Perang Panjang Venezuela versus ExxonMobil

Lima hari lalu, kabar baik datang dari Venezuela. Negara kaya minyak itu baru saja meraih kemenangan penting dalam sengketa melawan raksasa minyak dari Amerika Serikat, ExxonMobil.

Putusan baru Panel Arbitrase Bank Dunia membatalkan putusan International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) pada tahun 2014 yang mewajibkan Venezuela membayar 1,6 milyar USD ke ExxonMobil sebagai konpensasi atas nasionalisasi aset mereka di Cerro Negro.

“Kami sangat yakin posisi kami benar dan sangat senang bahwa Komite Pembatalan menyetujuinya,” kata pengacara yang mewakili pemerintah Venezuela, George Kahale, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/3/2017).

Memang belum ada kejelasan soal putusan baru ini. Sebab, sebagaimana dilansir oleh website ICSID pada hari Kamis (93/3), putusan baru itu hanya membatalkan “sebagian” dari putusan Arbitrase di tahun 2014.

Namun demikian, kemenangan ini disambut gembira oleh pemerintah Venezuela. Bagi Venezuela, ini merupakan kemenangan kedua mereka di gelanggang peperangan lewat jalur hukum melawan ExxonMobil.

Perang ini sendiri bermula di tahun 2007 lalu. Saat itu Presiden Venezuela Hugo Chavez memulai langkah revolusioner untuk mengembalikan kedaulatan Venezuela atas sumber daya alamnya, terutama minyak.

Saat itu pemerintah Venezuela siap membayar kompensasi sesuai nilai riil asetnya. ExxonMobil tidak setuju. Perusahaan yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat itu menuntut pemerintah Venezuela membayar nilai asetnya sesuai harga pasar.

Di situlah sengketa itu bermula. Dari 22 perusahaan yang asetnya diambil alih oleh pemerintah Venezuela, hanya dua yang memilih melawan: ExxonMobil dan ConocoPhilips. Sisanya memilih bernegosiasi nilai kompensasi dengan pemerintah.

ExxonMobil kemudian menggunakan jalur Arbitrase Internasional. Awalnya, Chavez menolak upaya ExxonMobil itu. Dia berdalih, perusahaan minyak raksasa asal AS itu menggunakan perjanjian bisnis yang tidak adil di masa lalu untuk mengeruk kekayaan minyak Venezuela.

Tetapi proses Arbitrase tetap jalan. Pada Oktober 2014, ICSID memutuskan Venezuela harus membayar kompensasi sebesar 1,6 milyar USD kepada ExxonMobil. Keputusan ini disambut sebagai kemenangan oleh Venezuela. Pasalnya, nilai 1,6 milyar USD itu jauh lebih kecil dari tuntutan ExxonMobil sebesar 10 milyar USD.

Yang lebih penting lagi, putusan ICSID secara tidak langsung membenarkan aksi nasionalisasi Chavez. Setidaknya, yang diperdebatkan dalam sengketa hanya soal nilai aset yang harus dikompensasi.

Di bulan Maret 2015, ICSID juga mengeluarkan putusan menguntungkan buat Venezuela dalam sengketa dengan perusahaan transportasi laut lepas pantai, Tidewater. Tahun 2009, Venezuela mengambilalih 11 kapal perusahaan ini. Venezuela hanya dikenai kewajiban kompensasi yang lebih kecil dari tuntutan perusahaan asal AS itu.

Langkah nasionalisasi bukan hal tabu di Venezuela. Tahun 1970, ketika harga minyak dunia melambung tinggi, negara berpenduduk 30 juta ini juga menasionalisasi perusahaan minyak.

Sayang, di tahun 1990-an, ketika Venezuela diperintah rezim neoliberal, pelan-pelan semua perusahaan itu berpindah ke tangan swasta melalui agenda privatisasi.

Begitu berkuasa di tahun 1999, Chavez melihat minyak sebagai kunci bagi pemulihan ekonomi negeri itu. Dengan nasionalisasi, Venezuela bukan hanya berdaulat, tetapi juga berhasil memastikan keuntungan dari energi fosil itu masuk ke kantong negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyatnya.

Tetapi perjuangan Venezuela di meja Arbitrase masihlah panjang. Saat ini masih ada 20 kasus sengketa pemerintah Venezuela dan perusahaan asing di ICSID, termasuk kasus Tidewater dan Air Canada.

Pemerintah Venezuela juga tengah bertempur dengan perusahaan asing di pengadilan AS. Termasuk dengan perusahaan tambang  Crystallex dan Rusoro.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut