Wahida, Meniti Jalan Pembebasan Rakyat

Suatu hari di tahun 1998, sekitar pukul 20.00 WITA, sekumpulan pemuda sedang berdiskusi di sebuah rumah di Jalan Sunu, Makassar. Diskusi mendadak terhenti lantaran kedatangan seorang ibu, yang meminta agar anaknya yang menjadi peserta diskusi untuk segera pulang.

Ya, Ibu itu baru saja didatangi oleh Kaditsospol, yang memberitahukan kepadanya perihal keterlibatan anaknya dalam aktivitas “gerakan komunis”. Si anak kemudian dipertemukan dengan Kaditsospol dan mendapatkan siraman rohani. Pada intinya, Si Anak ini dituding terlibat aktivitas “gerakan komunis”.

Anak itu bernama Wahida Baharuddin Upa, aktivis yang terlibat dalam perjuangan melawan rejim orde baru. Sementara rumah tempat diskusi itu adalah sekretariat Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai radikal dan progressif yang sangat gagah berani melawan kediktatoran orba.

Diskusi malam itu membahas soal situasi nasional dan solidaritas untuk perjuangan rakyat Timor Leste. Saat itu, Ida (sapaan akrab Wahidah) belum tahu menahu mengenai komunisme, dan yang diketahuinya bahwa ia sedang berjuang melawan rejim orde baru.

“Ya, saat itu, saya hanya tahu komunis itu dari buku pelajaran sekolah. Dalam fikiran saya, komunis itu pernah melancarkan berkali-kali kudeta,” kenang Wahida.

*****

Ida sudah menyumbangkan sebagian besar hidupnya untuk meniti perjuangan pembebasan rakyat. Pada awalnya, menurut pengakuannya, dia terlibat gerakan karena tidak tega melihat perlakuan diskriminatif terhadap keluarganya.

“Bapak saya dipukuli orang, tapi kok kakak saya yang ditahan,” ujarnya. Sejak kejadian itu, dia terus bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi; mengapa kebenaran bisa dikalahkan oleh kejahatan?

Pada tahun 1992, Wahida masuk dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang saat itu masih dipimpin oleh Suryadi. Wahida menganggap pengalaman ini sebagai awal dari perkenalannya dengan kehidupan politik.

Namun, seperti pepatah yang berkata; “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, Wahida mengaku mendapatkan inspirasi sangat besar dari kedua orang tuanya, terutama sekali bapaknya.

“Ada banyak ajaran moral dan prinsip kehidupan yang diajarkan bapak saya. Ini saya pegang sampai hari ini,” ungkapnya.

Bapaknya pernah berkata, “Jika ingin menjadi seorang manusia, maka harus memanusiakan manusia.” Ya, sebuah pesan yang pernah diucapkan pula oleh seorang demokrat radikal Belanda, Multatuli.

Dari PDI menjadi aktvis PRD

Menjadi aktivis PDI di jaman orde baru bukanlah pilihan yang enak, anda harus berhadapan dengan intimidasi dan terror, apalagi sejak meletus kejadian tanggal 27 Juli tahun 1996.

Efek 27 juli sampai juga di Makassar. Di kota ini, Ida dan kawan-kawan seperjuangan di PDI, karena membela Megawati, merasakan perlakuan kasar aparat TNI (saat itu, ABRI). Aparat militer silih berganti mendatangi kantornya dan memaksa mereka untuk meninggalkan PDI.

“Kami dipaksa meninggalkan partai. Tapi kami tidak bergeming. Kebenaran harus diperjuangkan sampai akhir,” begitu tekad Wahida saat itu.

Saat itu, selain PDI yang dipersoalkan, Wahida juga mendengar soal aktivis PRD yang menjadi “kambing hitam” peristiwa 27 Juli 1996, dan seluruh aktivisnya dikejar-kejar rejim orde baru.

Saya terus menyimak berita mengenai PRD di Televisi dan media cetak. Saya ingin mencari tahu, siapa orang-orang PRD yang begitu gagah berani mau melawan rejim orde baru.

Suatu hari, karena berbagai tekanan dan terror, Wahida dan beberapa orang kawan-kawannya ditugaskan ke Kota Palu, Sulawesi Tenggara. Alhasil, tidak disangka-sangka, Wahida bertemu aktivis-aktivis PRD di sana. Dua orang yang dikenalnya saat itu: Rasidi dan Agus Dandan.

Maklum, kota Palu sudah menjadi salah satu kota perlawanan di Sulawesi dan saat itu sedang dideklarasikan berdirinya PRD di sana.

Kedua orang itulah yang pertama sekali mengajak Wahida untuk bergabung dengan PRD. “Kedua kawan itu sangat mempengaruhi saya, hingga akhirnya saya memilih bergabung dengan PRD.”

Hilir Mudik membangun organisasi Rakyat

Sejak bergabung dengan PRD, Wahida merasa sudah menemukan jalan yang sebenar-benarnya dalam perjuangannya. Dia mulai hilir mudik membangun gerakan rakyat di Sulawesi Selatan, bersama dengan kawan-kawannya yang lain saat itu: Al Ilyas Akbar (almarhum), Alim Israk, Bahri Taha (Edo), M Abduh, Muhammad Nasrullah (Baul), dan masih banyak lagi.

Bersama kawan-kawannya itulah, Wahida mendirikan Serikat Perjuangan Buruh Makassar (SPBM), dimana ia ditunjuk sebagai ketuanya. Sebelumnya, telah berdiri pula organisasi mahasiswa radikal, yaitu Serikat Mahasiswa Makassar (SMM).

Setahun setelah berdirinya SPBM, organisasi buruh ini kemudian melebur menjadi Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) melalui sebuah kongres. Selepas dari SPBM, Wahida mulai mengorganisasi pemuda-pemuda di kampung-kampung, terutama di kawasan Paropo, Makassar. Berdirilah Persatuan Pemuda Paropo Makassar, yang kemudian menjadi embrio Gerakan Pemuda Kerakyatan (GPK).

Pada tahun 2004, GPK melebur menjadi Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK), yang kemudian pada tahun 2008, di kongresnya di Sukabumi, berubah nama lagi menjadi Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).

Salah satu pengalaman paling berkesan di SRMI, menurut Wahida, adalah ketika mengintervensi program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Saat itu, meskipun secara politik dirinya menolak kenaikan BBM, namun ia melihat potensi perluasan organisasi melalui advokasi penerima BLT.

“Saat itu, rakyat yang mendatangi posko-posko kami. Dari situ, kami berhasil merekrut banyak sekali anggota dan memperluas struktur hingga ke RT-RW,” katanya.

Program BLT adalah semacam program sosial neoliberal, yang tujuannya untuk menjaring sektor paling miskin di masyarakat, dan dengan demikian bisa mencegah potensi krisis politik atau perlawanan.

Untuk menjalankan program ini, administrator menggunakan cara pertargetan, yaitu menyeleksi kelompok penerima yang paling rentan. Di sinilah pintu masuknya gerakan sosial, yaitu memperluas cakupan program ini dengan melakukan mobilisasi politik.

Sejak saat itu, Wahida semakin yakin bahwa gerakan rakyat harus berani masuk dalam arena politik dan mulai bertindak dalam struktur-struktur yang ada dengan tujuan mengubahnya.

Perjuangan masih panjang

Wahida, yang sekarang ini dikaruniai seorang putri yang lucu, Nayla namanya, mengaku bahwa perjuangan ini akan berlangsung sangat panjang dan penuh rintangan.

Berbeda dengan kebanyakan aktivis yang harus pergi dari panggung gerakan karena telah menikah dan berkeluarga, Wahida malah menganggap keluarga sebagai pematangan jiwa seorang aktivis gerakan rakyat.

Suaminya, Petrus Pice Jehali, adalah juga aktivis PRD dan sekarang menjadi seorang pengacara yang bekerja untuk kaum miskin. Tradisi “revolusioner” telah tertanam sangat kuat dalam keluarga kecil mereka.

Karena itulah, terkadang dalam dinamika internal partai, Wahida menganjurkan untuk memperkuat pesaudaraan, perkawanan, dan solidaritas. Tidak jarang, dia terkekeh-kekeh ketawa dengan kawan-kawannya dalam rapat organisasi.

“Kami terkadang suka ketawa, bung. Itulah salah satu cara mencairkan suasana saat perdebatan dan sekaligus menjaga keakraban antar sesama kawan,” katanya.

Sosok Pemberani

Dulu, jaman perjuangan melawan kolonialisme Belanda, kaum perempuan memperlihatkan keberanian dengan mengangkat senjata melawan kolonialis Belanda.

