedangkan parpol pendukung SBY lainnya belum memperlihatkan sikap jelas.

Sementara itu, dua partai oposisi, yakni PDIP dan Hanura, sudah tegas menyatakan menolak kenaikan harga BBM. Sedangkan di luar parlemen, seperti biasanya, gerakan “massa” sudah punya sikap yang lebih tegas: BBM Naik, SBY-Budiono Turun!  Ketegasan sikap semacam ini hampir menjadi pendirian semua organisasi massa dan pergerakan yang menolak kenaikan harga BBM.

Aspirasi umum massa rakyat juga sudah jelas: mereka menolak kenaikan harga BBM. Sebab, sudah pasti kenaikan itu akan “menambah” sulit kehidupan rakyat: kenaikan harga sembako, kenaikan tariff transportasi, kenaikan biaya produksi usaha kecil dan menengah, dan lain-lain.

Kembali ke lagu Iwan Fals, Surat Buat Wakil Rakyat, kita berharap agar parpol tidak menjadi paduan suara. Sebab, seperti dikatakan Iwan, wakil rakyat itu dipilih bukan dilotre, dan di kantong safari mereka dititipkan masa depan kami (Rakyat) dan negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

Di jaman Volksraad—parlemen buatan kolonial—saja, riuh perdebatan masih terdengar. Meskipun, pada akhirnya, Volksraad hanya punya kewenangan yang sangat terbatas di hadapan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Tetapi para wakil pergerakan di Volksraad masih sering bersuara keras dan mengeritik pemerintah kolonial.

Sekarang, di era yang katanya demokratis, panggung parlemen justru sepi dengan perdebatan-perdebatan politik. Yang paling sering kita dengar adalah debat-debat tidak bermutu, kadang juga sembunyi-sembunyi, tentang bagi-bagi kekuasaan dan pembagian pundi-pundinya.

Dengan demikian, tidak sepantasnya partai politik menghianati rakyat. Bahkan, seharusnya, jika pemerintah menghianati rakyat, maka parpol mestinya berdiri di garda depan untuk menuntut “impeachment”. Apalagi, kenaikan harga BBM ini sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Seorang anggota parlemen, terlepas dari apapun pandangan politiknya, harus tunduk pada UUD (Undang-Undang Dasar). Bukannya tunduk pada UUD yang lain: Ujung-Ujungnya Duit.

Kita juga berharap agar partai-partai yang menolak kenaikan harga BBM tidak bertindak pasif. Sebab, seperti dikatakan Soekarno, bapak pendiri bangsa kita, perkataan saja tidak cukup untuk mengubah keadaan. Sebab, sebuah perkataan tanpa tindakan hanyalah lip-service belaka. Dan, kita sudah sangat kenyang dengan lip-service elit-elit politik dan birokrat bangsa ini. Sekarang yang diperlukan adanya menyatunya ucapan dan perbuatan.

Rakyat Indonesia sangat merindukan sebuah partai yang tidak sekedar datang menawarkan kaos dan bendera menjelang pemilu. Tetapi, lebih penting dari itu, rakyat juga berharap agar partai hadir itu dengan membawa kaos, bendera, dan sekaligus “meghaphone” di saat rakyat ditindas oleh kebijakan penguasa. Dan, jadilah partai sebagai alat perjuangan rakyat!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut