Selama puluhan tahun, komunisme sering dipersepsikan identik dengan ateisme dan penolakan terhadap agama. Karena itu, banyak orang mengira negara komunis pasti melahirkan masyarakat yang jauh dari kehidupan spiritual. Namun, Vietnam menghadirkan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Meski dipimpin oleh Partai Komunis Vietnam sejak 1975, kehidupan religius masyarakat justru tetap tumbuh, hidup, dan menjadi salah satu pilar terpenting dalam pembentukan karakter bangsa.
Siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Vietnam akan segera merasakan suasana itu. Sejak fajar menyingsing, pagoda dipenuhi umat yang datang berdoa. Setiap hari Minggu, gereja-gereja Katolik dipadati keluarga yang mengikuti Misa. Saat Natal, ribuan orang memadati Katedral Santo Yosef di Hanoi maupun gereja-gereja di Kota Ho Chi Minh. Di hampir setiap rumah, altar penghormatan kepada leluhur berdiri sebagai simbol bahwa keluarga, sejarah, dan spiritualitas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Di Vietnam, agama bukan sekadar identitas administratif, melainkan napas kehidupan sehari-hari.
Fakta pun mendukung gambaran tersebut. Vietnam secara resmi mengakui 16 agama dengan puluhan organisasi keagamaan yang terdaftar. Lebih dari 27 juta penduduk tercatat sebagai pemeluk agama. Jumlah itu belum mencakup jutaan warga yang dalam sensus tidak mencantumkan agama tertentu, tetapi tetap menjalankan penghormatan kepada leluhur, berziarah ke pagoda, menghadiri perayaan keagamaan, dan memelihara tradisi spiritual yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, kategori “tidak beragama” di Vietnam tidak dapat disamakan dengan tidak memiliki keyakinan atau kehidupan spiritual.
Keunikan Vietnam terletak pada kemampuannya membedakan antara ideologi negara dan budaya masyarakat. Sistem politik mengatur tata kelola negara, tetapi jiwa bangsa dibentuk oleh peradaban yang telah berusia ribuan tahun. Ajaran Buddha, Konfusianisme, Taoisme, Katolik, Cao Dai, Hoa Hao, dan tradisi penghormatan kepada leluhur berpadu membentuk nilai-nilai tentang hormat kepada orang tua, disiplin, kesederhanaan, kerja keras, pengorbanan, solidaritas, dan cinta tanah air. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal sosial penting dalam perjalanan pembangunan Vietnam.
Komunitas Katolik Vietnam menjadi contoh yang sangat menarik. Dengan sekitar tujuh juta umat, Vietnam memiliki salah satu komunitas Katolik terbesar di Asia. Gereja-gereja dipenuhi umat, panggilan menjadi imam dan biarawan terus bertambah, seminari berkembang, dan kehidupan menggereja berlangsung dinamis. Di banyak paroki, semangat kaum muda untuk terlibat dalam pelayanan juga sangat tinggi. Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang pesat tidak otomatis menggerus kehidupan beriman.
Tentu, hubungan antara negara dan agama di Vietnam bukan tanpa dinamika. Berbagai organisasi internasional masih mencatat adanya regulasi dan pembatasan terhadap sebagian aktivitas organisasi keagamaan. Namun di sisi lain, realitas sosial memperlihatkan bahwa agama tetap hidup sebagai kekuatan moral yang membentuk etika masyarakat, mempererat keluarga, serta menjaga kesinambungan budaya bangsa.
Vietnam akhirnya memberikan pelajaran yang menarik bagi dunia. Ideologi politik ternyata tidak selalu menentukan kualitas spiritual masyarakat. Negara dapat memiliki sistem politik tertentu, tetapi hati manusia tetap dibentuk oleh keluarga, budaya, tradisi, dan iman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Justru ketika nilai-nilai religius mampu berjalan berdampingan dengan semangat bekerja, disiplin, pendidikan, dan cinta tanah air, lahirlah masyarakat yang tidak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga memelihara akar moralnya.
Vietnam membuktikan bahwa modernitas tidak harus mengorbankan spiritualitas. Di negeri itu, komunisme menjadi sistem pemerintahan, sementara religiositas tetap hidup sebagai jiwa masyarakat. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan terbesar Vietnam hari ini: bukan sekadar keberhasilan membangun ekonomi, melainkan keberhasilannya menjaga iman, budaya, dan identitas bangsa agar tetap bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.
Budi Prasetyo Hadi, Penulis merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial RI