Sekarang ini, Wahida adalah salah satu contoh perempuan pemberani di jaman modern, yang tidak kenal takut sedikitpun ketika memperjuangkan sesuatu.

Suatu hari di tahun 1999, saat seratusan massa dikepung oleh barikade PHH yang dibantu Kamra (keamanan rakyat) di kantor DPRD Sulsel, Wahida dengan penuh keberaniannya memimpin massa yang sudah terkepung tersebut.

Rudi Hartono, salah seorang demonstran saat itu, mengisahkan kekagumannya pertama kali terhadap para aktivis PRD, terumata sekali perempuan bernama Wahida.

“Kami dilempar seperti binatang dari lantai atas gedung DPR. Dia (Wahida) menjadi sasaran empuk keroyokan aparat,” kenang Rudi.

Ini kembali terjadi saat demonstrasi menghadang Presiden Megawati, sekitar tahun 2003, saat melakukan kunjungan ke Makassar. Demonstran memaksa masuk ke lokasi bandara Hasanuddin Makassar, dan segera terlibat bentrok dengan pasukan keamanan.

Wahida menjadi sasaran pukulan rotan dan kayu berkali-kali, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit. Hanya saja, berbagai peristiwa itu tidak menyurutkan semangatnya, malah semakin mempertebal keyakinan politiknya.

Perjuangan Perempuan

Meski tidak secara simplistis menyebut diri sebagai feminis, namun Wahida punya mimpi tersendiri mengenai kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia.

SRMI, organisasi dimana ia menjadi ketua wilayah, telah menghimpun massa yang sebagian besar kaum perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga. Melalui diskusi regular di kampung-kampung, beberapa ibu-ibu telah tampil menjadi pemimpin organisasi yang handal.

“Sekarang pemimpin-pemimpin SRMI adalah ibu-ibu dari basis. Mereka juga menjadi orator-orator saat aksi,” ungkapnya.

Mengenai persoalan terbesar kaum perempuan, Wahida menunjukkan bahwa persoalan terbesar ada pada tiga pokok persoalan, yaitu pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan.

Di Makassar misalnya, karena sebagian besar ibu-ibu adalah tamatan SD/SMP, maka ada kesulitan dalam mendorong maju kesadaran mereka.

Meski begitu, Wahida mengakui, peranan pendidikan dan kursus politik telah mengangkat kesadaran kaum perempuan itu dengan pelan-pelan.

“Kita buat diskusi regular, rapat akbar di kampung-kampung, kursus politik, dan sebagainya. Itu berhasil mengangkat kesadaran mereka, selain faktor pengalaman sosial yang sangat menentukan,” ujarnya.

Untuk membangunkan kembali gerakan perempuan, Wahida dan sejumlah aktivis perempuan dari organisasi lain sedang merancang berdirinya kelompok diskusi perempuan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • udin

    Sosok yang berani, keras kepala & tulus dlm berjuang demi kemanusiaan, sosok yang tidak pernah saya lupakan dlm kehidupan ini….!!!
    Ewako…Ewako…Ewako… SRMI…!!!
    Terus berjuang bung…
    n SALAM PEMBEBASAN suatu kata yang sering kau ucapkan dulu waktu mengorganisir kami.

  • yusuf

    hidup prd
    hidup wahida
    hidup rakyat
    hidup SRMI

  • hardodi

    hidup rakyat……..
    hidup rakyat……..
    hidup rakyat……..
    wahida adalah orang yang pertama kali membuka cakrawala berfikiir saya akan kekejaman dan ketidak adilan, serta perampasan hak-hak rakyat.
    pertama kali saya melihat wahida pada phn 2009 / 12/09.pas hari anti korupsi se dunia,waktu itu saya baru menginjakan kaki d dunia kampus.pada tgl 9/12/2009 wahida memipin ratusan masa demonstran.sepulang dr demontran itu saya langsu bergabung di LMND dan bertemu dgn wahida.wahida sebagai toko ispirator saya.
    banyak hal yang saya dapatkan dari beliau.
    intinya wahida adlah sosok yang luar biasa.
    hidup rakyat..
    hidup srmi…
    hidup kawan wahida..

  • jojo

    Sangat menakjubkan sosok perempuan seperti ibu wahida.
    Di tengah kerasnya perjuangan politik, beliau tetap bertahan. Ini membuktikan wanita juga bisa bergerak untuk perubahan.
    Hidup kaum wanita..
    Hidup PRD..
    Jaya selalu SRMI..!!